EDUCARE.CO.ID – Sastra tetap memegang peran penting meski teknologi digital dan kecerdasan buatan berkembang sangat cepat. Selain memperkuat karakter generasi muda, sastra juga menjaga martabat Bahasa Indonesia agar semakin dikenal di tingkat internasional.
Berdasarkan sumber Kemendikdasmen, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan pesan tersebut saat membuka Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Gedung Lembaga Wali Nanggroe, Banda Aceh.
Menurut Abdul Mu’ti, kehadiran ratusan penyair dari berbagai negara membuktikan bahwa karya sastra Indonesia memiliki daya tarik yang mampu melintasi batas budaya dan geografis. Sebanyak 228 peserta dari 14 negara mengikuti forum tersebut.
“PPN ke-14 menjadi ruang penting bagi penyair nusantara dan mancanegara untuk memperkuat jejaring sastra dan membangun kolaborasi kebudayaan lintas negara,” ujar Abdul Mu’ti.
Sastra Membentuk Karakter Generasi
Abdul Mu’ti menilai pendidikan tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Pendidikan juga harus menumbuhkan empati, kreativitas, imajinasi, dan kepedulian sosial.
Karena itu, sastra menjadi sarana penting untuk membantu peserta didik memahami keberagaman, menghargai perbedaan, serta membangun nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah perubahan zaman, karya sastra tetap relevan karena mampu menghadirkan ruang refleksi yang tidak tergantikan oleh teknologi.
Aceh Jadi Tuan Rumah karena Tradisi Sastranya
Panitia memilih Aceh sebagai lokasi penyelenggaraan PPN XIV karena daerah ini memiliki sejarah panjang sebagai pusat perkembangan sastra Melayu Nusantara.
Selain dikenal sebagai Serambi Mekkah, Aceh juga melahirkan banyak tokoh intelektual yang memberi kontribusi besar terhadap perkembangan sastra dan budaya Indonesia.
Melalui forum tersebut, para penyair memperoleh ruang untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, sekaligus memperkuat jejaring sastra lintas negara.
Bahasa Indonesia Terus Menguat di Tingkat Internasional
Abdul Mu’ti juga mengajak masyarakat menghidupkan konsep Trigatra Bangun Bahasa, yaitu mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
Ia menjelaskan bahwa pengakuan Bahasa Indonesia di berbagai forum internasional, termasuk UNESCO, tidak terlepas dari kontribusi para penyair dan sastrawan yang terus menghasilkan karya berkualitas.
Oleh sebab itu, Kemendikdasmen terus memperkuat berbagai program yang mendukung perkembangan sastra nasional.
Kemendikdasmen Perluas Ekosistem Sastra
Kemendikdasmen menghadirkan berbagai program untuk memperkuat ekosistem sastra di Indonesia. Pemerintah menerbitkan majalah sastra nasional Liris, memberikan penghargaan kepada para sastrawan, serta memperluas dukungan bagi komunitas sastra di berbagai daerah.
Langkah tersebut bertujuan membuka ruang berkarya bagi guru, murid, dan pegiat sastra agar budaya literasi terus berkembang.
Sekolah Bangun Budaya Literasi
Pada pembukaan PPN XIV, Abdul Mu’ti memberikan penghargaan kepada Kepala UPTD SDN 1 Bireuen, Ainiah, karena berhasil membangun budaya literasi di sekolah.
Program literasi mingguan yang dijalankan sekolah memberi kesempatan kepada murid untuk membaca puisi, mendongeng, dan bercerita secara rutin. Kegiatan tersebut turut mengantarkan peserta didik meraih prestasi pada Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N).
PPN XIV mengusung tema “Puisi untuk Kemanusiaan, Dari Diksi ke Aksi.” Forum tersebut tidak hanya mempertemukan para penyair, tetapi juga memperkuat komitmen untuk menjadikan sastra sebagai investasi budaya yang membentuk karakter generasi muda.
Kemendikdasmen berharap kolaborasi yang lahir melalui forum tersebut mampu memperluas perkembangan sastra Indonesia sekaligus memperkokoh posisi Bahasa Indonesia di panggung dunia.





