Komdigi Berbagi Buku, Menjaga Nyala Literasi dari Rokan Hulu

Must read

EDUCARE.CO.ID – Di tengah derasnya arus konten digital dan kebiasaan anak-anak yang semakin akrab dengan gawai, sebuah rumah baca sederhana di Rokan Hulu, Riau, justru menjadi ruang tumbuhnya harapan literasi. Rumah Baca Nina yang digagas Nirma Herlina hadir sebagai tempat anak-anak kembali mengenal buku, membangun imajinasi, dan belajar berpikir kritis. Bagi Nirma, membaca bukan sekadar kebiasaan, melainkan kebutuhan penting bagi perkembangan anak. “Baca buku itu nutrisi otak. Kalau tidak membaca, otak seperti tidak diberi gizi,” ujarnya, kalimat sederhana yang kini menjadi semangat gerakan literasi di daerahnya.

Upaya tersebut mendapat dukungan dari Program Komdigi Berbagi Buku yang dijalankan Perpustakaan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Pada Maret 2026, sebanyak 53 judul buku dengan total 64 eksemplar disalurkan ke Rumah Baca Nina untuk memperkaya koleksi bacaan bagi anak-anak dan masyarakat sekitar. Program ini bukan sekadar donasi buku, tetapi menjadi langkah nyata memperluas akses literasi di tengah tantangan rendahnya budaya baca dan tingginya konsumsi informasi digital tanpa pendampingan yang memadai.

Rumah Baca Nina sendiri telah berdiri sejak 2017. Berawal dari kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, gerakan kecil itu perlahan berkembang menjadi pusat aktivitas literasi masyarakat. Kini, Rumah Baca Nina tidak hanya menjadi tempat meminjam buku, tetapi juga ruang belajar bersama yang menghadirkan berbagai kegiatan edukatif seperti membaca ekspresif, pelatihan menulis kreatif, pendampingan karya tulis siswa, hingga dongeng untuk anak dan orang tua. Bahkan, program literasi di tempat ini telah terintegrasi dengan kegiatan sekolah, di mana siswa didorong membaca sedikitnya enam buku setiap tahun dan menghasilkan karya tulis sebagai bagian dari pembelajaran.

Tidak berhenti pada literasi baca tulis, Rumah Baca Nina juga aktif mengedukasi masyarakat tentang literasi digital. Anak-anak dan orang tua diberikan pemahaman mengenai etika bermedia, cara mengenali hoaks, hingga penggunaan internet yang sehat. Langkah ini sejalan dengan kampanye Digital Detox yang terus digaungkan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, untuk mendorong keseimbangan antara penggunaan teknologi dan aktivitas literasi. Menariknya, pengelola Rumah Baca Nina juga menggunakan pendekatan “jemput bola” dengan membuka lapak baca di ruang publik serta menyebarkan edukasi melalui siaran radio lokal agar budaya membaca semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Meski menghadapi tantangan seperti keterbatasan sumber daya, menurunnya konsistensi pengunjung, hingga risiko kehilangan buku, semangat penggerak Rumah Baca Nina tetap menyala. “Kalau buku tidak ada di rak, berarti sedang dibaca,” kata Nirma dengan optimisme yang terus dijaganya. Kalimat itu menjadi pengingat bahwa gerakan literasi besar sering kali lahir dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Di tengah banjir informasi digital, kehadiran ruang baca seperti Rumah Baca Nina menjadi benteng penting untuk menjaga budaya baca, membangun kemampuan berpikir kritis, serta membantu masyarakat lebih bijak dalam menyaring informasi di era digital.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article