Kemenag Bahas Peta Jalan Pengembangan Pesantren, Arahkan ke Konsep New Baitul Hikmah

EduNews EduSchool

EDUCARE.CO.ID, Bandung – Kementerian Agama (Kemenag) tengah menyusun peta jalan pengembangan pesantren masa depan melalui penguatan kelembagaan Direktorat Jenderal Pesantren (Ditjen Pontren). Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk menjadikan pesantren sebagai pusat ilmu dan peradaban berbasis nilai keislaman.

Hal tersebut disampaikan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam kegiatan finalisasi konsep Ditjen Pontren melalui penyusunan buku “Pesantren Menuju New Baitul Hikmah” di Bandung.

Ditjen Pesantren Punya Peran Lebih Mendalam

Menag menegaskan bahwa pembentukan Ditjen Pesantren tidak sekadar restrukturisasi organisasi, melainkan langkah strategis untuk memperkuat arah pendidikan pesantren.

Menurutnya, selama berada di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis), pesantren berfungsi sebagai jembatan antara pendidikan umum dan pendidikan keislaman. Namun ke depan, peran tersebut akan diperdalam.

“Kalau di Pendis lebih sebagai jembatan, maka di pesantren harus lebih dalam dan lebih runcing. Ada aspek hakikat, makrifat, dan pendalaman ilmu yang tidak dimiliki pendidikan umum,” ujarnya.

Bangun Fondasi Keilmuan yang Kuat

Dalam penyusunan peta jalan ini, Kemenag menekankan pentingnya penguatan kerangka keilmuan pesantren, yang mencakup:

  • Ontologi (hakikat ilmu)
  • Epistemologi (cara memperoleh ilmu)
  • Aksiologi (manfaat dan nilai ilmu)

Menag menegaskan bahwa arah pengembangan pesantren harus berbasis body of knowledge yang jelas dan tidak hanya mengandalkan asumsi.

“Yang kita susun ini untuk men-direct masa depan. Harus dibangun dengan referensi dan kerangka keilmuan yang kuat,” tegasnya.

Konsep New Baitul Hikmah Jadi Acuan

Pengembangan pesantren ke depan mengacu pada konsep Baitul Hikmah, pusat ilmu pengetahuan pada masa kejayaan Islam di era Abbasiyah.

Konsep New Baitul Hikmah diharapkan mampu mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan modern, sehingga pesantren menjadi pusat pengembangan ilmu yang relevan dengan kebutuhan zaman.

BACA JUGA:  Animasi ‘Serangan Alien’ Karya Siswa MTsN 1 Pati Diganjar Medali Internasional

Penyusunan Peta Jalan 5–10 Tahun

Direktur Pondok Pesantren Kemenag, Basnang Said, menjelaskan bahwa penyusunan Ditjen Pontren dilakukan secara paralel antara pembentukan struktur kelembagaan dan penyusunan naskah akademik.

“Kami menyusun distingsi pesantren dari sisi ontologi, epistemologi, dan aksiologi, sekaligus merancang peta jalan pengembangan pesantren untuk 5 hingga 10 tahun ke depan,” jelasnya.

Peran Pesantren Lebih Luas: Pendidikan hingga Ekonomi

Menurut Basnang, kekuatan pesantren tidak hanya terletak pada pendidikan, tetapi juga mencakup:

  • Dakwah
  • Pemberdayaan ekonomi umat
  • Penguatan sosial masyarakat

Hal ini menjadi pembeda utama dibandingkan peran pesantren sebelumnya saat berada di bawah Ditjen Pendis.

Komitmen Negara Perkuat Pesantren

Peningkatan status Ditjen Pesantren dari eselon II menjadi eselon I menjadi bukti nyata komitmen negara dalam memperkuat peran pesantren sebagai pilar pendidikan dan pembangunan bangsa.

Dengan adanya peta jalan pengembangan pesantren, diharapkan pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan tradisional, tetapi juga mampu menjadi pusat ilmu, karakter, dan solusi bagi tantangan masyarakat modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *