197 Rumah Sakit di Jakarta Didorong Terlibat, Pemerintah Perkuat Pencegahan TBC

Must read

EDUCARE.CO.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat langkah pencegahan tuberkulosis (TBC) untuk mengejar target eliminasi pada 2030. Pemerintah kini mendorong rumah sakit dan Puskesmas agar lebih aktif memeriksa kontak erat pasien serta memperluas pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa pengobatan pasien saja belum cukup untuk menekan penularan TBC. Pemerintah juga perlu menjangkau orang-orang yang tinggal bersama pasien agar mereka segera menjalani pemeriksaan dan memperoleh terapi pencegahan sesuai kebutuhan.

Benjamin menyampaikan hal tersebut dalam acara Hospital Leadership for TB Elimination: Jakarta Menuju Eliminasi TBC 2030 di Ruang Pola, Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (28/10).

“Mengobati pasien yang sakit TB itu penting. Capaian pengobatan TB di Indonesia juga sudah sangat baik. Namun, kalau pencegahan melalui TPT dan pelacakan kontak erat tidak kita jalankan secara agresif, angka kasus TB tahun depan akan terus berulang,” ujar Benjamin.

Ia meminta setiap rumah sakit dan Puskesmas memastikan anggota keluarga pasien menjalani pemeriksaan. Petugas kesehatan juga perlu memberikan TPT kepada kontak serumah yang memenuhi kriteria medis untuk mencegah infeksi berkembang menjadi TBC aktif.

“Oleh karena itu, kita ubah paradigma berpikir kita. Setiap rumah sakit dan Puskesmas harus memastikan kontak serumah diperiksa dan mendapatkan TPT demi melindungi masa depan keluarga masyarakat,” tegasnya.

Indonesia Masih Hadapi Beban TBC yang Tinggi

Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mengendalikan TBC. Data global yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus TBC terbanyak.

Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TBC global. Setiap tahun, penyakit ini diperkirakan menyerang 1,08 juta orang dan menyebabkan 126.000 kematian.

Di DKI Jakarta, capaian pengobatan TBC telah menunjukkan perkembangan positif. Lebih dari 90 persen pasien yang teridentifikasi sudah memulai pengobatan. Namun, pemerintah daerah masih perlu meningkatkan upaya pencegahan, terutama melalui pemberian TPT kepada kontak serumah.

Saat ini, cakupan TPT bagi kontak serumah di Jakarta baru berkisar 40 persen. Angka tersebut menunjukkan masih banyak orang yang berisiko tertular dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Jakarta juga memiliki pola penemuan kasus yang berbeda dari sejumlah daerah lain. Sekitar 62–64 persen kasus TBC di Ibu Kota pertama kali teridentifikasi melalui rumah sakit. Kondisi ini membuat rumah sakit memegang peran penting dalam strategi penanggulangan TBC.

Karena itu, Kemenkes mendorong rumah sakit pemerintah, swasta, serta fasilitas kesehatan milik TNI/Polri untuk memperkuat koordinasi dengan Puskesmas. Kerja sama tersebut dapat membantu petugas menelusuri kontak erat dan memastikan pasien menjalani pengobatan sampai tuntas.

Kemenkes Siapkan 32 Portable X-Ray untuk Perluas Pemeriksaan

Untuk mempercepat penemuan kasus, Kemenkes memperkuat fasilitas diagnosis TBC di Jakarta. Pemerintah memastikan seluruh Puskesmas memiliki alat Tes Cepat Molekuler (TCM) yang membantu tenaga kesehatan mendeteksi penyakit tersebut.

Kemenkes juga menyiapkan 32 unit Portable X-Ray. Perangkat rontgen portabel ini memudahkan petugas melakukan pemeriksaan langsung di berbagai lokasi, termasuk kawasan permukiman padat penduduk.

Selain menyediakan peralatan diagnosis, pemerintah menjamin ketersediaan obat TPT secara gratis di rumah sakit pemerintah maupun swasta. Langkah ini diharapkan mempermudah masyarakat yang memenuhi kriteria medis untuk mengakses terapi pencegahan.

Berdasarkan sumber rilis Kementerian Kesehatan, TPT merupakan terapi obat bagi orang yang memiliki risiko tinggi atau kontak erat dengan pasien TBC aktif, tetapi belum mengalami penyakit TBC. Terapi ini bertujuan mencegah infeksi laten berkembang menjadi TBC aktif pada kemudian hari.

Melalui pemeriksaan kontak serumah dan pemberian TPT, pemerintah berupaya memutus rantai penularan sejak dini. Strategi tersebut juga membutuhkan dukungan tenaga kesehatan dan kader yang aktif menjangkau masyarakat.

Kader TB Jangkau Rumah Warga dan Dampingi Keluarga Pasien

Kader TBC bersama tim kesehatan memiliki peran penting dalam menemukan orang-orang yang berisiko tertular. Mereka dapat mendatangi rumah pasien untuk mendata anggota keluarga dan mengarahkan kontak erat menjalani pemeriksaan.

Petugas juga memberikan pendampingan selama proses pemeriksaan, termasuk pemeriksaan rontgen apabila diperlukan. Jika seseorang memenuhi kriteria, tenaga kesehatan dapat mengarahkan orang tersebut untuk menjalani TPT.

Pendekatan yang ramah dan penuh perhatian membantu keluarga memahami risiko penularan tanpa menimbulkan kecemasan berlebihan. Edukasi yang tepat juga mendorong masyarakat agar tidak ragu memeriksakan diri ketika memiliki riwayat kontak dengan pasien TBC.

Kehadiran kader di lingkungan warga turut memperkuat hubungan antara rumah sakit, Puskesmas, dan masyarakat. Dengan koordinasi yang baik, petugas dapat memastikan setiap kontak erat memperoleh informasi dan tindak lanjut sesuai kebutuhannya.

Pramono Anung Dorong 197 Rumah Sakit Terlibat

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta seluruh jaringan layanan kesehatan di Jakarta mengambil peran dalam percepatan eliminasi TBC. Ia menyoroti potensi 197 rumah sakit dan ratusan Puskesmas yang dapat mendukung program tersebut.

Pramono juga menekankan pentingnya akses layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat. Menurutnya, fasilitas kesehatan tidak boleh membatasi pelayanan hanya berdasarkan kepemilikan KTP Jakarta karena banyak warga dari daerah lain beraktivitas dan tinggal di kawasan metropolitan.

“Saya memberikan dukungan sepenuhnya agar pada 2030 eliminasi TB di Jakarta benar-benar bisa terwujud. Upaya ini tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Saya berharap kebijakannya tetap berlanjut meskipun terjadi pergantian kepemimpinan,” ujar Pramono.

Ia berharap pemerintah daerah menjaga kesinambungan program meskipun terjadi pergantian kepemimpinan. Dengan demikian, berbagai upaya pencegahan dan pengobatan TBC dapat berjalan secara konsisten hingga target eliminasi tercapai.

Integrasi Rumah Sakit dan Puskesmas Jadi Kunci Penanganan

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ani Ruspitawati turut menyoroti pentingnya integrasi layanan antarfasilitas kesehatan. Menurutnya, rumah sakit perlu berkoordinasi dengan Puskesmas dan kader komunitas agar petugas dapat menelusuri kontak erat setiap pasien.

Ani menjelaskan bahwa tingginya jumlah kasus yang pertama kali ditemukan di rumah sakit menuntut koordinasi yang lebih kuat. Rumah sakit perlu meneruskan informasi kepada Puskesmas agar tenaga kesehatan dapat menjangkau keluarga pasien dan memantau kebutuhan pemeriksaan di lingkungan tempat tinggalnya.

“Penemuan kasus di rumah sakit Jakarta sangat besar. Integrasi pelacakan kontak antara rumah sakit, Puskesmas, dan kader komunitas adalah kunci utama untuk memastikan setiap pasien didampingi hingga sembuh tuntas dan rantai penularan di lingkungan sekitar dapat kita putus sepenuhnya,” kata Ani.

Kolaborasi Kemenkes dan Pemprov DKI Jakarta menegaskan bahwa eliminasi TBC membutuhkan strategi yang menyeluruh. Pemerintah perlu menggabungkan pengobatan pasien, pemeriksaan kontak erat, pemberian TPT, penguatan fasilitas diagnosis, serta edukasi masyarakat.

Rumah sakit, Puskesmas, tenaga kesehatan, dan kader komunitas juga perlu menjaga koordinasi agar setiap tahapan berjalan berkesinambungan. Melalui langkah tersebut, pemerintah berharap penularan TBC di Jakarta terus menurun dan target eliminasi pada 2030 dapat tercapai.

 

Penulis: Riezka Ayu Juniarty

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article