EDUCARE.CO.ID – Rasa ingin tahu menjadi modal utama 125 tim siswa dari 24 provinsi dan Satuan Pendidikan Indonesia di Luar Negeri (SILN) Malaysia saat mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026.
Para siswa membawa penelitian yang berangkat dari persoalan di lingkungan sekitar. Mereka kemudian mengolahnya melalui proses ilmiah hingga mendapatkan kesempatan tampil di tingkat nasional.
Pembukaan OPSI 2026 berlangsung di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada Jumat (25/9). Ajang tersebut tidak hanya menjadi ruang kompetisi penelitian siswa, tetapi juga memperlihatkan pentingnya dukungan banyak pihak dalam membangun ekosistem pendidikan dan riset bagi generasi muda.
Penelitian Siswa Tumbuh dari Banyak Dukungan
Satu penelitian tidak lahir hanya dari kerja seorang siswa. Di baliknya terdapat guru yang mendampingi, orang tua yang memberi dukungan, sekolah yang menyediakan ruang belajar, hingga perguruan tinggi yang membantu menghadirkan lingkungan akademik.
Selain itu, juri dan reviewer ikut menguji kualitas gagasan para peserta. Pemerintah pun membuka ruang agar karya siswa dapat berkembang dan dikenal lebih luas.
Karena itu, OPSI 2026 menjadi gambaran bagaimana pendidikan dapat berkembang ketika berbagai pihak mengambil peran secara bersama.
UMJ Buka Peluang Beasiswa bagi Peserta Berprestasi
Wakil Rektor UMJ, Muhammad Hadi, menegaskan kesiapan kampus untuk mendukung perjalanan para peneliti muda yang mengikuti OPSI 2026.
UMJ, kata dia, siap memfasilitasi sekaligus mendampingi delegasi selama mengikuti rangkaian kegiatan.
Tak hanya menjadi tuan rumah, UMJ juga membuka peluang bagi peserta berprestasi untuk melanjutkan pendidikan melalui program beasiswa.
“Kami siap memfasilitasi dan mendampingi para peserta dari seluruh delegasi demi suksesnya acara OPSI. UMJ juga membuka peluang bagi peserta berprestasi untuk melanjutkan pendidikan melalui beasiswa. Yang bagus-bagus, boleh mendapatkan beasiswa di UMJ,” kata Muhammad Hadi.
Dukungan tersebut menunjukkan bahwa kompetisi penelitian siswa juga dapat menjadi pintu menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Mendikdasmen Ingatkan Pentingnya Berpikir Kritis
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menilai kemampuan meneliti perlu berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis.
Menurutnya, perkembangan teknologi memang memberikan berbagai kemudahan. Namun, kemudahan tersebut juga dapat menimbulkan kebiasaan bergantung pada teknologi jika tidak diimbangi kemampuan berpikir dan mencari solusi secara mandiri.
“Teknologi itu menjadi salah satu capaian dari kemajuan sains dan teknologi, tapi pada sisi yang lain teknologi yang memberikan berbagai kemudahan itu bisa menimbulkan budaya kemalasan,” ujar Abdul Mu’ti.
Karena itu, ia mendorong generasi muda tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan. Mereka juga perlu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menghadirkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
“Penjelasannya saintifik, sangat ilmiah, tetapi solusinya budaya. Kita harus mengubah perilaku kita,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi relevan dalam penelitian siswa. Sebab, penelitian tidak hanya membutuhkan teori, tetapi juga kemampuan membaca persoalan dan menerjemahkan hasilnya menjadi solusi.
Penelitian OPSI Berangkat dari Persoalan di Sekitar
Karya para peserta OPSI 2026 menunjukkan bahwa penelitian dapat berawal dari hal-hal sederhana yang mereka temui setiap hari.
Para siswa mengangkat berbagai persoalan terkait lingkungan, sosial, budaya, teknologi, hingga tantangan yang muncul di sekitar mereka.
Dari persoalan tersebut, mereka menyusun pertanyaan penelitian, mengumpulkan data, melakukan pengujian, kemudian menyusun temuan melalui proses ilmiah.
Pengalaman itu membuat siswa tidak sekadar menerima pengetahuan. Mereka belajar mempertanyakan sesuatu, mencari bukti, menganalisis informasi, dan menyusun solusi berdasarkan hasil penelitian.
OPSI 2026 Jadi Kerja Bersama Banyak Pihak
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Suharti, menilai keberhasilan OPSI 2026 tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak.
Berdasarkan sumber rilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Suharti memberikan apresiasi kepada UMJ yang menjadi tuan rumah serta berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang ikut berkontribusi sebagai juri dan reviewer.
Apresiasi juga diberikan kepada guru pembimbing, pendamping, satuan pendidikan, dinas pendidikan, orang tua, serta para pemangku kepentingan yang mendampingi peserta sejak proses penelitian hingga mencapai tingkat nasional.
“Keberhasilan penyelenggaraan OPSI tentu tidak terlepas dari kerja sama dan dukungan berbagai pihak,” ujar Suharti.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan penelitian siswa. Guru, misalnya, tidak hanya membantu dari sisi akademik, tetapi juga mendampingi siswa ketika menghadapi proses penelitian yang panjang.
Dari Rasa Ingin Tahu Menjadi Pengetahuan
OPSI 2026 pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang kompetisi dan hasil penelitian terbaik.
Ajang tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah pertanyaan sederhana dari seorang siswa dapat berkembang ketika mendapatkan dukungan dari lingkungan di sekitarnya.
Perjalanan itu dimulai dari rumah, berlanjut ke sekolah, kemudian bertemu dengan lingkungan perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Selanjutnya, karya siswa mendapatkan ruang untuk diuji dan dipresentasikan di tingkat nasional.
Dari proses tersebut, rasa ingin tahu tidak berhenti sebagai pertanyaan. Siswa belajar mengubahnya menjadi penelitian, pengetahuan, dan gagasan yang dapat memberi manfaat bagi lingkungan.
Ekosistem seperti inilah yang menjadi modal penting untuk menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, melakukan penelitian, dan mencari solusi atas persoalan di sekitarnya.


