UNAIR Bahas Penanganan Dugong dan Lumba-Lumba Terdampar dalam Kuliah Tamu FIKKIA
educare.co.id, Surabaya – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kuliah tamu bertema penanganan satwa laut terdampar. Acara yang bertajuk Evakuasi dan Rehabilitasi pada Dugong dan Lumba-Lumba Terdampar ini berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (28/6/2025). Kegiatan tersebut merupakan inisiatif Wildlife Animal Care (WLAC), bagian dari Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (HMKH) UNAIR.
Mengisi sesi utama, Drh Dwi Suprapti MSi—dokter hewan yang telah lebih dari 20 tahun aktif dalam konservasi megafauna laut—memberikan penjelasan mendalam mengenai karakteristik mamalia laut dan prosedur penanganannya.
Dalam pemaparannya, Drh Dwi menyebut bahwa mamalia laut seperti dugong dan lumba-lumba memiliki struktur tubuh serta sistem pernapasan yang sangat berbeda dari ikan.
“Perbedaan paling mendasar terletak pada posisi ekor serta sistem pernapasannya. Kalau mamalia laut itu ekornya horizontal, bernapas pakai paru-paru, dan punya blowhole (lubang napas) di atas kepala. Ikan, sebaliknya, ekornya vertikal dan bernapas dengan insang,” ujarnya, dalam siaran tertulis UNAIR (1/7).
Banyak Faktor di Balik Mamalia Laut Terdampar
Ia menjelaskan bahwa istilah “terdampar” mengacu pada situasi saat mamalia laut tidak mampu kembali ke habitatnya sendiri, misalnya saat terperangkap di perairan dangkal atau terseret hingga ke daratan. Menurutnya, ada setidaknya sebelas penyebab utama di balik fenomena ini.
“Mulai dari terjebak di air surut, penyakit, predator seperti cookiecutter shark, kebisingan, aktivitas perikanan, tertabrak kapal, gempa dasar laut, blooming alga, badai matahari, cuaca ekstrem, sampai pencemaran laut,” jelasnya.
Drh Dwi turut membagikan pengalamannya dalam menangani bayi dugong yang terpisah dari induknya karena air laut surut.
“Berbeda dengan lumba-lumba, dugong yang masih kecil cenderung mendekati manusia. Biasanya mereka suka bersembunyi di bawah ketiak penyelam karena mengira itu induknya,” tambahnya.
Klasifikasi Penanganan Berdasarkan Kondisi
Dalam sesi tersebut, Drh Dwi juga memaparkan prosedur evakuasi mamalia laut berdasarkan sistem kode kondisi. Ada lima kode yang menentukan metode penanganan, mulai dari individu hidup hingga yang hanya tersisa kerangkanya.
Kode satu diberikan untuk mamalia laut yang masih hidup dan memerlukan tindakan penyelamatan segera.
“Lubang napas dari dugong, lumba-lumba, atau mamalia laut lainnya harus tetap terbuka, mata jangan sampai kena pasir, sirip dada jangan sampai patah karena tekanan tubuh. Itu semua harus dilindungi,” tuturnya.
Kode dua ditetapkan jika mamalia laut mati dalam kondisi segar dan masih bisa diautopsi secara menyeluruh. Kode tiga menandakan mulai adanya pembusukan namun tetap bisa dilakukan nekropsi sebagian. Sementara kode empat merujuk pada bangkai yang sudah membusuk berat dan hanya dapat didokumentasikan secara eksternal. Adapun kode lima mengindikasikan kondisi di mana hanya kerangka yang tersisa.
Ia menekankan pentingnya pendekatan yang tenang saat berinteraksi dengan satwa, mengingat stres bisa memperburuk kondisi mereka. Ia juga menyarankan penggunaan tandu yang empuk namun kokoh karena kulit mamalia laut sangat sensitif.
Dalam situasi terdampar massal, seperti pada kawanan lumba-lumba, pelepasan kembali ke laut tidak bisa dilakukan secara individual.
“Kalau terdampar massal, misalnya sekelompok lumba-lumba, itu pelepasannya nggak bisa satu per satu. Mereka harus dilepas bersamaan sambil membentuk semacam lingkaran supaya bisa saling melihat. Kalau ada yang tertinggal, besar kemungkinan dia akan ikut terdampar lagi,” ungkapnya.
Di akhir sesi, Drh Dwi menegaskan pentingnya melibatkan pihak berwenang dalam setiap kejadian terdampar.
“Jangan jadi pahlawan sendirian. Selalu libatkan KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan), DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan), atau otoritas terkait. Dan jangan lupa dokumentasikan serta pelajari tiap kejadian sebagai pembelajaran bersama,” tutupnya.
