UGM Perkuat Komitmen sebagai Kampus Inklusif, Mahasiswa Autisme Bagikan Kisah Inspiratif
educare.co.id, Yogyakarta – Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan komitmennya sebagai kampus yang inklusif dan ramah disabilitas dengan membuka akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa penyandang disabilitas serta mengembangkan sistem pembelajaran yang mendukung kebutuhan mereka.
Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, tiga mahasiswa penyandang autisme berbagi pengalaman mereka dalam sebuah sesi diskusi bertajuk “Refleksi Hak Pendidikan dan Pengalaman Mahasiswa Autisme dalam Menempuh Pendidikan Tinggi di UGM”, yang diselenggarakan oleh Unit Layanan Disabilitas (ULD UGM) pada Jumat (11/4) dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Autisme Sedunia.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Riani Wulan Sujarrivani dari Program Studi S1 Ilmu Tanah angkatan 2024, Siham Hamda Zaula Mumtaza dari S1 Ilmu dan Industri Peternakan angkatan 2019, serta Muhammad Rhaka Katresna dari Magister Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana.
Riani mengungkapkan bahwa ia didiagnosis mengidap Autism Spectrum Disorder dan sempat menghadapi berbagai stigma sosial. “Beruntung, saya mendapat dukungan dari keluarga dan guru. Orang tua bahkan sempat berhenti bekerja karena melihat perkembangan saya yang berbeda dan ingin mendampingi saya lebih dekat. Ketika sekolah, saya juga mendapatkan dukungan moral dari para guru untuk belajar mandiri dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Riani dalam siaran tertulis UGM (21/4).
Ia juga membagikan kisah perjuangannya masuk ke UGM, setelah sebelumnya gagal di tiga jalur seleksi pada tahun pertama. Namun, ia tidak menyerah dan akhirnya diterima melalui jalur UM UGM CBT di tahun berikutnya. Selama kuliah, ia menghadapi tantangan akademik seperti kesulitan menyelesaikan tugas tepat waktu dan penyesuaian di laboratorium. Meskipun sempat mengalami hambatan dalam mengakses layanan pendukung, ia kemudian mendapatkan bantuan dari fakultas dan ULD berupa perpanjangan waktu tugas dan akses layanan khusus.
Sementara itu, Siham yang berasal dari Bojonegoro, Jawa Timur, juga menyampaikan pengalamannya sebagai penyandang autisme sekaligus pengidap gangguan kesehatan mental. Ia telah menjalani berbagai terapi sejak kecil, meskipun pada awalnya keluarganya menolak diagnosis tersebut. “Pada saat awal saya diagnosis Autism Spectrum Disorder, orang tua saya, terutama ayah saya, menolak status Autism Spectrum Disorder saya. Dibilang, saya ini adalah orang normal, tidak ada kekurangan,” tuturnya.
Untuk mendukung proses belajarnya, ULD UGM melakukan asesmen berkala dan pengaturan dosen pengampu setiap semester, serta menginformasikan kondisi Siham kepada asisten praktikum. Ia juga menerima pendampingan khusus yang membantunya dalam perkuliahan. Menurutnya, keberlanjutan asesmen sangat penting agar penyesuaian pembelajaran tetap efektif dan relevan.
Rhaka, mahasiswa program magister, berbagi kisah perjuangannya mendapatkan diagnosis autisme di usia dewasa. Ia menyebut bahwa diagnosis untuk orang dewasa jauh lebih sulit diperoleh dibandingkan anak-anak. “Diagnosis autisme pada anak-anak saat ini cenderung lebih mudah karena banyak tenaga ahli yang fokus di sana. Tapi untuk usia dewasa, justru jauh lebih sulit,” ungkapnya.
Setelah lulus dari S1 Psikologi, Rhaka memilih melanjutkan pendidikan di Pusat Studi Agama dan Lintas Budaya UGM karena keterbukaannya terhadap mahasiswa autistik. Ia menekankan bahwa orang autis memiliki minat khusus yang mendalam. Dalam kasusnya, minat tersebut terletak pada penelitian berbasis pengalaman autistik, sebuah bidang yang masih minim perhatian di Indonesia. “Di prodi ini, saya bisa mendapat ruang untuk mengkritisi konstruksi ilmu tersebut,” katanya.
Rhaka juga mendapatkan dukungan berupa fleksibilitas dalam pengerjaan tugas, metode pembelajaran berbasis proyek, serta pendekatan pengajaran yang inklusif. Ia mengajak mahasiswa lain yang memiliki kondisi serupa untuk bangga pada diri sendiri. “Saya punya diagnosis ganda, autisme dan ADHD. Tapi saya bangga. Jadi saya mengajak teman-teman semua untuk bangga. Kita mesti bangga menjadi diri sendiri, sebagaimana adanya,” pungkasnya.
