Tuna Melimpah di Manokwari Tak Lagi Terbuang, Tim ITS Sulap Jadi Abon Bernilai Jual

Must read

Melimpahnya hasil tangkapan tuna di Kampung Abreso, Distrik Ransiki, Manokwari Selatan, Papua Barat, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 19 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membantu mengolah ikan tersebut menjadi abon agar hasil tangkapan tidak terbuang ketika pasar tidak mampu menyerap seluruhnya.

Tim melihat potensi tersebut saat menjalankan tugas di Kampung Abreso. Masyarakat sebenarnya sudah memiliki keterampilan mengolah tuna menjadi abon. Namun, mereka masih mengandalkan peralatan dapur sederhana sehingga kapasitas produksi belum mampu mengikuti permintaan.

Berdasarkan sumber laman resmi ITS, produk abon tuna buatan masyarakat selalu mendapat permintaan. Kondisi tersebut mendorong TEP 19 mengembangkan teknologi pengolahan yang lebih efisien.

Abon Tuna Sudah Laku, Produksi Masih Terbatas

Anggota TEP 19, Aisyah, melihat peluang tersebut saat berinteraksi langsung dengan masyarakat Kampung Abreso.

Menurutnya, masyarakat sudah mampu menghasilkan abon dari ikan tuna. Mereka hanya menghadapi kendala kapasitas karena proses produksi masih menggunakan peralatan rumah tangga.

“Artinya, permintaan sudah ada, tetapi kapasitas produksinya masih terbatas,” jelas Aisyah dalam laman ITS.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi tim untuk meningkatkan kemampuan produksi masyarakat. Dengan teknologi yang lebih tepat, masyarakat dapat mengolah lebih banyak ikan tanpa mengorbankan kualitas produk.

ITS Siapkan Mesin Pengolahan Abon

TEP 19 kemudian mengembangkan mekanisasi untuk sejumlah tahapan produksi. Dr Fahmi, ST dari Departemen Teknik Kimia ITS memimpin pengembangan teknologi tersebut.

Tim menyiapkan beberapa peralatan, mulai dari steamer, mesin pencacah ikan, rotary cooker, agitator vessel, spinner peniris minyak, hingga vacuum sealer.

Setiap peralatan memiliki fungsi dalam rangkaian produksi abon. Mesin tersebut membantu masyarakat mempercepat proses pengolahan dan menangani bahan baku dalam jumlah lebih besar.

Tim juga mengarahkan penggunaan teknologi agar proses produksi lebih higienis dan efisien. Dengan kapasitas yang meningkat, masyarakat memiliki peluang memperluas pemasaran produk abon tuna.

Tak Hanya Tuna, Ikan Lain Bisa Diolah

Teknologi yang dikembangkan TEP 19 tidak hanya menyasar ikan tuna. Masyarakat juga dapat memanfaatkannya untuk mengolah ikan pelagis dan cakalang.

Diversifikasi bahan baku memberi pilihan yang lebih luas bagi masyarakat. Mereka tidak perlu bergantung pada satu jenis ikan ketika hasil tangkapan berubah.

Langkah tersebut juga membuka peluang pengembangan produk olahan lain. Dengan begitu, teknologi pengolahan dapat terus digunakan sesuai potensi hasil laut yang tersedia di Manokwari Selatan.

Kemasan Abon Ikut Dikembangkan

TEP 19 juga memperhatikan tampilan produk. Tim mendorong masyarakat memperbaiki desain kemasan abon agar produk terlihat lebih menarik.

Kemasan tidak hanya melindungi produk selama penyimpanan dan distribusi. Tampilan yang lebih baik juga dapat meningkatkan daya tarik produk di mata konsumen.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan nilai jual abon. Masyarakat pun memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas, tidak hanya mengandalkan penjualan di lingkungan sekitar.

Mesin Tetap Berjalan Saat Listrik Padam

Pengembangan teknologi di Manokwari Selatan menghadapi tantangan lain. Wilayah tersebut masih mengalami pemadaman listrik sehingga tim perlu menyesuaikan rancangan peralatan dengan kondisi setempat.

TEP 19 menyiapkan dua pilihan sumber energi untuk menjalankan peralatan, yaitu listrik dan bahan bakar minyak (BBM).

Saat listrik tersedia, masyarakat dapat menggunakan sumber energi listrik. Ketika pemadaman terjadi, mereka dapat beralih ke sumber energi alternatif.

Pendekatan tersebut membuat proses produksi lebih fleksibel. Masyarakat tetap memiliki peluang menjalankan usaha meski kondisi pasokan listrik belum stabil.

ITS Dorong Rantai Usaha dari Nelayan hingga Pasar

TEP 19 tidak hanya mengejar peningkatan jumlah produksi abon. Tim juga ingin membangun ekosistem usaha yang melibatkan berbagai pihak di Kampung Abreso.

Rantai tersebut dapat melibatkan nelayan, Kelompok Usaha Bersama (KUB), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan masyarakat.

Nelayan dapat memasok bahan baku. Masyarakat kemudian mengolah ikan menjadi produk bernilai tambah. KUB dan BUMDes dapat ikut mendukung pengelolaan usaha serta pemasaran.

Skema tersebut membuka peluang bagi lebih banyak masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari sumber daya laut setempat.

Dari Hasil Laut Jadi Produk Bernilai Tambah

Pengolahan tuna menjadi abon memberi solusi terhadap persoalan ikan yang tidak langsung terserap pasar. Produk olahan juga memiliki masa simpan lebih panjang dibandingkan ikan segar.

TEP 19 berharap teknologi tersebut dapat membantu masyarakat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas pasar.

Pada akhirnya, potensi laut Manokwari Selatan tidak hanya berhenti pada hasil tangkapan. Masyarakat dapat mengolahnya menjadi produk ekonomi yang memiliki nilai tambah.

Langkah tersebut juga menunjukkan bagaimana teknologi perguruan tinggi dapat menjawab persoalan nyata di daerah. Ketika inovasi bertemu dengan keterampilan masyarakat, hasil laut lokal memiliki peluang untuk berkembang menjadi usaha yang lebih berkelanjutan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article