Sekolah Terintegrasi: Wajah Baru Pendidikan Inklusif yang Menyatukan Mutu dan Pemerataan
EDUCARE.CO.ID – Pendidikan Indonesia terus bergerak menuju arah yang lebih inklusif dan berkeadilan. Di bawah arahan Prabowo Subianto, penguatan pemerataan sekaligus peningkatan mutu pendidikan menjadi prioritas strategis nasional. Salah satu gagasan yang kini mencuri perhatian adalah konsep Sekolah Terintegrasi, yang dipaparkan dalam Konsolidasi Nasional Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026 di Depok, Jawa Barat.
Konsep ini hadir bukan sekadar sebagai proyek pembangunan sekolah baru, melainkan sebagai desain besar transformasi pendidikan yang menyentuh akar persoalan: kualitas yang belum merata dan kesenjangan antarwilayah.
Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pembelajaran dan Sekolah Unggul, Arif Jamali, menegaskan bahwa Sekolah Terintegrasi dirancang untuk menjawab dua tantangan utama pendidikan nasional: mutu yang belum optimal dan ketimpangan akses. Namun lebih dari itu, model ini membangun satu kawasan pendidikan terpadu yang terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan.

Inklusif dan Bebas Biaya
Berbeda dari model sekolah berbasis segmentasi tertentu, Sekolah Terintegrasi bersifat inklusif dan bebas pungutan biaya. Jika Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak dari keluarga miskin ekstrem dan Sekolah Unggul Garuda menyasar peserta didik dengan talenta akademik maupun non-akademik luar biasa, maka Sekolah Terintegrasi membuka ruang bagi siswa berprestasi dari berbagai latar belakang sosial ekonomi tanpa sekat.
Di sinilah semangat kesetaraan dirawat: prestasi mendapat ruang tumbuh, tanpa dibatasi kondisi ekonomi keluarga.
Tiga Pilar Transformasi
Sekolah Terintegrasi berdiri di atas tiga transformasi kunci yang saling menguatkan:
1. Transformasi Infrastruktur
Fasilitas dirancang lengkap dan modern, mulai dari laboratorium berstandar tinggi hingga lahan praktik pertanian dan peternakan. Pendekatannya tidak hanya akademik, tetapi juga keterampilan hidup yang kontekstual dan aplikatif.
2. Transformasi Sumber Daya Manusia
Guru direkrut melalui sistem seleksi dan pelatihan terstruktur. Kehadiran Teaching and Learning Center menjadi ruang kolaboratif untuk pengembangan strategi pembelajaran dan peningkatan kompetensi pendidik secara berkelanjutan.
3. Transformasi Pembelajaran
Kurikulum menggabungkan standar nasional dan internasional dengan pendekatan STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sports). Bahasa Inggris maupun bahasa asing lain seperti Mandarin, Jepang, Arab, dan Perancis digunakan sebagai pengantar komunikasi. Tak hanya itu, program sertifikasi dan pelatihan keahlian juga disiapkan untuk memperkuat daya saing peserta didik.
Pendekatan ini mencerminkan visi pendidikan masa depan: adaptif, global, dan berbasis kompetensi.
Strategi Implementasi yang Terukur
Implementasi dilakukan melalui dua jalur utama. Pertama, pembangunan sekolah baru oleh pemerintah pusat maupun melalui kolaborasi dengan pihak swasta, dengan lahan seluas 20–30 hektare dan fasilitas terpadu. Kedua, peningkatan (upgrading) sekolah yang sudah ada, baik swasta maupun negeri, melalui konsolidasi sekolah berprestasi dalam satu kecamatan serta pembangunan unit tambahan di sekitar sekolah induk.
Dengan strategi ini, Sekolah Terintegrasi diharapkan menjadi pusat rujukan mutu pendidikan di setiap wilayah—bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai motor penggerak ekosistem pendidikan daerah.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Gedung
Lebih jauh, konsep ini menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak berhenti pada fisik bangunan. Ia menyentuh sistem, budaya belajar, kualitas pengajar, hingga kesinambungan antarjenjang.
Sekolah Terintegrasi menjadi simbol komitmen jangka panjang pemerintah untuk menghadirkan pendidikan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan di seluruh Indonesia—sebuah ruang tumbuh yang memungkinkan setiap anak berprestasi berkembang optimal, apa pun latar belakangnya. (isn)
