EDUCARE.CO.ID – Sampah plastik tak selalu berakhir sebagai limbah. Mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2026 mengenalkan teknologi pirolisis kepada masyarakat Desa Luhu sebagai bagian dari edukasi pengelolaan sampah dan energi.
Lewat kegiatan edukasi dan demonstrasi, mahasiswa mengajak warga memahami cara mengolah jenis plastik tertentu melalui proses pemanasan dengan oksigen yang sangat terbatas.
Teknologi tersebut menghasilkan uap yang kemudian mengalami pendinginan. Proses itu membentuk cairan yang dikenal sebagai minyak pirolisis.
Kenalkan Cara Kerja Pirolisis
Pirolisis bekerja melalui proses dekomposisi termokimia. Teknologi ini memanfaatkan suhu tinggi untuk menguraikan struktur kimia material tanpa proses pembakaran langsung.
Pada sampah plastik, proses tersebut umumnya membutuhkan suhu sekitar 400–800 derajat Celsius. Pemanasan berlangsung tanpa oksigen atau dengan jumlah oksigen yang sangat sedikit.
Kondisi tersebut membuat material tidak terbakar seperti pada proses pembakaran biasa. Sebaliknya, panas memecah struktur kimia material dan menghasilkan produk berupa uap, cairan, serta residu.
Mahasiswa KKN UNG menjelaskan bahwa hasil pirolisis tidak hanya bergantung pada suhu. Jenis plastik, kondisi proses, hingga cara menangani produk dan residu juga ikut menentukan hasil akhirnya.
Karena itu, mahasiswa tidak memperkenalkan pirolisis sebagai solusi tunggal untuk persoalan sampah plastik.
Pemilahan Sampah Tetap Jadi Langkah Utama
Sebelum mengenalkan teknologi, mahasiswa mengajak masyarakat melihat persoalan sampah dari tahap paling awal.
Pemilahan menjadi langkah penting karena setiap jenis sampah memiliki karakteristik dan cara pengolahan yang berbeda. Masyarakat juga perlu mengurangi penggunaan plastik sebelum mencari teknologi untuk mengolah limbah yang sudah terkumpul.
Koordinator Desa KKN, Haikal, menilai perubahan kebiasaan masyarakat dapat dimulai dari langkah sederhana.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana, terutama pemilahan. Teknologi pengolahan perlu dijalankan secara aman dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan edukasi di Desa Luhu. Mahasiswa tidak hanya memperlihatkan proses teknologi, tetapi juga mendorong masyarakat memahami pengelolaan sampah secara menyeluruh.
Minyak Pirolisis Tidak Bisa Langsung Jadi Pengganti BBM
Mahasiswa KKN UNG juga memberikan pemahaman penting terkait hasil pirolisis.
Minyak pirolisis tidak bisa langsung dianggap sama dengan bensin atau solar. Masyarakat membutuhkan pengujian lebih lanjut sebelum menggunakan produk tersebut sebagai bahan bakar.
Pengujian mutu menjadi salah satu tahap penting. Selain itu, pengembang perlu memperhatikan emisi, residu, serta aspek keselamatan selama proses pengolahan dan pemanfaatan produk.
Penjelasan tersebut membantu masyarakat melihat pirolisis secara lebih realistis. Teknologi ini memiliki potensi, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan kajian dan pengelolaan yang tepat.
KKN Jadi Ruang Edukasi Teknologi
Kegiatan KKN Tematik Infrastruktur 2026 di Desa Luhu tidak hanya berfokus pada demonstrasi alat.
Mahasiswa juga membuka ruang diskusi mengenai persoalan sampah yang masyarakat hadapi sehari-hari. Diskusi tersebut mencakup pemilahan, pengumpulan, pengolahan, hingga kemungkinan pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kondisi desa.
Pendekatan ini membuat teknologi hadir sebagai bagian dari proses edukasi. Masyarakat dapat memahami manfaat sekaligus batasan sebuah teknologi sebelum mempertimbangkan penerapannya.
Mahasiswa berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat kesadaran warga untuk mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Dorong Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNG ingin melanjutkan pembahasan bersama masyarakat dan pemerintah Desa Luhu.
Beberapa hal yang dapat menjadi bahan diskusi antara lain sistem pengumpulan sampah plastik, pemilihan teknologi yang sesuai, serta mekanisme pengelolaan yang dapat berjalan dalam jangka panjang.
Mahasiswa juga berharap masyarakat tidak hanya melihat sampah sebagai persoalan lingkungan. Sampah dapat menjadi bahan pembelajaran untuk mengenal teknologi, energi, dan inovasi.
Namun, pemanfaatan teknologi tetap membutuhkan perencanaan yang matang. Aspek keselamatan, kualitas produk, emisi, serta pengelolaan residu perlu mendapat perhatian sebelum teknologi pirolisis diterapkan secara lebih luas.
Berdasarkan sumber Universitas Negeri Gorontalo, edukasi pirolisis di Desa Luhu menjadi bagian dari upaya mahasiswa mengenalkan alternatif pengolahan sampah plastik sekaligus mendorong masyarakat memperkuat kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.

