EDUCARE.CO.ID – Indonesia dan Korea Selatan menjajaki kerja sama pendidikan tinggi, riset, sains, dan teknologi melalui pendekatan diplomasi sains atau science diplomacy. Kedua negara membahas peluang kemitraan antarperguruan tinggi, pertukaran mahasiswa dan peneliti, hingga pengembangan hasil riset untuk kebutuhan industri.
Pembahasan tersebut berlangsung dalam audiensi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), bersama Menteri Luar Negeri ke-40 Republik Korea, Park Jin, di Jakarta, Selasa (3/11).
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, menyambut langsung kunjungan Park Jin di Ruang Rapat Direktur Jenderal, Gedung D Lantai 9, Kemdiktisaintek. Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Junaidi Khotib, serta jajaran tim kerja sama Kemdiktisaintek turut mengikuti pertemuan tersebut.
Diplomasi Sains Harus Berdampak bagi Perguruan Tinggi
Khairul Munadi menegaskan bahwa kerja sama Indonesia dan Korea Selatan perlu menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan kampus. Ia mendorong perluasan akses mahasiswa dan peneliti Indonesia ke laboratorium mitra, sekaligus membuka peluang agar industri memanfaatkan hasil penelitian perguruan tinggi.
“Kerja sama dengan Korea Selatan harus terasa sampai ke kampus. Mahasiswa dan peneliti kita perlu kesempatan belajar dan meneliti di laboratorium mitra, dan hasil risetnya harus bisa dimanfaatkan industri. Diplomasi sains memberi kerangka agar semua itu berjalan terarah,” ujar Khairul.
Menurutnya, sains dan teknologi dapat memperkuat hubungan jangka panjang kedua negara. Kolaborasi di bidang tersebut juga membuka ruang bagi peneliti, akademisi, dan inovator untuk membangun kemitraan yang berkelanjutan.
“Hubungan antarnegara tidak hanya dibangun melalui diplomasi politik dan ekonomi, tetapi juga melalui ilmu pengetahuan. Sains dapat menjadi jembatan yang mempertemukan para peneliti, akademisi, dan inovator untuk membangun kolaborasi yang berkelanjutan. Indonesia menyambut baik prakarsa Korsel untuk sama-sama membangun masa depan bagi kedua negara,” demikian Dirjen Khairul Munadi.
Berdasarkan Kabar Dikti Kemdiktisaintek, kedua pihak membahas sejumlah bidang strategis, mulai dari kecerdasan artifisial, energi bersih, ketahanan rantai pasok, hingga bioteknologi. Mereka juga menjajaki kemitraan langsung antarperguruan tinggi agar kolaborasi berkembang menjadi program akademik dan riset bersama.

Park Jin Paparkan Peran KAIST dalam Diplomasi Sains
Dalam pertemuan tersebut, Park Jin hadir mewakili Center for Science Diplomacy Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). Ia menjelaskan konsep diplomasi sains yang menggabungkan dua pendekatan, yakni sains dalam diplomasi dan diplomasi melalui sains.
Park Jin mengembangkan gagasan tersebut dari pengalaman forum diplomasi sains di Jenewa, Swiss. Forum itu mempertemukan ilmuwan, diplomat, pembuat kebijakan, dan pelaku industri untuk membahas perkembangan teknologi dalam rentang lima, sepuluh, hingga 25 tahun mendatang.
Saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Park Jin juga membentuk Science and Technology Academy di lingkungan kementeriannya. Program tersebut bertujuan memperkuat pemahaman para diplomat terhadap perkembangan sains dan teknologi.
“Diplomat perlu memahami sains, dan ilmuwan perlu memahami diplomasi. Isu seperti kecerdasan artifisial, energi, dan perubahan iklim bergerak terlalu cepat untuk ditangani sendiri-sendiri. Karena itu, Indonesia dan Korea Selatan perlu menyusun agenda riset bersama sejak awal,” kata Park Jin.
AI, Energi Bersih, dan Bioteknologi Masuk Agenda Riset
Kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu fokus pembahasan. Perkembangan teknologi ini mendorong setiap negara untuk membangun regulasi dan tata kelola digital yang aman, bertanggung jawab, dan tepercaya atau safe, responsible, and trustworthy AI.
KAIST melalui AI Graduate School membuka peluang kolaborasi untuk menjawab tantangan pengembangan AI, terutama terkait etika dan keamanan teknologi.
Selain AI, Indonesia dan Korea Selatan membahas ketahanan rantai pasok serta transisi energi bersih. Industri baterai kendaraan listrik Korea Selatan membutuhkan mineral utama seperti nikel, litium, dan kobalt. Indonesia memiliki sumber daya mineral yang relevan dengan kebutuhan industri tersebut.
Kedua negara juga mengeksplorasi peluang kerja sama teknologi nuklir untuk tujuan damai. Korea Selatan memiliki pengalaman membangun reaktor nuklir APR-1400, antara lain di Uni Emirat Arab dan Republik Ceko. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembahasan dalam pengembangan energi bersih.
Di sektor bio-kesehatan, kedua pihak melihat peluang kolaborasi dalam riset bioteknologi, kefarmasian, dan vaksin. Mereka dapat menjajaki kerja sama dengan memanfaatkan keberadaan International Vaccine Institute (IVI) dan Global Green Growth Institute (GGGI) di Seoul.
Pertemuan itu juga menyoroti tantangan penuaan penduduk (aging society), bencana alam, dan perubahan iklim. Sementara itu, Indonesia memaparkan sejumlah prioritas riset strategis nasional, termasuk pengembangan biomaterial dan ketahanan pangan.
Pemerintah Indonesia turut menekankan pentingnya hilirisasi riset. Melalui langkah tersebut, perguruan tinggi dapat mendorong pemanfaatan hasil penelitian oleh sektor industri.
KAIST Jajaki Kemitraan Akademik dengan UI dan ITB
Pada bidang pendidikan tinggi, Indonesia dan Korea Selatan membahas sejumlah peluang kolaborasi antarperguruan tinggi. Rencana tersebut mencakup program joint degree, penggunaan fasilitas riset bersama, serta pertukaran mahasiswa dan peneliti.
KAIST menyatakan komitmennya untuk memperluas kemitraan langsung atau university-to-university dengan perguruan tinggi Indonesia. Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) masuk dalam daftar institusi yang akan mengikuti penjajakan kerja sama.
Kolaborasi tersebut dapat membuka peluang bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti Indonesia untuk memperluas pengalaman akademik. Selain itu, kemitraan ini dapat mempertemukan sivitas akademika kedua negara melalui kegiatan pendidikan dan penelitian.
Pertemuan Teknis Siapkan Program Riset Bersama
Sebagai tindak lanjut audiensi, Park Jin akan menyerahkan materi kuliah umum bertajuk Enhancing Science Diplomacy kepada Kemdiktisaintek. Kedua pihak juga akan menjadwalkan pertemuan teknis antara KAIST dengan pimpinan UI dan ITB.
Pertemuan lanjutan tersebut akan membahas kemungkinan penyusunan program joint degree dan riset bersama. Langkah ini menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk menerjemahkan penjajakan awal menjadi agenda kerja sama yang lebih konkret.
Di sisi pemerintah, tim Ditjen Dikti dan Ditjen Risbang akan mendokumentasikan prioritas kerja sama bilateral. Mereka akan memetakan peluang kolaborasi di bidang AI, energi nuklir dan terbarukan, serta bioteknologi sebagai bahan penyusunan skema kemitraan riset.
Audiensi berlangsung dalam suasana hangat dan produktif. Kedua pihak sepakat menjaga komunikasi agar inisiatif diplomasi sains terus berkembang, baik melalui kerja sama bilateral maupun kolaborasi di kawasan ASEAN.
Bagi perguruan tinggi Indonesia, penjajakan ini membuka peluang untuk memperluas jejaring akademik dengan Korea Selatan. Akses ke laboratorium, peneliti, dan program pendidikan mitra dapat mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa serta riset nasional. Selanjutnya, kedua negara perlu menindaklanjuti pembahasan tersebut melalui pertemuan teknis dan penyusunan program bersama.

