EDUCARE.CO.ID – Inovasi dosen perguruan tinggi vokasi mulai menunjukkan dampak nyata bagi petani. Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Politani Samarinda) menerapkan teknologi bioinvigorasi benih yang dipadukan dengan sistem Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) untuk meningkatkan produktivitas padi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Hasilnya cukup signifikan. Produktivitas padi Gapoktan Mandiri meningkat 44,83 persen, dari sebelumnya 4,80 ton menjadi 6,95 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.
Berdasarkan sumber Berita Kampus Kemdiktisaintek, inovasi tersebut menggabungkan teknologi benih, pemanfaatan sumber daya lokal, penguatan kelembagaan petani, serta penggunaan teknologi pertanian.
Bioinvigorasi Tingkatkan Vigor Benih Padi
Teknologi bioinvigorasi menjadi salah satu komponen utama dalam program tersebut. Teknologi ini memanfaatkan mikroba potensial yang mampu beradaptasi dengan kondisi lapangan.
Mikroba tersebut membantu meningkatkan vigor atau kekuatan benih. Dengan benih yang lebih kuat, tanaman memiliki modal awal yang lebih baik untuk tumbuh di lahan.
Politani Samarinda kemudian memadukan bioinvigorasi dengan sistem LEISA. Pendekatan ini mengoptimalkan sumber daya lokal, termasuk bahan organik dan mikroba yang bermanfaat bagi tanah serta tanaman.
Kombinasi tersebut membantu petani mengelola lahan secara lebih efisien sekaligus menjaga kesehatan tanah.
Jawab Tantangan Petani di Lahan Ultisol
Tim Politani Samarinda mengembangkan teknologi tersebut untuk menjawab sejumlah persoalan yang petani hadapi.
Beberapa tantangan tersebut mencakup kesuburan lahan yang rendah, karakteristik tanah Ultisol, vigor benih yang rendah, serta tingginya intensitas hama dan penyakit.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman sekaligus hasil panen.
Melalui pendekatan bioinvigorasi dan LEISA, tim dosen mencoba mengoptimalkan potensi lahan dengan memanfaatkan bahan dan sumber daya yang tersedia di sekitar petani.
Hasil penerapan di lapangan kemudian menunjukkan peningkatan produktivitas padi hingga 44,83 persen.
Empat Dosen Politani Samarinda Turun Mendampingi Petani
Program tersebut melibatkan empat dosen Politani Samarinda dengan bidang keahlian yang saling melengkapi.
Rusmini, S.P., M.P. dan La Mudi, S.P., M.P. berfokus pada peningkatan produktivitas melalui penerapan bioinvigorasi dan sistem LEISA.
Sementara itu, Andi Lelanovita Sardianti, S.P., M.M. dan Muhamad Yazid Bustomi, S.P., M.Sc. mendampingi petani dalam penguatan kelembagaan Gapoktan.
Pendekatan tersebut membuat pendampingan tidak berhenti pada teknik budidaya. Tim juga membantu kelompok tani memperkuat sistem pengelolaan organisasi.
Gapoktan Mandiri Punya 623 Petani
Penguatan kelembagaan menjadi bagian penting dalam program Politani Samarinda.
Gapoktan Mandiri menaungi 623 petani yang tergabung dalam 40 kelompok tani. Total luas areal yang mereka kelola mencapai 126 hektare.
Tim pendamping membantu kelompok tani memperkuat sejumlah aspek administrasi dan manajemen.
Pendampingan mencakup penyusunan SOP, tata kelola organisasi, pengelolaan aset, hingga pengelolaan Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA).
Gapoktan juga mendapat pendampingan untuk mengembangkan kemitraan dan memperluas akses pasar.
Dengan penguatan tersebut, petani tidak hanya mengejar peningkatan hasil panen. Mereka juga membangun kapasitas kelembagaan agar mampu mengelola kegiatan pertanian secara lebih terarah.
Digital Farming dan Drone Sprayer Ikut Digunakan
Politani Samarinda juga memperluas penggunaan teknologi dalam kegiatan pertanian.
Program tersebut memanfaatkan digital farming untuk mendukung pengelolaan budidaya. Tim juga menggunakan drone sprayer dalam kegiatan pertanian.
Teknologi tersebut membantu meningkatkan efektivitas pekerjaan di lahan. Penggunaan alat juga dapat mengurangi beban kerja petani dalam menjalankan sejumlah aktivitas budidaya.
Kehadiran teknologi digital dan alat pertanian modern melengkapi penerapan bioinvigorasi serta LEISA di lapangan.
Politani Samarinda Gandeng Bank Indonesia
Program tersebut turut mendapat dukungan melalui kolaborasi Politani Samarinda dengan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Jajang Hermawan, Wakil Gubernur Kalimantan Timur Dr. H. Seno Aji, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait meninjau demplot dan kegiatan panen pada 10 September 2026.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat langsung penerapan inovasi pertanian di lapangan.
Kolaborasi berbagai pihak juga memperkuat peluang pengembangan inovasi agar tidak berhenti sebagai hasil penelitian di lingkungan kampus.
Dari Kampus ke Sawah, Teknologi Beri Dampak Nyata
Peningkatan produktivitas padi dari 4,80 ton menjadi 6,95 ton GKP per hektare menunjukkan hasil penerapan teknologi di tingkat petani.
Program Politani Samarinda juga memperlihatkan peran perguruan tinggi vokasi dalam menjawab persoalan masyarakat. Dosen tidak hanya mengembangkan pengetahuan di lingkungan akademik, tetapi juga menerapkannya untuk kebutuhan lapangan.
Kolaborasi dengan pemerintah, Bank Indonesia, kelompok tani, dan pemangku kepentingan lain turut memperkuat proses tersebut.
Ke depan, pendekatan seperti bioinvigorasi, LEISA, digital farming, dan penggunaan alat pertanian modern dapat terus dikembangkan sesuai kondisi serta kebutuhan petani.
Bagi Gapoktan Mandiri, inovasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan peningkatan hasil panen. Penguatan kelembagaan dan akses pasar juga menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian petani.
Pada akhirnya, pengalaman Politani Samarinda menunjukkan bahwa inovasi perguruan tinggi dapat bergerak dari kampus ke sawah dan menghasilkan manfaat langsung bagi masyarakat.

