Pakai Ekstrak Kulit Nanas, Mahasiswi POLSUB Ciptakan PINEPATCH untuk Remaja

Must read

EDUCARE.CO.ID – Limbah kulit nanas yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal kini menjadi bahan pengembangan produk perawatan kulit. Tiga mahasiswi Politeknik Negeri Subang (POLSUB) menciptakan PINEPATCH, plester jerawat berbahan hydrocolloid dengan tambahan ekstrak kulit nanas yang dirancang sebagai alternatif perawatan kulit remaja dengan harga terjangkau.

Inovasi tersebut memanfaatkan potensi enzim bromelain yang terkandung dalam kulit nanas. Tim pengembang mengombinasikan ekstrak bahan lokal itu dengan material hydrocolloid, yang umum digunakan dalam produk penutup luka.

PINEPATCH dikembangkan oleh Eva Septiana bersama Alika Nagita Zahra dan Silvani Dwi Julianty. Ketiganya merupakan mahasiswi semester tiga Program Studi D3 Keperawatan, Jurusan Kesehatan POLSUB, di bawah bimbingan dosen Esti Andarini.

Melalui proyek ini, para mahasiswi menggabungkan ilmu kesehatan terapan dengan pemanfaatan limbah pertanian. Mereka juga berupaya menghadirkan produk perawatan kulit yang lebih terjangkau bagi kalangan pelajar dan mahasiswa.

Manfaatkan Bromelain dalam Ekstrak Kulit Nanas

Eva menjelaskan bahwa tim memilih kulit nanas karena kandungan bromelain di dalamnya berpotensi mendukung perawatan kulit. Enzim tersebut memiliki karakteristik yang berkaitan dengan aktivitas anti-inflamasi atau peredaan peradangan.

“Ekstrak kulit nanas mengandung enzim bromelain yang berpotensi memiliki sifat anti-inflamasi atau pereda peradangan. Kandungan inilah yang kami formulasikan sebagai bahan tambahan dalam matriks hydrocolloid untuk mendukung perawatan kulit berjerawat secara alami dan aman,” jelas Eva.

Untuk mengembangkan PINEPATCH, tim menjalankan enam tahapan pembuatan prototipe. Mereka memulai proses dengan mengumpulkan dan menyiapkan bahan baku, kemudian mengekstrak kulit nanas.

Selanjutnya, tim meracik gel hydrocolloid, mencetak dan mengeringkan plester, mengevaluasi kondisi fisik produk, serta mendokumentasikan hasil pengembangan. Rangkaian tersebut membantu mereka menilai karakteristik produk sebelum melakukan uji coba pemakaian.

Tim kemudian menguji prototipe secara terbatas kepada 15 responden. Pengujian ini bertujuan mengevaluasi daya rekat dan keamanan penggunaan produk pada kulit.

Uji Coba Terbatas Catat Daya Rekat 6–8 Jam

Menurut Eva, hasil pengujian menunjukkan bahwa formulasi dengan konsentrasi ekstrak sedang memberikan kinerja paling optimal di antara formulasi yang mereka uji.

“Hasil uji coba terbatas terhadap 15 responden menunjukkan bahwa formulasi dengan konsentrasi ekstrak sedang memiliki kinerja paling optimal, yakni daya rekat bertahan selama 6 hingga 8 jam, tekstur yang nyaman di kulit, aroma nanas yang ringan, serta tidak menimbulkan reaksi iritasi selama pengujian berlangsung,” ungkap Eva.

Hasil tersebut memberikan gambaran awal mengenai karakteristik fisik dan kenyamanan penggunaan PINEPATCH. Meski demikian, pengujian terhadap 15 responden masih bersifat terbatas. Tim memerlukan penelitian lanjutan untuk menilai efektivitas klinis, keamanan penggunaan jangka panjang, serta konsistensi kualitas produk.

Dosen pembimbing, Esti Andarini, menilai pengembangan PINEPATCH memperlihatkan peluang riset kesehatan terapan di pendidikan vokasi untuk menghasilkan produk yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari.

“Keunggulan produk mahasiswi ini terletak pada kemampuannya memadukan bahan dasar hydrocolloid dengan pemanfaatan limbah kulit nanas lokal melalui konsep waste-to-value, sehingga menghasilkan produk perawatan jerawat yang praktis sekaligus terjangkau bagi remaja,” tutur Esti.

PINEPATCH Dorong Pemanfaatan Limbah Nanas Subang

Pengembangan PINEPATCH juga berangkat dari persoalan limbah organik di Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil nanas, sehingga aktivitas pengolahan buah berpotensi menghasilkan kulit nanas yang belum termanfaatkan secara optimal.

Melalui konsep waste-to-value, tim berupaya mengubah limbah tersebut menjadi bahan yang memiliki nilai tambah. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yaitu mendorong pemanfaatan kembali sumber daya agar limbah dapat memperoleh fungsi baru.

Eva menyebut tim ingin menghadirkan manfaat ganda melalui pengembangan PINEPATCH. Selain menawarkan alternatif produk perawatan jerawat bagi remaja, mereka ingin membuka peluang ekonomi bagi komoditas nanas lokal.

“Produk kami menawarkan solusi perawatan jerawat yang aman, alami, dan terjangkau bagi remaja—khususnya pelajar dan mahasiswa dengan daya beli terbatas. Di sisi lain, kami juga ingin meningkatkan nilai ekonomi komoditas nanas lokal Subang melalui kemitraan dengan petani serta pelaku usaha olahan nanas setempat,” imbuh Eva.

Jika pengembangan usaha berlanjut, pemanfaatan kulit nanas sebagai bahan tambahan produk berpotensi membuka peluang kerja sama dengan petani dan pelaku usaha pengolahan nanas. Namun, realisasi kemitraan tersebut tetap bergantung pada pengembangan produksi dan model bisnis tim.

Stok Perdana PINEPATCH Ludes di Bazar Kampus

Tim PINEPATCH tidak berhenti pada pembuatan prototipe. Mereka mulai memperkenalkan produk melalui kegiatan pemasaran langsung dan promosi digital untuk menjangkau calon konsumen.

Salah satu langkah tersebut berlangsung melalui Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) yang digagas Unit Pengembangan Karier dan Kewirausahaan (UPKK) POLSUB. Tim mengikuti kegiatan itu dalam rangkaian Lomba Olahraga Baris Berbaris (LOBB) Kejuaraan Daerah FORBASI Jawa Barat di Kampus Cibogo POLSUB pada Sabtu (17/10).

Dalam kegiatan tersebut, Eva dan rekan-rekannya memperkenalkan PINEPATCH kepada mahasiswa, dosen, peserta lomba, serta masyarakat yang hadir. Mereka juga menjelaskan fungsi dan konsep pengembangan produk kepada calon konsumen.

Respons pengunjung cukup positif. Tim melaporkan bahwa seluruh stok PINEPATCH yang mereka siapkan untuk bazar tersebut habis terjual.

Selain memasarkan produk secara langsung, para mahasiswi memanfaatkan Instagram untuk menjalankan promosi dan edukasi secara daring. Strategi ini membantu mereka memperkenalkan PINEPATCH kepada calon konsumen di luar lingkungan kampus.

Inovasi Mahasiswi POLSUB Gabungkan Kesehatan dan Kewirausahaan

Berdasarkan sumberPoliteknik Negeri Subang, tiga mahasiswi POLSUB memanfaatkan ekstrak kulit nanas sebagai bahan tambahan dalam plester jerawat berbasis hydrocolloid. Mereka mengembangkan prototipe, melakukan uji coba terbatas, dan memperkenalkan produk melalui kegiatan kewirausahaan kampus.

Pencapaian penjualan perdana menunjukkan adanya respons pasar terhadap produk yang mereka tawarkan. Namun, pengembangan selanjutnya tetap memerlukan evaluasi mutu, pengujian keamanan dan efektivitas yang lebih luas, serta perencanaan produksi yang konsisten.

PINEPATCH menjadi contoh bagaimana mahasiswa dapat menghubungkan pembelajaran kesehatan dengan inovasi produk dan kewirausahaan. Di sisi lain, pemanfaatan limbah kulit nanas membuka peluang untuk menciptakan nilai tambah dari komoditas lokal Subang.

Dengan pengembangan yang berkelanjutan, tim memiliki kesempatan untuk menyempurnakan kualitas produk sekaligus mengevaluasi peluang pasarnya. Inisiatif ini juga memperlihatkan bahwa riset mahasiswa dapat menjadi titik awal untuk mengembangkan produk yang berorientasi pada kebutuhan konsumen dan pemanfaatan sumber daya lokal.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article