Merajut Cahaya Ramadan: Ketika Sains Menjadi Jalan Refleksi di Indonesia Science Center

Eduhealth EduNews

EDUCARE.CO.ID – Ramadan selalu menghadirkan ruang belajar yang tak hanya menyentuh akal, tetapi juga hati. Selasa malam, 3 Maret 2026, suasana berbeda terasa di kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Di tengah momen Gerhana Bulan Total, Indonesia Science Center (ISC) menggelar program Eduwisata Religi—sebuah pendekatan pendidikan yang memadukan astronomi, spiritualitas, dan kebersamaan keluarga.

Program ini bukan sekadar observasi langit. ISC merancang rangkaian kegiatan yang menyatu antara sains dan ibadah: buka puasa bersama, shalat khusuf (gerhana), hingga tarawih berjamaah. Semua dikemas dalam atmosfer pembelajaran kontekstual, menghadirkan pengalaman yang memperkaya wawasan sekaligus menumbuhkan nilai keimanan.

Belajar dari Langit yang Tertutup Awan

Sejak sore, keluarga berdatangan dengan penuh antusias. Anak-anak menanti kesempatan mengamati bulan melalui teleskop, berharap menyaksikan langsung fase puncak gerhana yang dijadwalkan pukul 18.04–19.02 WIB. Namun, langit Jakarta diselimuti awan tebal.

Alih-alih menjadi kekecewaan, situasi ini justru berubah menjadi ruang belajar yang autentik. Edukator ISC menjelaskan proses terjadinya gerhana bulan, posisi matahari-bumi-bulan, serta faktor cuaca yang memengaruhi visibilitas pengamatan. Orang tua pun memanfaatkan momen ini untuk menanamkan nilai ketulusan dan penerimaan—bahwa ilmu pengetahuan berjalan berdampingan dengan kehendak Tuhan.

Sains sebagai Media Refleksi

Direktur ISC, Didik Adiarsah, menegaskan bahwa esensi kegiatan ini bukan hanya pada fenomena astronominya, melainkan pada refleksi yang lahir darinya.

“Kami ingin menghadirkan sains dalam konteks kehidupan dan nilai keimanan, khususnya di bulan suci Ramadhan,” ujarnya.

Pendekatan ini menjadi contoh praktik pembelajaran lintas disiplin—mengintegrasikan sains, karakter, dan spiritualitas dalam satu pengalaman nyata. ISC menunjukkan bahwa pusat sains dapat berperan sebagai ruang literasi yang humanis, tempat keluarga belajar bersama dalam suasana hangat dan bermakna.

BACA JUGA:  Bina Keluarga Sakinah, Kemenag dan PBNU Saling Bersinergi

Bagi pendidik dan orang tua, model seperti ini bisa menjadi inspirasi pengembangan pembelajaran kontekstual: memanfaatkan fenomena alam sebagai pintu masuk diskusi ilmiah sekaligus pembentukan karakter.

Untuk informasi program edukasi lainnya, masyarakat dapat memantau kanal resmi ISC melalui Instagram @ppiptek dan YouTube Indonesia Science Center. (isn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *