Mahasiswa Vokasi Unpad Juara 1 CYANIDE 2026, Usung Gagasan Deteksi Kanker dan DBD

Must read

EDUCARE.CO.ID – Gabriel Revolvere Sembiring, mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Padjadjaran (Unpad), meraih Juara 1 kategori Chemical Essay Competition dalam ajang CYANIDE Udayana University 2026. Ia mengangkat gagasan pemanfaatan nanoteknologi untuk mengembangkan biosensor elektrokimia yang berpotensi mendeteksi kanker dan demam berdarah dengue (DBD).

Kompetisi tersebut berlangsung pada 26 September 2026. Melalui esainya, Gabriel mengembangkan materi yang ia pelajari selama kuliah menjadi gagasan ilmiah di bidang teknologi kesehatan.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Padjadjaran, Gabriel ingin mengeksplorasi teknologi deteksi penyakit yang praktis, terutama bagi masyarakat di wilayah dengan akses terbatas terhadap fasilitas laboratorium kesehatan.

Usulkan Satu Biosensor untuk Mendeteksi Dua Penyakit

Gabriel menyoroti potensi biosensor elektrokimia untuk mendeteksi dua penyakit sekaligus. Ia mengembangkan gagasan tersebut karena melihat peluang untuk memperluas fungsi biosensor dalam pemeriksaan kesehatan.

“Biasanya biosensor hanya bisa mendeteksi satu penyakit. Dalam esai ini, saya mengembangkan gagasan agar alat tersebut dapat mendeteksi dua penyakit sekaligus,” ujar Gabriel, berdasarkan sumber rilis Universitas Padjadjaran.

Gagasan itu menjadi inti esainya dalam kompetisi CYANIDE 2026. Gabriel mengeksplorasi peran nanoteknologi dalam pengembangan biosensor yang berpotensi mendukung deteksi penyakit secara lebih praktis.

Namun, gagasan dalam esai tersebut belum berarti alatnya sudah siap untuk penggunaan klinis. Peneliti masih perlu melakukan pengembangan, pengujian, dan validasi untuk memastikan kemampuan serta keamanan teknologi tersebut.

Dalami Jurnal Ilmiah Bersama Dosen Pembimbing

Dalam menyusun esainya, Gabriel mendapat arahan dari dosen pembimbing, Irkham, S.Si., M.Sc., Ph.D. Keduanya menelusuri jurnal ilmiah, memperdalam materi perkuliahan, dan mendiskusikan mekanisme kerja biosensor elektrokimia.

Gabriel juga mendalami berbagai aspek teknis untuk merumuskan konsep deteksi dua penyakit melalui satu biosensor. Proses tersebut menuntut pemahaman literatur yang kuat agar ia dapat menjelaskan dasar ilmiah gagasannya secara terstruktur.

Melalui diskusi bersama dosen pembimbing, Gabriel memperkuat konsep penelitian dan memperjelas penjelasan teknis dalam esainya. Proses ini membantunya mengembangkan ide dari materi perkuliahan menjadi karya ilmiah untuk kompetisi.

Kompetisi Buka Peluang Belajar di Luar Kelas

Bagi Gabriel, kompetisi ilmiah bukan sekadar ajang untuk mengejar gelar juara. Kegiatan tersebut juga memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menguji pemahaman, mengembangkan ide, dan melatih kemampuan menyampaikan gagasan.

Ia menilai mahasiswa dapat menemukan informasi perlombaan melalui berbagai saluran, mulai dari media sosial hingga program studi dan lingkungan pertemanan. Informasi tersebut membuka peluang bagi mahasiswa untuk mencoba bidang yang sesuai dengan minat mereka.

Selain mengasah kemampuan, kompetisi juga mempertemukan mahasiswa dari berbagai jurusan dan perguruan tinggi. Interaksi tersebut dapat memperluas wawasan sekaligus membantu mahasiswa membangun jejaring akademik.

Gabriel pun mendorong mahasiswa Unpad agar terus mengembangkan potensi melalui kegiatan di luar perkuliahan.

“Mahasiswa Unpad harus terus semangat karena dengan mengikuti lomba kita bisa belajar banyak hal. Kita tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga bisa berkarya di luar, mengembangkan prestasi, dan bertemu banyak orang dari jurusan maupun universitas lain, serta terus mengembangkan prestasi,” jelasnya dalam sumber rilis.

Prestasi Gabriel Tunjukkan Potensi Riset Mahasiswa

Kemenangan Gabriel dalam CYANIDE Udayana University 2026 memperlihatkan bagaimana mahasiswa dapat mengembangkan materi akademik menjadi gagasan ilmiah. Melalui kompetisi, mahasiswa memiliki ruang untuk melatih pemikiran kritis, memperdalam pengetahuan, dan menyampaikan ide secara sistematis.

Gagasan biosensor elektrokimia yang ia ajukan juga mengangkat isu penting dalam teknologi kesehatan, yakni kebutuhan akan metode deteksi penyakit yang praktis. Meski demikian, penerapan gagasan tersebut tetap memerlukan penelitian dan pengujian lanjutan sebelum dapat mendukung pemeriksaan medis.

Berdasarkan sumber rilis Universitas Padjadjaran, prestasi ini menjadi bagian dari perjalanan Gabriel dalam mengembangkan kemampuan akademik melalui kompetisi ilmiah.

Kisah Gabriel juga menunjukkan bahwa mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan di luar kelas untuk memperluas pengalaman dan menguji gagasan. Dengan semangat belajar dan pendampingan yang tepat, mahasiswa memiliki ruang untuk terus mengembangkan potensi serta menghasilkan karya di bidang yang mereka tekuni.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article