Mahasiswa ITS Ciptakan Kandang Ayam Otomatis, Futechi Farm Catat Penjualan Rp105 Juta

Must read

EDUCARE.CO.ID – Tujuh mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan Futechi Farm, sistem peternakan ayam petelur berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi ini menggabungkan otomatisasi pakan, pemantauan suhu kandang, pengumpulan telur, hingga fitur untuk mendeteksi indikasi penyakit ayam.

Tim dari Departemen Teknik Mesin ITS merancang Futechi Farm untuk membantu peternak mengelola usaha secara lebih efisien. Mereka juga ingin membuka akses teknologi peternakan modern bagi pelaku usaha kecil dan menengah.

Ketua tim, Muhammad Samsuddin, menilai peternak masih menghadapi tantangan dalam mengelola aktivitas harian. Sebagian peternak mengandalkan tenaga manusia untuk memberi pakan, memantau kandang, dan menangani kebutuhan ternak lainnya.

Pola kerja tersebut dapat menyita waktu, tenaga, dan biaya operasional. Karena itu, tim menghadirkan Futechi Farm sebagai alternatif untuk menyederhanakan proses pemeliharaan ayam melalui sistem otomatis.

“Pemberian pakan dapat dilakukan secara otomatis dan terjadwal yang dapat dikendalikan melalui panel kontrol ataupun ponsel pintar,” terang Samsuddin.

Tim pengembang terdiri atas Muhammad Samsuddin, Khoerunnisa Utami, Yusran Ardian Hamissy, Risky Firmansyah, Muhammad Tabranie, Osama Ilham Prasetya Putra, dan Achmad Rizky Tri Wibowo. Ketujuh anggota merupakan mahasiswa program sarjana dan magister Teknik Mesin ITS.

Futechi Farm Otomatiskan Pakan dan Pemantauan Kandang

Futechi Farm mengintegrasikan beberapa aktivitas pemeliharaan ayam petelur dalam satu sistem. Peternak dapat mengatur jadwal pemberian pakan secara otomatis dan memantau suhu kandang.

Tim juga mengembangkan mekanisme pengumpulan telur otomatis. Fitur tersebut bertujuan mempermudah pengelolaan hasil produksi dan membantu peternak memantau aktivitas kandang.

Selain itu, Futechi Farm menyediakan pengaturan jadwal vaksinasi dan sterilisasi. Peternak dapat menyesuaikan perawatan dengan usia ayam serta kebutuhan pemeliharaan.

Tim turut memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu mengenali indikasi penyakit pada ayam. Fitur ini menyasar peternakan dengan populasi besar yang membutuhkan pemantauan kesehatan secara konsisten.

Samsuddin berharap teknologi tersebut membantu peternak mengenali potensi gangguan kesehatan lebih awal. Dengan begitu, peternak dapat segera memeriksa kondisi ayam dan menentukan penanganan yang sesuai.

Meski demikian, kemampuan deteksi penyakit tetap memerlukan pengujian untuk memastikan akurasi sistem. Pemeriksaan lebih lanjut juga diperlukan sebelum peternak mengambil keputusan terkait kesehatan ternak.

Gunakan Weld Mesh untuk Mempermudah Perawatan Kandang

Tim Futechi Farm juga memperhatikan desain fisik kandang. Mereka memilih material weld mesh sebagai alternatif dari kandang konvensional yang menggunakan bambu.

Struktur weld mesh memungkinkan kotoran ayam jatuh ke bagian bawah kandang. Desain ini dapat membantu peternak membersihkan area pemeliharaan dengan lebih praktis.

Tim juga merancang integrasi pengelolaan kotoran ayam dengan kolam lele. Konsep tersebut membuka peluang pemanfaatan sumber daya dalam kegiatan peternakan dan budidaya ikan.

Melalui kombinasi sistem otomatis dan desain kandang, tim ingin membantu peternak mengoptimalkan penggunaan pakan serta mengelola operasional secara lebih teratur. Namun, dampak terhadap produktivitas dan biaya masih perlu diukur melalui penerapan langsung di lapangan.

Samsuddin menegaskan bahwa Futechi Farm tidak hanya menyasar peternakan berskala besar. Ia ingin peternak kecil dan menengah turut merasakan manfaat perkembangan teknologi.

“Kami mendorong transformasi peternakan konvensional menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan demi penguatan ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Futechi Farm Catat Penjualan Awal Rp105 Juta

Tim mulai mengembangkan Futechi Farm melalui riset pada awal Januari 2026. Inovasi tersebut kemudian mencatatkan penjualan awal sebanyak tiga unit platform dengan nilai total Rp105 juta.

Tim menjual dua unit senilai Rp70 juta ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Mereka juga memasarkan satu unit senilai Rp35 juta ke Papua.

Capaian ini menandai langkah awal Futechi Farm dalam membawa hasil riset kampus ke pasar. Tim kini memiliki peluang untuk mengembangkan produk sekaligus menjangkau kebutuhan peternak di berbagai wilayah.

Berdasarkan sumber laman resmi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Futechi Farm mendapat pembinaan dari Inkubator dan Layanan Bisnis Inovatif (ILBI), Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) ITS.

Samsuddin menyebut dukungan pendanaan dari Asian Development Bank (ADB) dan ITS melalui program HETI turut mendukung pengembangan inovasi tersebut. Tim juga memperoleh pendampingan bisnis dari ILBI.

Rektor ITS, Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, ST, MScEng, PhD, menegaskan bahwa hasil riset perguruan tinggi perlu menjawab kebutuhan masyarakat. Menurutnya, inovasi mahasiswa harus memiliki peluang penerapan nyata, bukan sekadar menjadi konsep akademik.

Melalui pendanaan, pembinaan, dan kemitraan, ITS berupaya mendorong inovasi agar berkembang menjadi produk yang bermanfaat. Upaya ini juga mendukung pengembangan sumber daya manusia dan perekonomian nasional.

Tim ITS Siapkan Ekosistem Digital Peternakan

Ke depan, Samsuddin dan tim ingin mengembangkan Futechi Farm menjadi ekosistem digital yang menghubungkan produksi, pemasaran, dan pembiayaan usaha peternakan.

Salah satu rencana mereka ialah memasang sensor penghitung telur pada conveyor. Sensor tersebut nantinya dapat mencatat jumlah produksi harian secara otomatis dan mengirimkan data ke aplikasi Futechi Farm.

Tim juga merancang sistem distribusi pakan otomatis dari gudang menuju kandang. Mereka ingin mengembangkan pendampingan pemeliharaan berdasarkan usia dan kebutuhan ayam.

Di bidang pakan, tim berencana mengeksplorasi bahan berbasis mikroalga. Mereka tengah mendiskusikan peluang kolaborasi riset mengenai pakan tersebut bersama dosen Departemen Biologi ITS.

Selain mengoptimalkan produksi, tim ingin membantu peternak memperluas akses pasar. Mereka merencanakan platform pemasaran yang mempertemukan peternak secara langsung dengan distributor dan pembeli berskala besar.

“Kami ingin Futechi Farm menjadi sarana yang mempertemukan peternak dengan distributor maupun mitra industri yang lebih luas,” kata Samsuddin.

Jika rencana tersebut terealisasi, Futechi Farm berpeluang menghubungkan lebih banyak proses bisnis peternakan dalam satu ekosistem digital. Pengembangan ini juga dapat membuka ruang kolaborasi antara peternak, pelaku industri, dan penyedia teknologi.

Dukung Inovasi dan Pembangunan Berkelanjutan

Pengembangan Futechi Farm turut berkaitan dengan sejumlah tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Inovasi ini sejalan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Melalui Futechi Farm, mahasiswa ITS berupaya menghubungkan riset teknik dengan kebutuhan sektor peternakan. Pendekatan ini menunjukkan peluang pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pengelolaan usaha yang lebih terintegrasi.

Ke depan, pengujian kinerja sistem dan pengembangan fitur akan menjadi bagian penting dalam memperkuat penerapan Futechi Farm. Dengan pengembangan yang terukur, inovasi ini berpeluang mendukung transformasi peternakan sekaligus memperluas akses teknologi bagi pelaku usaha kecil dan menengah.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article