EDUCARE.CO.ID – Selama ini, masyarakat lebih mengenal biji jambu mete sebagai bahan pangan. Padahal, buahnya juga menyimpan potensi untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Sembilan mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mencoba mengangkat potensi tersebut melalui inovasi minuman herbal bernama METEA. Mereka meracik sari buah jambu mete dengan sejumlah rempah untuk menghadirkan minuman bercita rasa asam-manis.
Tim ini terdiri atas Bunga Permata, Lona Novian Ardy, Elfa Syukra, Nia Yuliantika, Fina Ratnawati, Fiony Caesary, Tyara Amelia, Swastika Alvida, dan Annisa Iqlima.
Mereka mengerjakan inovasi METEA melalui Proyek Kepemimpinan mahasiswa bidang studi Kuliner. Gagasan tersebut berangkat dari potensi Desa Mojolegi, Imogiri, Kabupaten Bantul, yang memiliki buah jambu mete.
Mahasiswa UNY Cari Nilai Tambah dari Buah Jambu Mete
Masyarakat umumnya mengambil biji jambu mete untuk menghasilkan berbagai produk pangan. Sementara itu, banyak warga membuang buahnya atau hanya memanfaatkannya sebagai pakan ternak dan pupuk organik.
Kebiasaan tersebut memunculkan gagasan bagi mahasiswa PPG UNY untuk mencari alternatif pemanfaatan buah jambu mete. Mereka melihat peluang untuk mengubah bahan yang kurang mendapat perhatian itu menjadi produk minuman.
Ketua kelompok, Bunga Permata, menjelaskan bahwa METEA lahir dari keinginan tim untuk menggali potensi buah jambu mete.
“Selama ini, ketika berbicara tentang jambu mete, kebanyakan orang hanya mengambil bijinya saja, sementara buahnya sering kali dibuang. Padahal, buah jambu mete juga memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat. Karena itu, kami mencoba memanfaatkannya menjadi minuman sehingga sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah dapat memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” jelas Bunga, Selasa (3/11/2026) di Auditorium UNY.
METEA Gabungkan Sari Jambu Mete dan Empat Rempah
METEA memadukan sari buah jambu mete dengan racikan herbal bernama Seruni. Racikan ini menggunakan empat bahan utama, yakni serai, jahe, kunyit, dan jeruk nipis.
Untuk memperkaya rasa, tim menambahkan gula aren atau gula batu. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan cita rasa asam-manis dengan aroma rempah yang khas.
Pengunjung dapat menikmati METEA dalam kondisi dingin dengan tambahan es batu. Sensasi segar dari sari buah dan perpaduan rempah menjadi ciri utama minuman ini.
Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Negeri Yogyakarta, sembilan mahasiswa PPG bidang studi Kuliner mengembangkan produk tersebut melalui Proyek Kepemimpinan. Mereka mengangkat potensi buah jambu mete di Desa Mojolegi sebagai bahan utama minuman herbal.
Begini Cara Mahasiswa UNY Meracik METEA
Lona Novian Ardy memaparkan tahapan pembuatan METEA yang dimulai dari pengolahan buah jambu mete. Tim terlebih dahulu memotong buah menjadi beberapa bagian.
Selanjutnya, mereka merendam potongan buah dalam air garam selama 10 menit. Setelah itu, tim mengukusnya selama lima menit untuk membantu mengurangi rasa sepat.
Pada tahap berikutnya, mahasiswa merebus serai, jahe, kunyit, dan jeruk nipis hingga mendidih. Mereka kemudian mendinginkan rebusan tersebut sebelum mencampurkannya dengan sari buah jambu mete.
Tim menggunakan perbandingan 1:1 antara sari buah dan rebusan herbal. Setelah mencampurkan kedua bahan, mereka menambahkan gula aren sesuai selera.
Rangkaian proses tersebut menghasilkan minuman dengan perpaduan rasa buah dan rempah. Melalui tahapan ini, mahasiswa berupaya memperkenalkan cara lain untuk mengolah buah jambu mete.

Proyek METEA Asah Kreativitas dan Kepedulian Sosial Mahasiswa
Bagi mahasiswa PPG UNY, proyek METEA tidak sekadar menghasilkan produk minuman. Kegiatan ini juga memberi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan melalui inovasi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.
Selama menjalankan proyek, para mahasiswa mengasah kreativitas, kemampuan berkolaborasi, dan keterampilan mengembangkan gagasan. Mereka juga belajar mengenali potensi lingkungan serta mencari peluang dari sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat.
Pengalaman tersebut memperluas ruang kontribusi calon guru. Mereka tidak hanya menyiapkan diri untuk mengajar di sekolah, tetapi juga dapat mengambil peran dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Inovasi METEA memperlihatkan bahwa bahan yang selama ini kurang mendapat perhatian dapat menghasilkan peluang baru. Melalui pengolahan yang tepat, buah jambu mete dapat menjadi alternatif bahan baku produk kuliner.
Gagasan ini juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengeksplorasi bahan pangan lokal lainnya. Dengan kreativitas dan pengembangan produk, potensi daerah dapat menghasilkan nilai tambah sekaligus mendukung kegiatan ekonomi masyarakat

