Jangan Cuma Pakai Masker! 5 Makanan Ini Bisa Jadi Pelengkap Pola Makan Saat Abu Vulkanik Menyebar

Must read

EDUCARE.CO.ID – Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah erupsi memicu sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar rumah. Selain melindungi diri dari paparan abu, masyarakat juga perlu menjaga kondisi tubuh dan kesehatan saluran pernapasan.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan bahwa debu vulkanik umumnya mengandung partikel halus atau particulate matter (PM).

Partikel halus tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan. Paparan abu juga berpotensi memperburuk kondisi orang yang memiliki gangguan pernapasan tertentu.

“Partikel debu vulkanik yang halus bersifat iritatif sehingga bisa berdampak bagi kesehatan,” kata Agus, dikutip dari detikHealth.

Abu Vulkanik Bisa Ganggu Saluran Pernapasan

Agus menjelaskan bahwa paparan debu halus dapat memicu gangguan pada orang dengan kondisi pernapasan tertentu. Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan asma, misalnya, perlu memberikan perhatian lebih terhadap paparan tersebut.

Paparan dalam waktu panjang juga berpotensi memengaruhi fungsi paru-paru secara bertahap.

Karena itu, masyarakat sebaiknya mengurangi paparan abu vulkanik saat beraktivitas di luar rumah. Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dapat membantu mengurangi masuknya partikel debu.

Selain perlindungan dari luar, masyarakat juga dapat menjaga pola makan dengan memilih makanan bergizi.

Alpukat Kaya Vitamin E

Alpukat menjadi salah satu pilihan makanan yang dapat masuk ke dalam pola makan sehat. Buah ini mengandung vitamin E yang memiliki sifat antioksidan.

Antioksidan membantu tubuh menghadapi paparan radikal bebas. Namun, konsumsi alpukat tidak secara khusus menangkal abu vulkanik atau menggantikan perlindungan dari masker.

Masyarakat dapat menikmati alpukat secara langsung. Pilihan lain mencakup salad atau roti dengan tambahan alpukat.

Agar pola makan tetap seimbang, hindari tambahan gula atau garam dalam jumlah berlebihan.

Brokoli Mengandung Sulforaphane

Brokoli mengandung sulforaphane, senyawa yang banyak mendapat perhatian dalam penelitian terkait polusi dan kesehatan tubuh.

Sejumlah penelitian mengaitkan konsumsi brokoli dengan proses tubuh dalam mengeluarkan senyawa tertentu. Namun, temuan tersebut tidak berarti brokoli dapat menghilangkan dampak abu vulkanik secara langsung.

Brokoli juga mudah masuk ke menu sehari-hari. Masyarakat dapat mengukus, menumis sebentar, atau memasukkannya ke dalam sup.

Tomat Sumber Likopen

Tomat mengandung likopen, salah satu antioksidan yang banyak terdapat pada buah berwarna merah.

Kandungan tersebut mendapat perhatian dalam penelitian mengenai kesehatan tubuh dan perlindungan terhadap stres oksidatif. Pola makan yang kaya sayur dan buah juga membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian.

Masyarakat dapat mengonsumsi tomat sebagai lalapan, salad, sup, atau campuran masakan.

Padukan tomat dengan sumber protein dan sayuran lain agar menu harian semakin beragam.

Minyak Zaitun Mengandung Vitamin E

Minyak zaitun juga dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Bahan ini mengandung vitamin E atau alpha-tocopherol serta asam lemak yang mendukung pola makan dengan sumber lemak tak jenuh.

Sejumlah kajian mengaitkan pola makan yang mengandung minyak zaitun dengan kesehatan tubuh dan proses peradangan. Meski begitu, minyak zaitun bukan perlindungan langsung dari abu vulkanik.

Masyarakat dapat menggunakan minyak zaitun sebagai dressing salad. Cara tersebut juga membantu menghindari pemanasan berlebihan.

Flaxseed Punya Omega-3

Flaxseed atau biji rami mengandung asam lemak omega-3 serta fitoestrogen.

Kandungan tersebut menjadi bagian dari pola makan yang dapat mendukung asupan nutrisi dan antioksidan tubuh. Namun, masyarakat tetap perlu melihat flaxseed sebagai pelengkap makanan, bukan pengganti langkah perlindungan dari abu vulkanik.

Biji rami dapat ditambahkan ke smoothie, salad, oatmeal, maupun makanan panggang.

Jumlah konsumsinya sebaiknya mengikuti kebutuhan dan pola makan masing-masing.

Masker Tetap Jadi Perlindungan Utama

Pola makan sehat dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, tetapi masyarakat tetap perlu memprioritaskan perlindungan dari paparan abu vulkanik.

Saat harus keluar rumah, gunakan masker yang sesuai dan kurangi aktivitas di area dengan paparan abu tinggi. Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.

Lima makanan tersebut dapat menjadi tambahan dalam menu harian:

  • Alpukat untuk asupan vitamin E dan lemak sehat.
  • Brokoli sebagai sumber sulforaphane dan serat.
  • Tomat untuk mendapatkan likopen.
  • Minyak zaitun sebagai sumber lemak tak jenuh dan vitamin E.
  • Flaxseed untuk asupan omega-3 dan fitoestrogen.

Pantau Informasi Resmi Anak Krakatau

Masyarakat perlu mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui sumber resmi. Informasi dari lembaga berwenang dapat membantu masyarakat menentukan langkah yang tepat ketika kondisi abu vulkanik berubah.

Selain itu, jangan mengandalkan makanan sebagai cara utama untuk mencegah dampak abu. Perlindungan fisik, pengurangan paparan, dan kepatuhan terhadap arahan otoritas tetap menjadi langkah penting.

Jika muncul keluhan pernapasan setelah paparan abu, masyarakat sebaiknya memperhatikan kondisi tubuh dan mencari bantuan medis sesuai kebutuhan.

Dengan menjaga pola makan, mengurangi paparan, menggunakan perlindungan yang tepat, serta mengikuti informasi resmi, masyarakat dapat lebih siap menghadapi kondisi lingkungan selama aktivitas Gunung Anak Krakatau berlangsung.

 

Penulis: Putri Faathiman Niara

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article