EDUCARE.CO.ID – Indeks prestasi rendah bukan akhir dari perjalanan akademik. Kisah mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), M Fauzan Adhiima, menjadi salah satu contohnya.
Pada awal kuliah, Fauzan sempat memperoleh IP 2,39 dan hampir mengulang sejumlah mata kuliah. Namun, empat semester berikutnya justru membawa perubahan besar. Ia menemukan ketertarikan pada fisika eksperimen hingga mampu menghasilkan riset dan menerbitkan artikel ilmiah di jurnal terindeks Q1 Elsevier.
Berdasarkan unggahan media sosial FMIPA ITB, perjalanan tersebut bermula ketika Fauzan mulai menemukan bidang fisika yang sesuai dengan minatnya.
Semester 4 Jadi Titik Balik Fauzan
Fauzan memilih ITB sebagai pilihan kedua untuk melanjutkan pendidikan. Ia kemudian masuk Program Studi Fisika FMIPA ITB dengan bekal kemampuan dasar sains yang menurutnya masih tertinggal.
Tahun pertama kuliah menjadi masa yang cukup berat. Ia harus melewati Tahapan Persiapan Bersama (TPB) sekaligus beradaptasi dengan tuntutan akademik di ITB.
Perubahan mulai terasa ketika Fauzan memasuki semester 4. Mata kuliah Sistem Instrumentasi dan Eksperimen Fisika memperkenalkannya pada sisi fisika yang selama ini ia cari.
Bagi Fauzan, fisika ternyata bukan hanya tentang rumus. Ia justru tertarik pada proses membuat sesuatu, melakukan pengukuran, menemukan kesalahan, lalu mencari solusi.
“Kesenangannya bukan pada rumus yang elegan, tetapi pada proses mencoba, gagal, mencoba lagi—sampai solusi ditemukan. Dari situ tumbuh rasa penasaran yang tidak pernah berhenti,” kata Fauzan, dikutip dari unggahan media sosial FMIPA ITB.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong Fauzan untuk mendalami fisika eksperimen.
Riset Fe-Zn Berawal dari Kegagalan
Perjalanan menuju publikasi ilmiah juga tidak berjalan mulus. Fauzan harus menghadapi berbagai kegagalan selama mengembangkan risetnya.
Pada Mei 2025, material pertama yang ia gunakan menghasilkan data yang tidak konsisten. Setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing, Prof. Dr. Eng. Muhammad Miftahul Munir, S.Si., M.Si., Fauzan kemudian beralih menggunakan sistem bubuk Fe-Zn.
Selama Juni hingga November 2025, ia melakukan pengukuran secara manual. Proses tersebut mencakup penimbangan material, pemberian tekanan, pengukuran ketebalan, hingga pencatatan data.
Pekerjaan manual selama berbulan-bulan kemudian mendorong Fauzan membuat solusi sendiri.
Pada Desember 2025, ia merancang dan merakit CAAI 2013, alat ukur resistivitas bubuk otomatis. Ia membangun perangkat tersebut dari awal untuk membantu proses pengukuran riset.
Hampir Membatalkan Riset karena Kalibrasi
Tantangan kembali muncul pada awal 2026. Selama Januari hingga Maret, Fauzan berulang kali mengalami kegagalan dalam melakukan kalibrasi ketebalan.
Kondisi tersebut bahkan hampir membuatnya membatalkan proyek penelitian. Namun, ia menemukan pendekatan lain melalui koreksi matematis setelah proses pengukuran.
Hasilnya mulai terlihat pada Maret hingga Mei 2026. Fauzan menemukan perbedaan resistivitas hingga 56 kali lipat pada dua konfigurasi sampel dengan komposisi identik.
Temuan tersebut mengarah pada persoalan topologi kontak, bukan sekadar perbedaan komposisi material.
Hadapi Permintaan Reviewer hingga Akhirnya Lolos
Setelah riset berkembang, tantangan berikutnya datang dari proses publikasi. Pada periode Mei hingga Agustus 2026, reviewer meminta data XPS dan TEM.
Masalahnya, kedua fasilitas tersebut tidak tersedia di laboratorium tempat Fauzan melakukan penelitian.
Alih-alih berhenti, Fauzan mencari bukti alternatif yang tetap dapat mendukung hasil penelitiannya. Ia menghabiskan sekitar tiga pekan untuk menemukan pendekatan yang dianggap cukup valid.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 4 Agustus 2026, artikel penelitian Fauzan resmi terbit.
Artikel tersebut berjudul “Configuration-dependent in-situ electrical resistivity in Fe-Zn binary powder compacts: Sandwich asymmetry and the role of punch-contact topology” dan tercantum pada Volume 485 Part 1.
Dari IP Rendah hingga Publikasi Ilmiah
Perjalanan Fauzan menunjukkan bahwa capaian akademik tidak selalu berjalan lurus sejak semester pertama. IP 2,39 yang pernah ia peroleh justru menjadi bagian dari proses panjang untuk menemukan bidang yang benar-benar ia minati.
Setelah menemukan ketertarikan pada fisika eksperimen, Fauzan mulai membangun kemampuan melalui praktik langsung, riset, kegagalan, hingga pengembangan alat.
Perjalanannya juga memperlihatkan bahwa penelitian mahasiswa membutuhkan ketekunan. Mulai dari data yang tidak konsisten, pengukuran manual, alat yang harus dirakit sendiri, kegagalan kalibrasi, hingga tuntutan reviewer, semuanya menjadi bagian dari proses menuju publikasi.
Pada akhirnya, kisah Fauzan bukan sekadar tentang keberhasilan menerbitkan artikel Q1. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa menemukan passion, berani mencoba, dan tidak berhenti ketika menghadapi kegagalan dapat membuka jalan menuju pencapaian akademik yang lebih besar.



