Integrasi Kesehatan Mulut dan Sistemik Jadi Kunci Menuju Indonesia Sehat 2030
EDUCARE.CO.ID, Depok –
Dalam upaya mewujudkan Indonesia Sehat 2030, integrasi antara kesehatan mulut dan kesehatan sistemik menjadi isu penting yang semakin mendapat perhatian dari kalangan akademisi dan praktisi kesehatan. Fenomena penduduk menua (ageing population) menuntut sistem kesehatan nasional untuk lebih siap menghadapi berbagai penyakit degeneratif yang kerap dialami oleh kelompok lanjut usia (lansia).
Menurut Prof. Dr. Febrina Rahmayanti, drg., Sp.PM, Subsp. Inf.Im, Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia (UI), peningkatan usia harapan hidup masyarakat Indonesia membawa tantangan besar terhadap sistem kesehatan nasional.
“Usia lanjut umumnya disertai peningkatan risiko penyakit degeneratif. Lansia bisa bebas dari penyakit, memiliki satu penyakit sistemik, atau bahkan mengidap lebih dari dua penyakit sistemik yang disebut geriatrik,” jelas Prof. Febrina dalam pidato pengukuhan guru besarnya yang berlangsung di Balai Sidang, Kampus UI Depok, Rabu (29/10).
Kesehatan Mulut dan Penyakit Sistemik: Hubungan yang Tak Terpisahkan
Dalam pidatonya yang berjudul “Integrasi Kesehatan Mulut dan Sistemik: Kolaborasi Multidisiplin Menuju Indonesia Sehat 2030”, Prof. Febrina menegaskan bahwa penyakit sistemik dan penggunaan obat-obatan sering kali berdampak pada kesehatan rongga mulut, salah satunya adalah mulut kering (xerostomia).
“Air liur memiliki peran penting menjaga keseimbangan mikroorganisme di dalam mulut. Ketika produksi air liur berkurang, akan terjadi disbiosis yang meningkatkan risiko infeksi virus, bakteri, hingga jamur,” paparnya.
Gangguan kesehatan gigi dan mulut seperti gigi berlubang, peradangan gusi, sisa akar gigi, atau luka pada mukosa mulut, dapat memicu penyakit sistemik seperti:
-
Endokarditis dan gangguan kardiovaskular
-
Rheumatoid arthritis dan osteoporosis
-
Gangguan kontrol glikemik pada penderita diabetes
-
Stunting pada anak-anak
-
Masalah pada sistem pencernaan
Kolaborasi Multidisiplin untuk Indonesia Sehat 2030
Prof. Febrina menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif lintas disiplin dalam sistem pelayanan kesehatan. Menurutnya, dokter gigi spesialis penyakit mulut memiliki peran strategis dalam menjembatani keterkaitan antara kesehatan mulut dan penyakit sistemik.
“Kesehatan mulut merupakan bagian fundamental dari tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu kehidupan sehat dan sejahtera. Penanganan pasien sebaiknya dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi dengan melibatkan berbagai tenaga kesehatan serta pemangku kebijakan,” ujar Prof. Febrina.
Pendekatan kolaboratif ini diyakini menjadi kunci untuk mencapai target Indonesia Sehat 2030 sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Penelitian dan Dedikasi untuk Literasi Kesehatan Gigi dan Mulut
Selain riset yang mendasari pidato pengukuhan, Prof. Febrina juga aktif dalam berbagai penelitian lain di bidang penyakit mulut dan infeksi imunologi, di antaranya:
-
Knowledge, Attitude, and Barrier toward Smoking Cessation Counseling: A Cross-Sectional Study among Clinical Dental Students in Indonesia (2025)
-
Oral Manifestation of Anaemia and Vitamin D Insufficiency in a Pediatric Patient (2025)
-
Knowledge, Attitudes, and Practices of Nursing Staff Regarding Oral Health and Oral Care for Mentally Challenged Patients in the Indonesian National Mental Health Hospital (2025)
Selain aktif meneliti, Prof. Febrina juga terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan literasi kesehatan gigi dan mulut di Indonesia. Ia berkomitmen memperkuat kolaborasi multidisiplin guna membangun sistem kesehatan nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
