Era revolusi Industri 4.0 saat ini menuntut kita beradaptasi pada masifnya penggunaan teknologi untuk tetap produktif dan tidak tertinggal. Ilmu pengetahuan, teknologi, serta inovasi merupakan komponen penting untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi derasnya arus persaingan global dan juga membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah (middle-income trap).

Hal itu diungkapkan Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Amerika Serikat, Rosan Roeslani dalam Webinar Serial Bincang Karya (Bianka) ke-36 yang mengangkat tema Ilmu Komputer, Selasa (31/5). Bianka digelar Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington, D.C. dan berkolaborasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) serta Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI). Webinar diisi paparan dari sejumlah mahasiswa Indonesia yang tengah menyelesaikan studi master dan doktoralnya di tiga universitas terkemuka di Amerika Serikat.

Dilanjutkan Dubes Rosan, penggunaan teknologi komputer sudah merambah dunia industri guna meningkatkan produktivitas. “Ilmu komputer juga dipakai dalam penerapan e-government khususnya dalam pelayanan publik dan reformasi birokrasi secara umum,” tuturnya.

Calon doktor ilmu komputer dari Binghamton University, Satrio Baskoro Yudhoatmojo, memaparkan risetnya yang berfokus pada analisa kuantitatif data media sosial dari extremist group dan fringe group seperti kelompok sayap kanan.

“Saya mengambil tema ini karena beberapa tahun belakangan kita bisa melihat berbagai macam polarisasi muncul di platform media sosial. Contohnya, di Indonesia tahun 2019, terdapat beberapa aktivitas yang menggunakan identitas untuk memaksakan agenda tertentu ke khalayak umum,” terang Satrio.

Menurut Satrio, riset ini bermanfaat bagi Indonesia untuk memahami perkembangan perilaku warga Indonesia khususnya di platform media sosial terkait isu-isu yang menyebabkan terjadinya polarisasi pendapat.

Muhammad Gumilang, pelajar Indonesia yang tengah menyelesaikan studi magister Ilmu Komputer di Cornell University mempresentasikan proyek yang saat ini ia kerjakan bersama Cornell University Law School, yakni legal information institute.

“Proyek yang saya ambil adalah semantic legal systems, yaitu pengembangan program untuk memberikan definisi yang tepat pada kata-kata ambigu pada webpage states regulation. Tugas kami memunculkan kata yang paling tepat sesuai dengan teks pada webpage,” terang Gumilang.

Sementara itu, Muhammad Santriaji, calon doktor bidang Ilmu Komputer di University of Chicago mempresentasikan risetnya yang bertujuan memberikan kemampuan adaptasi terhadap komputer atau sistem komputer yang meliputi aplikasi dan juga perangkat keras (hardware) di komputer itu.

“Selain itu, hal ini juga memberi insentif kepada para pemngku kepentingan  yang memberikan kesempatan kepada saya untuk membuat sistem mereka dapat beradaptasi. Seperti bunglon, Ketika ada bahaya warnanya akan berubah,” terang Aji.

Menurut Aji, adaptasi dalam hal ini artinya kemampuan konfigurasi kembali untuk menyesuaikan lingkungan. Contonya yakni dalam sistem cloud, di mana Aji membuat sistem cloud untuk beradaptasi menggunakan sumber daya berdasarkan jumlah pengguna yang memakai sistem tersebut untuk mengatasi permasalahan yang muncul.

Weiyi Meng, Department Chair, Computer Science, Binghamton University, New York, yang hadir dalam kesempatan ini, mengungkapkan bahwa akademisi dari kampusnya banyak yang mengerjakan riset bidang keamanan siber, kerahasiaan data, mobile and cloud computingedge computing, HPC, distributed systemsreal-time systemsweb-based information system, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Dean of Students, Physical Science Department, University of Chicago, Chicago, Illinois, Bahareh Lampert, menjelaskan ragam program yang institusinya tawarkan.

“Bidang Astronomy and Astrophysics and Geophisical Sciences di kampus kami tengah bekerja sama dengan FermiLab dan institusi lainnya guna mengerjakan beberapa riset seperti The Universe Beyond Our Milky Way galaxy, The Extreme universe, dan lain sebagainya. Sedangkan area riset di program doktor Ilmu Fisika meliputi Accelerator Physics, Astrophysics, dan lain-lain,” terang Bahareh.

Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Jamal Wiwoho, dalam kesempatan berbeda, menyatakan dukungannya atas upaya KBRI Washington D.C. mendorong generasi muda Indonesia, baik akademisi maupun profesional, meningkatkan keterampilan dengan melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri, salah satunya ke Amerika Serikat.

“Ini kesempatan bagus untuk membuka peluang meningkatkan keterampilan, sehingga mereka bisa menjadi pelopor dan membagikan ilmunya kelak tentu juga berkontribusi terhadap perkembangan teknologi di Indonesia. Terima kasih atas komitmen KBRI Washington D.C. untuk terus menyelenggarakan Bianka,” tutur Jamal.

Dijelaskan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) RI KBRI Washington, D.C., Popy Rufaidah, Bianka bertujuan untuk membuka peluang kerja sama bidang ilmu komputer antara peneliti ataupun profesional Indonesia dengan peneliti atau institusi terkait di Amerika Serikat.

“Kita ingin SDM ilmu komputer di tanah air meningkat kualitas dan kuantitasnya, salah satunya melalui kerja sama riset atau pendidikan dengan instansi terkemuka di Amerika Serikat,” ungkap Atdikbud Popy dalam kesempatan yang sama.
Diterangkan Atdikbud Popy, dirinya berharap jumlah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi ke Amerika dapat meningkat seiring dengan tersedianya beragam beasiswa, salah satunya beasiswa yang digelar LPDP.

Direktur Riset LPDP, Wisnu S. Soenarso, yang hadir dalam kesempatan ini, juga menekankan pentingnya peran ahli komputer yang mengemban tanggung jawab penting di era modern. “Para ahli komputer memegang peran krusial di dunia bisnis digital yang sudah menjadi tren di Indonesia,” ungkap Wisnu.

Sayangnya, menurut Wisnu, kebutuhan SDM bidang ilmu komputer tidak diimbangi dengan ketersediaan SDM yang cukup. “Untuk itu, LPDP bersama pemerintah mendorong peningkatan jumlah dan mutu generasi muda RI bidang ilmu komputer untuk meningkatkan skill, salah satunya dengan menempuh studi ke Amerika Serikat,” ucap Wisnu.

By Redaksi