EDUCARE.CO.ID-Penyuluh Agama Islam tidak hanya berperan dalam pembinaan keagamaan. Mereka juga mampu menorehkan prestasi di berbagai bidang, termasuk florikultura dan desain lanskap.
Hal tersebut dibuktikan Marliana, Penyuluh Agama Islam asal Kabupaten Tanahlaut, Kalimantan Selatan. Ia berhasil mengharumkan nama Indonesia setelah meraih Juara 2 kategori Lanskap Besar dalam ajang Malaysia Highest Flower Exhibition 2026 yang berlangsung di Resorts World Awana, Genting Highlands, Malaysia.
Prestasi tersebut mendapat apresiasi dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama.
Direktur Penerangan Agama Islam, Muchlis Hanafi, menilai keberhasilan Marliana menunjukkan bahwa penyuluh agama memiliki kapasitas yang luas dan mampu memberikan kontribusi di berbagai sektor kehidupan masyarakat.
“Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi keluarga besar Kementerian Agama. Penyuluh agama tidak hanya hadir mendampingi masyarakat dalam pembinaan keagamaan, tetapi juga mampu menunjukkan karya dan prestasi di tingkat internasional,” ujar Muchlis Hanafi di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Bawa Kekayaan Flora Indonesia ke Ajang Internasional
Menurut Muchlis, capaian tersebut membuktikan bahwa pengabdian sebagai penyuluh agama dapat berjalan beriringan dengan pengembangan potensi diri serta kontribusi sosial yang lebih luas.
Selain itu, keikutsertaan Marliana dalam kompetisi internasional turut memperkenalkan kekayaan flora tropis Indonesia kepada masyarakat dunia.
Ia menilai langkah tersebut menjadi bagian dari diplomasi budaya yang membawa citra positif Indonesia di tingkat global.
“Keikutsertaan dalam ajang internasional seperti ini tidak hanya membawa nama pribadi atau daerah, tetapi juga memperkenalkan kekayaan hayati Indonesia kepada masyarakat dunia. Ini merupakan bentuk diplomasi budaya yang patut diapresiasi,” katanya.
Indonesia Raih Posisi Kedua
Malaysia Highest Flower Exhibition dikenal sebagai salah satu pameran dan kompetisi florikultura terbesar di Asia Tenggara.
Ajang tersebut menghadirkan peserta dari berbagai negara, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Taiwan, dan Vietnam.
Pada kompetisi tahun ini, Indonesia mengirimkan enam peserta yang berangkat secara mandiri. Dua peserta berasal dari Surabaya, sementara empat peserta lainnya berasal dari Kabupaten Tanahlaut.
Tim Indonesia mengikuti kategori Lanskap Besar dengan luas area pameran mencapai 32 meter persegi.
Melalui kreativitas dan inovasi yang ditampilkan, tim Indonesia berhasil meraih posisi kedua. Thailand menempati posisi pertama, sedangkan Malaysia berada di posisi ketiga.
Menurut Muchlis, hasil tersebut menunjukkan bahwa pelaku florikultura Indonesia memiliki daya saing yang kuat di tingkat internasional.
Berawal dari Kecintaan pada Anggrek
Marliana mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam kompetisi internasional berawal dari hobinya merawat tanaman anggrek.
Selain aktif sebagai penyuluh agama, ia juga beberapa kali menjadi pengurus Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Kabupaten Tanahlaut.
Kesempatan mengikuti pameran di Malaysia datang setelah dirinya menerima undangan bersama Selamat Riady Humaedi dan Rudi, yang juga berprofesi sebagai juri anggrek internasional.
“Kami berangkat mewakili Indonesia bersama Pak Win dan Pak Rudi. Pak Rudi dan Pak Win juga merupakan juri anggrek internasional. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami,” ujar Marliana.
Penyuluh Agama Juga Bisa Menjadi Agen Pelestarian Lingkungan
Menurut Marliana, tugas penyuluh agama tidak hanya menyampaikan materi keagamaan kepada masyarakat.
Sebaliknya, penyuluh juga dapat mengajak masyarakat mencintai lingkungan, merawat tanaman, serta menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab manusia.
Ia mengaku mendapatkan pengalaman berharga saat bertemu para pecinta anggrek dari berbagai negara dan melihat beragam jenis anggrek yang sebelumnya belum pernah ditemuinya secara langsung.
“Kami bisa melihat begitu banyak anggrek yang luar biasa indah. Dari situ semakin terasa betapa agung dan indahnya ciptaan Allah. Saya juga ingin mengajak para penyuluh agama untuk terus berkarya, berinovasi, dan berani tampil di tingkat internasional. Kalau orang lain bisa, mengapa kita tidak bisa?” tuturnya.
Melalui prestasi tersebut, Marliana membuktikan bahwa penyuluh agama mampu menjadi agen pemberdayaan yang memberikan manfaat lintas sektor. Tidak hanya berdakwah, mereka juga dapat mengangkat potensi lokal, menginspirasi masyarakat, dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.



