Gabungkan Jahe dan Serat Nanas, Mahasiswi POLSUB Ciptakan MENSTRUA-PINE PATCH

Must read

EDUCARE.CO.ID – Lima mahasiswi Politeknik Negeri Subang (POLSUB) mengembangkan inovasi kesehatan berbahan alam. Mereka menciptakan MENSTRUA-PINE PATCH, plester hangat yang memadukan serat limbah daun nanas dan ekstrak jahe. Inovasi ini mereka rancang untuk membantu meredakan nyeri haid melalui pendekatan nonfarmakologis.

Tim tersebut berasal dari Program Studi D3 Keperawatan, Jurusan Kesehatan POLSUB. Oca Salsa Dwi Nuraini memimpin tim bersama Azkca Siti Sucila, Azrina Shefyra, Mustika Mely Salamah, dan Ghaitsaa Refaulla Syifa. Dosen Jurusan Kesehatan POLSUB, Nessy Anggun Primasari, membimbing pengembangan produk ini.

MENSTRUA-PINE PATCH menawarkan cara praktis untuk memberikan sensasi hangat pada perut bagian bawah. Selain mengembangkan produk kesehatan, tim juga memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku. Mereka merancang plester ini agar mudah terurai secara alami.

Ketua tim, Oca Salsa Dwi Nuraini, menjelaskan bahwa gagasan tersebut berawal dari persoalan nyeri menstruasi pada remaja putri. Keluhan ini kerap mengganggu konsentrasi belajar dan aktivitas sehari-hari.

Oca mengutip data riset yang mencatat 92,5 persen dari 362 responden remaja putri mengalami nyeri haid. Tingkat keparahannya beragam. Data tersebut juga mencatat angka 98,8 persen di Jawa Barat dan 87,5 persen di Jakarta.

Secara medis, prostaglandin berperan dalam memicu kontraksi rahim selama menstruasi. Produksi senyawa ini dapat meningkatkan kram dan intensitas nyeri. Kondisi tersebut bisa mengganggu konsentrasi, partisipasi di kelas, dan produktivitas akademik.

“Tingginya angka kejadian tersebut menjadi alasan kuat perlunya pengelolaan nyeri yang praktis agar aktivitas belajar dan kualitas hidup remaja putri tetap terjaga. Salah satu metode non-farmakologis yang efektif adalah terapi hangat lokal (heat therapy) pada perut bagian bawah, yang bekerja melebarkan pembuluh darah (vasodilatasi), melancarkan aliran darah lokal, serta merelaksasi otot rahim yang menegang,” jelas Oca.

Limbah Daun Nanas Jadi Bahan Dasar Plester

MENSTRUA-PINE PATCH memiliki keunikan pada lapisan dasar atau matriksnya. Tim memilih kain berbasis serat alam dari limbah daun nanas. Mereka tidak menggunakan plastik sintetis sekali pakai sebagai bahan utama matriks tersebut.

Pilihan ini sesuai dengan potensi pertanian Kabupaten Subang. Daerah tersebut memiliki komoditas nanas yang menghasilkan limbah daun dalam jumlah besar. Tim melihat peluang untuk mengolah limbah itu menjadi bahan bernilai tambah.

Oca menjelaskan bahwa serat daun nanas mengandung selulosa yang berpotensi mendukung pembuatan biomaterial. Karakteristik serat yang ringan dan fleksibel juga membuka peluang pemanfaatan dalam tekstil medis.

“Selulosa pada serat limbah daun nanas memiliki keunggulan sifat yang aman bagi jaringan kulit (biokompatibel), mudah terurai secara alami (biodegradable), kuat namun tetap ringan dan fleksibel, serta dapat dimodifikasi secara kimia. Karakteristik inilah yang menjadikannya sangat potensial sebagai biomaterial untuk matriks patch topikal maupun sistem penghantaran zat aktif di kulit,” ungkap Oca.

Inovasi ini juga menawarkan peluang bagi pengembangan ekonomi sirkular. Melalui pendekatan tersebut, pelaku usaha dapat mengolah limbah pertanian menjadi bahan untuk produk baru. Namun, pengembang tetap perlu menguji keamanan dan kualitas material sebelum menggunakannya secara luas.

Atasi Nyeri Haid Tanpa Obat, Mahasiswi Keperawatan POLSUB Ciptakan Plester Hangat dari Daun Nanas-dan-Jahe

Ekstrak Jahe Hadirkan Sensasi Hangat

Tim memadukan serat daun nanas dengan ekstrak jahe sebagai bahan aktif. Mereka memilih jahe karena tanaman ini mengandung senyawa gingerol dan shogaol. Sejumlah penelitian mengkaji senyawa tersebut terkait potensi efek antinyeri dan antiinflamasi.

Dosen pembimbing, Nessy Anggun Primasari, menjelaskan bahwa tim menyoroti senyawa 8-shogaol. Senyawa ini dapat berinteraksi dengan reseptor TRPV1, yang berperan dalam respons tubuh terhadap panas dan nyeri.

Tim kemudian mengembangkan ekstrak jahe menjadi plester tempel. Bentuk ini menawarkan cara penggunaan yang praktis dibandingkan kompres basah. Pengguna tidak perlu menyiapkan kompres setiap kali ingin mengaplikasikannya.

“Melalui formulasi patch transdermal, penghantaran zat aktif ekstrak jahe menembus kulit menjadi jauh lebih praktis, terukur, dan meminimalkan efek samping. Hasil evaluasi fisik dan stabilitas termal yang dilakukan mahasiswi menunjukkan bahwa sediaan plester ini memiliki efektivitas biologis yang baik sebagai terapi komplementer untuk menurunkan intensitas nyeri haid,” tutur Nessy.

Meski begitu, hasil evaluasi fisik dan stabilitas belum membuktikan manfaat klinis pada manusia. Tim masih perlu memastikan keamanan, potensi iritasi kulit, dosis, dan efektivitas produk melalui pengujian yang sesuai.

MENSTRUA-PINE PATCH Tampil di Bazar POLSUB

Tim memperkenalkan MENSTRUA-PINE PATCH melalui bazar Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Unit Pengembangan Karier dan Kewirausahaan (UPKK) POLSUB menggelar kegiatan tersebut di Kampus Cibogo POLSUB.

Bazar berlangsung bersamaan dengan Lomba Olahraga Baris Berbaris (LOBB) Kejuaraan Daerah (Kejurda) FORBASI Jawa Barat pada Sabtu (17/10).

Produk tersebut menarik perhatian akademisi, pelajar, dan masyarakat umum. Para pengunjung ingin mengetahui cara tim mengolah serat kasar daun nanas menjadi bahan dasar plester kesehatan.

Melalui bazar ini, tim juga memperkenalkan hasil riset terapan kepada masyarakat. Mereka memperoleh kesempatan untuk menjelaskan konsep produk dan mengenalkan potensi pemanfaatan limbah pertanian.

Kegiatan kewirausahaan seperti ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide menjadi produk. Mereka juga dapat menghimpun masukan awal sebelum melangkah ke tahap pengembangan berikutnya.

Berpeluang Kembangkan Produk Kesehatan Berbahan Lokal

MENSTRUA-PINE PATCH memperlihatkan peluang kolaborasi antara bidang kesehatan, riset mahasiswa, dan pemanfaatan limbah pertanian. Inovasi ini juga membuka kemungkinan pengembangan produk bernilai tambah dari komoditas lokal Subang.

Tim berharap dapat membawa produknya menuju tahap produksi yang lebih luas. Namun, mereka perlu memastikan keamanan, mutu, dan manfaatnya melalui pengujian yang memadai. Langkah tersebut penting sebelum produk digunakan oleh masyarakat.

Jika pengembangan berjalan baik, inovasi ini berpotensi menjadi pilihan pendukung dalam penanganan nyeri haid. Pemanfaatan serat daun nanas juga dapat memperluas penggunaan limbah pertanian untuk kebutuhan lain.

Berdasarkan sumber Politeknik Negeri Subang (POLSUB), lima mahasiswi D3 Keperawatan mengembangkan MENSTRUA-PINE PATCH dengan memadukan serat limbah daun nanas dan ekstrak jahe. Mereka memperkenalkan inovasi tersebut melalui bazar Program Mahasiswa Wirausaha untuk menjangkau masyarakat dan mengenalkan hasil riset terapan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article