EDUCARE.CO.ID – Bangunan sekolah yang layak dapat mengubah pengalaman belajar murid. Hal itu kini dirasakan warga SMK Negeri 1 Sinabang, Kabupaten Simeulue, Aceh, setelah program Revitalisasi Satuan Pendidikan menghadirkan sejumlah fasilitas baru.
Sekolah yang berada di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) tersebut kini memiliki ruang kelas, ruang praktik, laboratorium, serta fasilitas pendukung lain yang lebih layak.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meresmikan hasil revitalisasi satuan pendidikan tahun 2025 se-Kabupaten Simeulue di SMK Negeri 1 Sinabang pada Selasa (25/8/2026).
Berdasarkan siaran pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Nomor 759/sipers/A6/VIII/2026, pemerintah menjalankan program ini untuk memperkuat pemerataan akses pendidikan bermutu, termasuk bagi masyarakat di wilayah 3T.

Bangunan Rusak Berubah Menjadi Fasilitas Belajar Baru
Sebelum program revitalisasi hadir, sejumlah bangunan di SMK Negeri 1 Sinabang mengalami kerusakan yang cukup serius.
Kepala SMK Negeri 1 Sinabang, Amaliati, mengatakan atap sekolah banyak mengalami kebocoran. Plafon rusak, dinding retak, dan lantai pecah juga mengganggu kenyamanan murid saat belajar.
Kondisi tersebut mendorong pihak sekolah mengajukan program revitalisasi kepada pemerintah.
“Karena melihat kondisi di lapangan bahwa sekolah kami banyak yang sudah atapnya bocor, plafonnya juga sudah bocor, dindingnya sudah retak-retak, lantainya sudah pecah. Melihat kondisi seperti itu tidak nyaman untuk murid, maka kami mengusulkan untuk dilakukan revitalisasi,” ujar Amaliati.
Melalui program revitalisasi, SMK Negeri 1 Sinabang kini memiliki sembilan ruang kelas baru, tiga ruang praktik siswa, dua laboratorium IPAS, satu unit rumah dinas, serta satu ruang administrasi.
Fasilitas tersebut memberi ruang belajar yang lebih aman dan nyaman bagi murid.
Murid Kuliner Kini Memiliki Ruang Kelas Sendiri
Perubahan paling terasa datang dari program keahlian Kuliner.
Sebelum sekolah memperoleh fasilitas baru, keterbatasan ruang memaksa murid Kuliner belajar di laboratorium Tata Busana.
Mulia Afiani, murid kelas XI Kuliner, mengaku sangat senang karena kini ia dan teman-temannya memiliki ruang kelas sendiri.
“Perasaannya senang. Soalnya sebelum ada kelas itu kami ditempatkan di dalam kelas lab Tata Busana. Kelas kami ini digabung sama busana,” kata Mulia.
Kini, ruang kelas baru berada dekat dengan laboratorium Kuliner. Lokasi tersebut memudahkan murid mengikuti kegiatan belajar dan praktik.
Irene Rahmadani, murid kelas XI Kuliner, juga merasakan perubahan besar setelah sekolah memiliki bangunan baru.
Menurutnya, ruang belajar saat ini terasa lebih nyaman, bersih, sejuk, dan kokoh dibandingkan bangunan sebelumnya.
Peralatan Praktik Masih Menjadi Tantangan
Meski sekolah kini memiliki bangunan yang lebih baik, murid program keahlian Kuliner masih menghadapi keterbatasan peralatan praktik.
Untuk membuat berbagai produk makanan, mereka masih menggunakan mixer rumah tangga. Peralatan tersebut terkadang mengalami panas berlebih dan mati saat digunakan dalam kegiatan praktik.
Kondisi itu dapat menghambat proses pembelajaran karena murid membutuhkan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan vokasi.
Amaliati berharap pemerintah segera merealisasikan bantuan peralatan laboratorium untuk SMK Negeri 1 Sinabang.
Menurutnya, pendidikan vokasi membutuhkan fasilitas praktik yang memadai agar murid dapat mengembangkan keterampilan sesuai bidang keahliannya.
Kebutuhan tersebut semakin penting bagi sekolah yang berada di wilayah terluar seperti Kabupaten Simeulue. Dengan dukungan fasilitas yang tepat, sekolah dapat membantu lulusan memiliki kompetensi yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Mendikdasmen: Bangunan Baru Harus Meningkatkan Kualitas Belajar
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pemerintah tidak menjadikan pembangunan fisik sekolah sebagai tujuan akhir.
Menurutnya, revitalisasi dan digitalisasi harus membantu sekolah meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Revitalisasi dan digitalisasi itu bukan tujuan, tetapi sarana untuk kita meningkatkan kualitas pembelajaran dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan,” ujar Abdul Mu’ti.
Karena itu, pembangunan ruang kelas dan fasilitas baru harus memberikan manfaat nyata bagi proses belajar murid.
Bagi sekolah vokasi, manfaat tersebut juga berkaitan langsung dengan kesempatan murid untuk mengembangkan keterampilan melalui kegiatan praktik.
SMK Membutuhkan Peralatan yang Mengikuti Kebutuhan Industri
Dalam kunjungan kerja tersebut, Abdul Mu’ti didampingi Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin.
Tatang menekankan bahwa program revitalisasi di wilayah 3T perlu berjalan bersama dengan penguatan sarana pembelajaran.
Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya memiliki bangunan yang layak. SMK juga membutuhkan peralatan praktik yang sesuai dengan kompetensi keahlian dan perkembangan dunia kerja.
“Revitalisasi Satuan Pendidikan tidak berhenti pada perbaikan bangunan, tetapi perlu diikuti dengan penguatan sarana pembelajaran. Dalam pendidikan vokasi, ketersediaan peralatan praktik yang sesuai dengan kompetensi keahlian dan perkembangan kebutuhan industri menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran serta kompetensi lulusan,” jelas Tatang.
Ia menambahkan, sekolah perlu menyesuaikan penyediaan peralatan dengan kompetensi keahlian, standar sarana pendidikan, dan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Langkah tersebut dapat membantu murid memperoleh pengalaman belajar yang relevan sebelum memasuki dunia kerja.
Revitalisasi Menjadi Langkah Awal Pemerataan Pendidikan di Wilayah 3T
Program revitalisasi SMK Negeri 1 Sinabang menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan bermutu membutuhkan perhatian yang menyeluruh.
Pemerintah perlu menyediakan bangunan yang aman dan nyaman agar murid dapat belajar dengan baik. Namun, sekolah vokasi juga membutuhkan dukungan peralatan praktik agar proses pembelajaran berjalan lebih optimal.
Bagi murid program Kuliner di SMK Negeri 1 Sinabang, ruang kelas baru menjadi awal perubahan yang mereka nantikan.
Selanjutnya, pemenuhan peralatan praktik dapat memperkuat proses pendidikan vokasi dan membantu murid mengembangkan keterampilan secara lebih maksimal.
Melalui penguatan fasilitas secara bertahap, sekolah di wilayah 3T diharapkan tidak hanya memiliki ruang belajar yang layak. Sekolah juga perlu memiliki sarana yang mampu mendukung murid menjadi lulusan kompeten dan siap menghadapi kebutuhan dunia kerja.


