EDUCARE.CO.ID – Daun pandan tidak hanya dimanfaatkan sebagai pewangi dan perasa makanan. Lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan tanaman tersebut menjadi PandaSpray, produk semprot berbahan ekstrak pandan yang ditujukan untuk membantu meredakan nyeri lokal.
Inovasi karya mahasiswa Program Studi Fisioterapi UMS ini meraih Gold Medal dalam International Science and Invention Fair (ISIF) 2026. Kompetisi tersebut berlangsung di Universitas Indonesia pada 13–18 Oktober 2026 melalui karya berjudul “Evidence-Based Herbal Innovation: Pandan Extract Spray for Local Pain Relief”.
Tim pengembang terdiri atas Laila Ramadhani N.A., Anindita Ismia Putri, Nadya Maulita Putri, Sri Sulistiani T. Ladjidji, dan Rifki Faiz Pratama. Mereka mengangkat potensi tanaman lokal yang pemanfaatannya selama ini lebih banyak berkaitan dengan kebutuhan kuliner.
Berangkat dari Potensi Daun Pandan
Nadya Maulita Putri menjelaskan bahwa gagasan PandaSpray muncul dari kebutuhan masyarakat terhadap pilihan perawatan nyeri otot dan sendi yang praktis serta terjangkau.
Tim kemudian melihat peluang dari daun pandan atau Pandanus amaryllifolius. Tanaman yang mudah ditemukan di Indonesia ini mengandung sejumlah senyawa aktif, tetapi masyarakat lebih sering mengenalnya sebagai bahan pewangi dan perasa makanan.
“Kami mencari alternatif berbahan alam yang praktis dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pandan mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, alkaloid, tanin, polifenol, saponin, dan terpenoid yang berpotensi memiliki efek antioksidan dan antiinflamasi,” ujar Nadya, Sabtu (31/10/2026).
Berdasarkan sumber Universitas Muhammadiyah Surakarta, tim mengembangkan PandaSpray melalui sejumlah tahapan formulasi dan pengujian. Mereka tidak hanya mengolah ekstrak daun pandan, tetapi juga mengevaluasi stabilitas, keamanan, serta efektivitas awal produk.
Formulasi Spray dengan Sensasi Dingin
PandaSpray menggunakan ekstrak daun pandan, etanol 70 persen, mentol 10 persen, serta tambahan aroma lavender dan citrus. Tim memilih bentuk spray agar pengguna dapat mengaplikasikan produk secara praktis dan higienis tanpa perlu mengoleskannya menggunakan tangan.
Mentol memberikan sensasi dingin saat penggunaan. Sementara itu, aroma lavender dan citrus bertujuan meningkatkan kenyamanan pengguna.
Pengembangan produk berlangsung melalui tiga tahap. Pertama, tim membuat ekstrak dan menyusun formulasi. Selanjutnya, mereka menguji stabilitas produk. Tahap terakhir mencakup pengujian keamanan dan efektivitas awal.
Hasil Pengujian Awal PandaSpray
Dalam pengujian stabilitas selama 28 hari pada suhu 4 dan 25 derajat Celsius, PandaSpray menunjukkan kestabilan dengan nilai pH berkisar antara 6,64 hingga 6,85.
Tim juga menguji keamanan produk terhadap 30 relawan sehat. Selama periode pengamatan, pengujian tersebut tidak menunjukkan kemerahan pada kulit para relawan.
Selain stabilitas dan keamanan, tim melakukan pengujian efektivitas awal pada dua kasus. Hasil pengamatan mencatat penurunan skala nyeri haid dari 7 menjadi 3. Pada kasus nyeri otot setelah olahraga, skala nyeri turun dari 7 menjadi 4 dalam waktu 24 jam.
Meski demikian, Nadya menegaskan bahwa hasil tersebut masih bersifat awal. Tim membutuhkan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar, kelompok pembanding, serta pemantauan keamanan dan efektivitas dalam jangka panjang.
Karena itu, hasil pengujian saat ini belum cukup untuk memastikan efektivitas PandaSpray sebagai produk pereda nyeri secara umum.
Hadapi Tantangan Formulasi dan Pengujian Senyawa
Selama mengembangkan PandaSpray, tim menghadapi tantangan dalam menentukan formula dan kemasan yang sesuai. Mereka harus melakukan percobaan berulang untuk memperoleh komposisi produk yang memenuhi kebutuhan pengembangan.
Selain itu, tim belum memiliki hasil pengujian kadar setiap senyawa dalam formulasi. Padahal, data tersebut penting untuk memperkuat dasar ilmiah produk.
“Tantangan terbesar kami ada dua. Pertama, kami harus berkali-kali mencoba (trial and error) pada bentuk formula dan kemasan sampai mendapatkan formulasi yang sesuai. Kedua, kami belum memiliki hasil uji kadar masing-masing senyawa dalam formulasi, yang akan kami lengkapi pada tahap pengembangan berikutnya,” kata Nadya.
Ke depan, tim berencana menyempurnakan formulasi, menentukan kadar senyawa dan takaran yang tepat, serta mempelajari mekanisme kerja produk secara lebih mendalam. Mereka juga menyiapkan proses pengurusan perizinan sebagai bagian dari rencana pengembangan berikutnya.
Dosen Pembimbing Apresiasi Prestasi Mahasiswa
Dosen pembimbing, Arif Pristianto, SSt.FT., Ftr., M.Fis., mengapresiasi upaya mahasiswa dalam mengembangkan inovasi di tengah kesibukan perkuliahan dan praktik. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan semangat mahasiswa untuk terus berkolaborasi, berkarya, dan mengikuti kompetisi.
Ia berharap prestasi di ISIF 2026 dapat mendorong tim untuk melanjutkan pengembangan PandaSpray. Selain itu, pencapaian ini diharapkan memotivasi mahasiswa lain untuk menghasilkan inovasi dan mengikuti ajang kompetisi.
Bagi Nadya dan anggota tim, Gold Medal ISIF 2026 menjadi dorongan untuk melanjutkan penelitian serta mengembangkan gagasan baru. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada dosen pembimbing dan Program Studi Fisioterapi, Farmasi, serta Manajemen UMS atas dukungan selama proses pengembangan PandaSpray.
Prestasi ini memperlihatkan upaya mahasiswa UMS dalam mengeksplorasi potensi tanaman lokal melalui pendekatan ilmiah. Namun, pengembangan PandaSpray masih memerlukan penelitian lanjutan sebelum tim dapat memastikan manfaat dan keamanan produk secara lebih luas.

