EDUCARE.CO.ID – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mendorong masyarakat untuk terus melestarikan budaya Melayu sebagai bagian penting dari identitas bangsa Indonesia. Menurutnya, kekayaan tradisi daerah tidak hanya memperkuat persatuan, tetapi juga membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi berbasis budaya.
Fadli menyampaikan pesan tersebut saat menghadiri Arak-arakan Keberagaman Riau 2026 di halaman Balai Adat Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Pekanbaru. LAM Riau menggelar kegiatan ini sebagai bagian dari perayaan Hari Kebudayaan 2026 sekaligus ruang untuk merayakan keragaman adat dan tradisi masyarakat.
Dalam sambutannya, Fadli mengapresiasi LAM Riau dan seluruh pihak yang mendukung kegiatan tersebut. Ia menilai arak-arakan ini menjadi bentuk nyata partisipasi masyarakat dalam merawat keberagaman budaya Indonesia, khususnya tradisi Melayu Riau.
“Melalui Arak-Arakan Keberagaman ini, kita bisa menyaksikan keberagaman budaya di Riau yang telah disampaikan. Keberagaman ini adalah kekayaan kita. Saya menyebutnya sebagai mega diversity atau cultural mega diversity, yaitu kekayaan dan keberagaman yang luar biasa,” jelasnya.
Fadli Zon Soroti Kekayaan Budaya dan Sejarah Indonesia
Fadli menilai perjalanan panjang peradaban Indonesia menunjukkan besarnya kekayaan budaya yang dimiliki bangsa ini. Ia turut menyinggung temuan lukisan gua berusia sekitar 67.800 tahun sebagai salah satu bukti panjangnya sejarah ekspresi budaya manusia di wilayah Indonesia.
Baginya, kebudayaan mencakup banyak aspek kehidupan. Selain seni, warisan budaya juga meliputi bahasa, tradisi lisan, manuskrip, ritus, adat istiadat, pengetahuan tradisional, olahraga tradisional, dan permainan rakyat.
Dalam pemaparannya, Fadli menyebut Indonesia telah menetapkan 3.277 warisan budaya takbenda dan memiliki 1.485 cagar budaya. Pada tingkat internasional, Indonesia juga mencatatkan 16 warisan budaya takbenda di UNESCO.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi budaya Indonesia. Karena itu, pemerintah bersama komunitas adat, seniman, dan masyarakat perlu terus menjaga tradisi sekaligus mengenalkannya kepada generasi baru.
Tari Zapin Masuk Rencana Pengusulan ke UNESCO
Salah satu agenda yang menjadi perhatian Fadli ialah rencana pengusulan Tari Zapin ke UNESCO melalui kerja sama dengan Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Fadli menjelaskan bahwa langkah tersebut dapat memperkuat pengenalan budaya Melayu di tingkat internasional. Kolaborasi lintas negara juga membuka kesempatan bagi masyarakat dunia untuk mengenal tradisi yang tumbuh dan berkembang di kawasan Asia Tenggara.
Rencana pengusulan ini sekaligus menegaskan pentingnya kerja sama dalam menjaga warisan budaya yang memiliki keterkaitan sejarah antarmasyarakat. Melalui upaya tersebut, budaya Melayu diharapkan memperoleh ruang pengenalan yang lebih luas tanpa kehilangan nilai dan identitasnya.
Museum dan Cagar Budaya Riau Punya Potensi Wisata
Selain mendorong pengenalan budaya ke tingkat global, Fadli mengajak berbagai pihak untuk mengembangkan museum dan cagar budaya di Riau. Menurutnya, kedua unsur tersebut memiliki peran penting dalam menjaga jejak sejarah serta memperkenalkan perjalanan peradaban kepada masyarakat.
Pengelolaan museum dan cagar budaya yang baik juga dapat mendukung pariwisata daerah. Koleksi sejarah, manuskrip, dan cerita tradisi dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mengenal kebudayaan Melayu secara langsung.
Lebih jauh, Fadli melihat budaya sebagai sumber identitas sekaligus kekuatan pemersatu bangsa. Masyarakat dapat mengembangkan potensi ekonomi budaya melalui seni, pariwisata, dan berbagai kegiatan kreatif, dengan tetap menghormati nilai serta tradisi setempat.
Dengan demikian, pelestarian budaya tidak harus berhenti pada upaya menjaga peninggalan masa lalu. Masyarakat juga dapat menghidupkan tradisi melalui kegiatan yang memberi manfaat sosial dan ekonomi.
Hari Kebudayaan Jadi Momentum Merawat Bhinneka Tunggal Ika
Dalam kesempatan tersebut, Fadli menjelaskan makna peringatan Hari Kebudayaan setiap 17 Oktober. Menurut pemaparannya, tanggal itu merujuk pada peristiwa 17 Oktober 1951 yang berkaitan dengan ketentuan mengenai lambang negara Garuda Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Peringatan Hari Kebudayaan menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat bahwa perbedaan suku, bahasa, adat, dan ekspresi seni memperkaya identitas Indonesia. Keberagaman justru dapat memperkuat persaudaraan ketika masyarakat saling menghormati.
Arak-arakan Keberagaman Riau 2026 mencerminkan semangat tersebut melalui penampilan berbagai tradisi dan ekspresi budaya daerah. Kegiatan seperti ini juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan budaya di sekitarnya.
Pemprov Riau Dorong Penelitian Sejarah dan Manuskrip Melayu
Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, turut menyoroti pentingnya dukungan pemerintah pusat terhadap pelestarian sejarah dan tradisi Melayu. Ia berharap Kementerian Kebudayaan dapat mendukung penelitian dan penulisan sejarah Melayu, inventarisasi manuskrip, serta dokumentasi pengetahuan budaya.
Upaya tersebut penting untuk menjaga sumber sejarah dan memastikan generasi mendatang tetap dapat mempelajari warisan budaya daerah.
“Semoga dalam peringatan Hari Kebudayaan ini semakin memperkuat persaudaraan, menjaga kekayaan tradisi, dan memberikan manfaat nyata bagi pemajuan kebudayaan di Provinsi Riau,” jelasnya.
Sejumlah tokoh dan pejabat turut menghadiri acara tersebut. Mereka antara lain Anggota DPD RI Abdul Hamid; Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau, Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf; Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayudha; Direktur Warisan Budaya, Agus Widiatmoko; serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Riau, Kristanto Januardi.
Generasi Muda Berperan Menjaga Warisan Budaya
Menutup sambutannya, Fadli mengajak generasi muda untuk lebih aktif mengenal dan terlibat dalam kegiatan kebudayaan. Ia menilai partisipasi anak muda penting agar tradisi daerah tetap hidup dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Arak-arakan keberagaman dapat menjadi salah satu ruang bagi generasi muda untuk mempelajari adat, menampilkan kesenian, dan berinteraksi dengan komunitas budaya. Keterlibatan tersebut juga membantu mereka memahami nilai sejarah yang melekat pada setiap tradisi.
Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan lintas generasi. Ketika generasi muda ikut menjaga dan mengembangkan tradisi, kekayaan budaya Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk terus bertahan.
Berdasarkan sumber Kementerian Kebudayaan RI, Arak-arakan Keberagaman Riau 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat persatuan, memperkenalkan kekayaan budaya Melayu, dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam pemajuan kebudayaan Indonesia.

