EDUCARE.CO.ID – Potongan kain batik yang sering berakhir sebagai limbah ternyata masih memiliki peluang ekonomi. Mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) mengolah kain perca tersebut menjadi produk fashion melalui Wastra Upcycle.
Inisiatif ini menggabungkan konsep upcycling dengan pelestarian identitas batik. Salah satu produknya berupa rompi yang memadukan potongan batik dengan kain polos dalam desain yang lebih modern.
Pengembangan produk berawal dari keresahan terhadap pakaian yang sudah tidak terpakai.
Berawal dari Pakaian yang Menumpuk
Founder Wastra Upcycle Risma Ayu Damayanti melihat banyak pakaian lama hanya tersimpan di lemari tanpa pemanfaatan lebih lanjut.
Kondisi tersebut kemudian mendorong Risma dan tim mencari cara untuk memberikan fungsi baru pada kain yang masih layak.
Mereka memilih kain perca, termasuk potongan batik, sebagai salah satu bahan utama. Tim kemudian mengolahnya menjadi produk fashion yang memiliki nilai tambah.
Salah satu hasilnya berupa rompi. Produk tersebut memadukan potongan batik dengan kain polos agar tampilannya tetap membawa karakter batik, tetapi lebih sesuai dengan gaya anak muda.
Riset Pasar Jadi Langkah Awal
Wastra Upcycle tidak langsung memproduksi rompi dalam jumlah besar.
Sebelum masuk tahap produksi, tim melakukan riset dan validasi pasar. Langkah tersebut membantu mereka memahami kebutuhan calon konsumen sekaligus menentukan desain yang sesuai.
Risma mengatakan tim ingin menjaga identitas batik tanpa membuat produknya terlihat terlalu konvensional.
“Kami mencoba untuk memadukan unsur batik ini dengan desain yang lebih modern sehingga tetap mempertahankan identitas batiknya tetapi juga sesuai dengan gaya anak muda sekarang,” ujarnya.
Pendekatan tersebut membuat kain perca tidak hanya berfungsi sebagai bahan sisa. Tim juga mengubahnya menjadi bagian utama dari desain produk.
Potongan Batik Harus Lewati Seleksi
Proses produksi Wastra Upcycle membutuhkan ketelitian sejak tahap awal.
Chief Operating Officer Wastra Upcycle Natty Novia Ramadhani menjelaskan bahwa setiap kain perca memiliki kondisi dan warna yang berbeda.
Karena itu, tim terlebih dahulu menyeleksi kain berdasarkan kondisi serta keserasian warnanya.
Setelah itu, mereka memotong kain dan menyusun setiap bagian menjadi pola. Tim kemudian menjahit potongan tersebut hingga membentuk produk fashion.
Proses tersebut membutuhkan ketelitian tinggi. Ukuran, warna, dan kondisi setiap potongan dapat memengaruhi hasil akhir.
Konsistensi Jadi Tantangan Produksi
Mengolah kain perca memberikan tantangan tersendiri bagi Wastra Upcycle.
Berbeda dengan kain baru yang memiliki ukuran dan warna seragam, perca batik hadir dalam potongan kecil dengan karakter yang beragam.
Karena itu, tim harus menjaga konsistensi produk dari satu produksi ke produksi berikutnya.
Natty menyebut standardisasi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam proses tersebut.
“Tantangan utamanya itu ada di konsistensi dan standarisasinya. Kalau kain perca batik, kami harus ekstra teliti menyatukan potongan-potongan kecil menjadi satu lembar kain,” kata Natty.
Ketelitian tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas produk Wastra Upcycle.
Wastra Upcycle Buka Program Tukar Kain
Selain mengolah perca yang tersedia, Wastra Upcycle juga mengajak masyarakat ikut mengurangi limbah kain.
Mereka membuka program tukar kain bagi masyarakat yang memiliki kain batik atau kain lain yang masih layak pakai.
Masyarakat dapat menyerahkan kain melalui program tersebut. Namun, tim menetapkan beberapa syarat.
Kain harus dalam kondisi bersih. Selain itu, kain tidak boleh berjamur atau memiliki noda berat.
Setelah memenuhi ketentuan, masyarakat dapat mengikuti program tukar kain dan memperoleh potongan harga untuk produk Wastra Upcycle.
Beri Fungsi Baru pada Kain Lama
Program tersebut tidak hanya membantu Wastra Upcycle memperoleh bahan. Pada saat yang sama, masyarakat mendapat kesempatan untuk memberikan fungsi baru pada kain yang sudah tidak mereka gunakan.
Konsep tersebut sejalan dengan prinsip upcycling. Kain lama tidak langsung berakhir sebagai sampah, tetapi masuk kembali ke proses produksi dengan bentuk dan fungsi yang berbeda.
Batik juga mendapat ruang baru melalui pendekatan tersebut. Potongan kain yang sebelumnya sulit digunakan kembali dapat menjadi bagian dari produk fashion yang lebih modern.
Dengan begitu, Wastra Upcycle menggabungkan dua tujuan sekaligus. Tim ingin mengurangi limbah tekstil dan menghadirkan produk yang tetap membawa identitas batik.
Upcycling Buka Peluang Ekonomi
Wastra Upcycle menunjukkan bahwa limbah tekstil dapat menjadi titik awal untuk mengembangkan produk kreatif.
Kain perca membutuhkan proses seleksi, penyusunan, dan pengerjaan yang lebih teliti. Namun, proses tersebut justru dapat menghasilkan karakter berbeda pada setiap produk.
Melalui riset pasar dan pengembangan desain, Wastra Upcycle mencoba membawa kain batik ke segmen anak muda.
Di sisi lain, program tukar kain membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut dalam proses pemanfaatan kembali tekstil.
Konsep tersebut memperlihatkan bahwa upcycling tidak hanya berkaitan dengan lingkungan. Jika dikelola dengan baik, kain yang sudah tidak terpakai juga dapat membuka peluang ekonomi baru.

