EDUCARE.CO.ID – Kain tenun Sumba menyimpan lebih dari sekadar keindahan motif dan nilai budaya. Peneliti Universitas Kristen (UK) Maranatha menemukan konsep matematika dalam pola kain tradisional tersebut melalui pendekatan etnomatematika.
Riset ini mengkaji kain hinggi dari Sumba Timur. Para peneliti menelusuri hubungan antara motif tenun, pola geometris, dan filosofi masyarakat setempat. Hasilnya menjadi inspirasi untuk mengembangkan berbagai produk kreatif yang tetap membawa identitas budaya Sumba.
Etnomatematika mempelajari hubungan antara budaya dan aktivitas matematis dalam kehidupan masyarakat. Melalui pendekatan ini, tradisi menenun juga memperlihatkan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat selama bergenerasi.
Peneliti UK Maranatha Temukan Konsep Geometri dalam Tenun Sumba
Erwin Ardianto Halim bersama tim peneliti UK Maranatha mengkaji struktur motif kain hinggi. Mereka menemukan keteraturan matematis yang berkaitan dengan cara pandang masyarakat Sumba terhadap keseimbangan hidup.
Salah satu temuan penelitian menunjukkan konsep dualisme dan pola tiga bagian (triple pattern). Susunan tersebut berkaitan dengan kosmologi masyarakat Sumba yang mengenal tiga lapisan alam.
Ketiganya meliputi talaba dita (alam atas), la padua (alam tengah), dan talaba wawa (alam bawah). Pembagian tersebut memperlihatkan hubungan antara susunan motif dan pandangan masyarakat mengenai kehidupan.
Tim peneliti juga menemukan sejumlah konsep geometri dalam kain tenun Sumba. Konsep tersebut mencakup simetri, refleksi, dan translasi. Selain itu, motifnya banyak menampilkan bentuk segitiga serta belah ketupat.
Para penenun mengembangkan pola-pola tersebut melalui tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Praktik ini menunjukkan bahwa masyarakat telah mengenal keteraturan matematis melalui aktivitas budaya. Pengetahuan tersebut tumbuh jauh sebelum matematika masuk ke pendidikan formal seperti sekarang.
Temuan ini membuka peluang pengembangan motif tradisional menjadi produk kreatif. Peneliti tidak hanya mengamati bentuk geometrisnya. Mereka juga menggali nilai budaya sebagai dasar untuk menciptakan desain yang sesuai dengan kebutuhan masa kini.
Motif Mamuli Menginspirasi Lampu Hias Modern
Salah satu hasil pengembangan riset UK Maranatha berupa lampu hias berdiri atau standing lamp. Produk interior ini mengambil inspirasi dari motif mamuli yang memiliki makna penting dalam budaya Sumba.
Masyarakat Sumba mengenal mamuli sebagai simbol perempuan, sumber kehidupan, kesuburan, dan keharmonisan keluarga. Makna tersebut menjadi pertimbangan peneliti saat merancang produk.
Erwin dan tim menguraikan proses pengembangan itu dalam artikel jurnal berjudul Mamuli Pattern in East Sumba Woven Fabric as Inspiration for Kandunnu Standing Lamp Using the IMOE Method (Halim dkk., 2023).
Dalam prosesnya, Erwin menggunakan pendekatan etnomatematika dan metode Inner, Middle, Outer, Experiment (IMOE). Metode ini membantu peneliti mengolah unsur budaya menjadi gagasan desain melalui empat tahapan.
Tahap Inner mengajak peneliti menggali filosofi dan nilai budaya dalam simbol mamuli. Berikutnya, tahap Middle mengkaji fungsi sosial simbol tersebut di tengah masyarakat.
Pada tahap Outer, peneliti mengeksplorasi bentuk visual, pola, dan karakter geometris motif mamuli. Mereka kemudian membawa seluruh hasil kajian ke tahap Experiment untuk menguji dan mengembangkan rancangan produk.
Melalui proses tersebut, tim menerapkan bentuk belah ketupat, pola repetisi, dan pencerminan ke dalam desain lampu hias. Hasilnya berupa produk kontemporer yang tetap menampilkan karakter budaya Sumba.
Erwin juga mengeksplorasi motif wuya dan habak. Ia mengembangkan kedua motif tersebut menjadi berbagai produk kreatif. Hasilnya mencakup furnitur, perhiasan, dan dekorasi interior.
Peneliti Kembangkan Motif Tenun Sumba Menjadi Produk Digital
Inovasi berbasis budaya tidak hanya menyentuh produk fisik. Tim lintas fakultas UK Maranatha juga mengeksplorasi motif tenun Sumba melalui teknologi digital.
Ketua Pelaksana Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek) 2026 UK Maranatha, Iwan Santosa, menjelaskan potensi riset budaya untuk mendukung perkembangan industri kreatif.
Menurut Iwan, kain tenun tradisional memiliki kekayaan visual dan identitas lokal yang dapat menginspirasi berbagai produk baru. Pengembangan teknologi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal motif tradisional melalui media yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Tidak hanya itu, rekan-rekan periset juga mengembangkan produk berbasis digital, antara lain dingbat font dan aplikasi web-based design visualizer,” jelasnya.
Pengembangan dingbat font dan aplikasi web-based design visualizer memperluas pemanfaatan motif tradisional. Kedua produk tersebut menghadirkan alternatif baru dalam eksplorasi desain berbasis budaya.
Dengan pendekatan ini, peneliti berupaya menghubungkan kekayaan tradisi dengan perkembangan teknologi. Budaya lokal pun dapat menginspirasi produk baru tanpa harus kehilangan karakter aslinya.
Resona Saintek 2026 Perkenalkan Hubungan Budaya dan Teknologi
UK Maranatha turut memperkenalkan hasil penelitian melalui kampanye bertajuk Saintek Lintas Zaman Menuju Keberlanjutan Budaya dan Kearifan Lokal Indonesia.
Kampanye ini mengajak masyarakat melihat budaya dari sudut pandang sains dan teknologi. Program tersebut juga memperkenalkan berbagai produk inovatif yang lahir dari penelitian terhadap warisan budaya Nusantara.
Berdasarkan sumber rilis UK Maranatha, kegiatan ini mendapat dukungan dari Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Resona Saintek menjadi bagian dari program Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Sains Teknologi Nusantara (Semesta) 2026. Melalui inisiatif tersebut, UK Maranatha memperkenalkan etnomatematika dan metode IMOE untuk membaca serta mengembangkan kekayaan budaya Indonesia.
Selain tenun Sumba, tim peneliti mengangkat rumah adat Siwaluh Jabu dari daerah Karo, Sumatera Utara. Riset ini mempertemukan perspektif budaya, desain, dan teknologi melalui kolaborasi lintas fakultas.
Tim peneliti berasal dari Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif serta Fakultas Teknologi dan Rekayasa Cerdas. Mereka terdiri atas Erwin Ardianto Halim, Yunita Setyoningrum, Elizabeth Wianto, dan Maresha Caroline.
Iwan menilai keragaman budaya Nusantara menyimpan potensi besar bagi perkembangan industri kreatif. Kolaborasi antara pengetahuan lokal dan teknologi dapat membuka peluang penciptaan produk yang mengikuti kebutuhan zaman.
“Semuanya itu potensial untuk menciptakan produk baru yang relevan dengan perkembangan zaman, apalagi bila dipertemukan dengan metode saintek yang tepat,” ujarnya.
Etnomatematika Hubungkan Warisan Budaya dengan Inovasi Masa Kini
Riset UK Maranatha menunjukkan bahwa tradisi lokal menyimpan pengetahuan yang dapat dikembangkan melalui penelitian ilmiah. Motif tenun Sumba, misalnya, tidak hanya memiliki nilai seni dan filosofi. Polanya juga memperlihatkan konsep geometri yang menarik untuk dikaji.
Hasil penelitian tersebut membuka peluang pemanfaatan budaya dalam berbagai bidang. Peneliti dapat mengembangkan motif tradisional menjadi desain interior, furnitur, perhiasan, hingga produk digital.
Pendekatan etnomatematika dan metode IMOE membantu menghubungkan pengetahuan tradisional dengan kebutuhan masyarakat modern. Keduanya juga memperluas cara pandang terhadap pelestarian budaya.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur sebagai peninggalan masa lalu. Mereka juga dapat menggali pengetahuan di dalamnya untuk menciptakan inovasi yang tetap berakar pada identitas bangsa.

