Bikin Inovasi SENYUM Sync, Dua Mahasiswa FK USK Raih Juara II Kompetisi Internasional

Must read

EDUCARE.CO.ID – Dua mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) meraih Juara II Poster Competition dalam ajang 8th International USK Scientific Dental Competition (USCDC) 2026. Keduanya mengangkat inovasi edukasi kesehatan gigi dan mulut melalui poster bertajuk “Gusi Berdarah, Tubuh Kena Getah!” serta konsep aplikasi digital SENYUM Sync.

Prestasi tersebut diraih Salwa Keisha dan Emirsyal Ilyas, mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FK USK. Mereka mengembangkan gagasan tersebut di bawah bimbingan dr. Teuku Romi Imansyah Putra, M.K.T.

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala menyelenggarakan USCDC 2026. Panitia mengumumkan para pemenang pada Minggu, 1 November 2026, dalam rangkaian kegiatan kompetisi.

Karya Salwa dan Emirsyal mengangkat hubungan antara kesehatan gusi dan kondisi tubuh secara menyeluruh. Mereka ingin mengajak masyarakat memahami bahwa gusi berdarah bukan sekadar gangguan ringan yang bisa diabaikan.

Angkat Hubungan Penyakit Gusi dengan Kesehatan Tubuh

Melalui poster “Gusi Berdarah, Tubuh Kena Getah!”, tim FK USK membahas periodontitis, yaitu peradangan kronis pada jaringan penyangga gigi. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan rongga mulut, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan sistemik.

Salah satu aspek yang mereka soroti ialah hubungan antara penyakit periodontal dan pengendalian gula darah. Peradangan pada jaringan gusi dapat berkaitan dengan gangguan pengendalian glukosa. Sebaliknya, kadar gula darah yang tinggi juga dapat memperburuk kondisi jaringan periodontal.

Hubungan tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mulut dan tubuh secara bersamaan. Karena itu, tim memilih pendekatan komunikasi visual agar masyarakat lebih mudah memahami kaitan kedua aspek kesehatan tersebut.

Poster ini menampilkan ilustrasi perbandingan jaringan gusi sehat dan gusi yang mengalami peradangan. Visual tersebut membantu pembaca mengenali perubahan kondisi gusi sekaligus memahami potensi dampak peradangan terhadap tubuh.

Tim juga mencantumkan enam tanda peringatan yang perlu mendapat perhatian, yaitu:

  • Gusi berdarah.
  • Bau mulut kronis.
  • Gigi terasa goyang.
  • Gusi membengkak atau berubah warna.
  • Mulut kering dan cepat haus.
  • Abses atau nanah pada gusi yang tidak kunjung sembuh.

Selain tanda-tanda tersebut, poster memuat sejumlah data mengenai masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia serta diabetes yang belum terdiagnosis. Informasi ini memperkuat pesan bahwa masyarakat perlu mengenali risiko dan tidak menunda pemeriksaan kesehatan.

Akronim SENYUM Ajak Masyarakat Terapkan Kebiasaan Preventif

Tim tidak hanya menyampaikan informasi mengenai penyakit gusi. Mereka juga merumuskan enam langkah sederhana untuk membantu masyarakat menjaga kesehatan mulut dan tubuh.

Keenam langkah tersebut terangkum dalam akronim SENYUM:

  • S – Sikat gigi dua kali sehari dan gunakan benang gigi.
  • E – Evaluasi kondisi gusi setiap hari.
  • N – Nyalakan pengingat untuk kontrol gula darah.
  • Y – Yakinkan diri untuk melakukan pemeriksaan gigi berkala.
  • U – Ubah gaya hidup menjadi lebih sehat.
  • M – Manfaatkan rujukan kepada tenaga medis sesuai kebutuhan.

Rangkaian pesan tersebut mendorong masyarakat menerapkan kebiasaan preventif dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, edukasi kesehatan tidak berhenti pada informasi di dalam poster, tetapi dapat mendorong perubahan perilaku.

Berdasarkan sumber Universitas Syiah Kuala, tim juga mengembangkan konsep SENYUM Sync sebagai pendamping edukasi berbasis teknologi digital. Gagasan ini menghubungkan informasi mengenai kesehatan gusi, pemantauan gula darah, dan kebiasaan perawatan diri dalam satu platform.

SENYUM Sync, Konsep Aplikasi untuk Pantau Kesehatan Gusi

Salah satu aspek yang menonjol dari karya Salwa dan Emirsyal ialah konsep purwarupa aplikasi SENYUM Sync. Mereka merancang aplikasi ini untuk memperluas jangkauan edukasi kesehatan setelah masyarakat membaca poster.

Tim melihat bahwa poster sering kali hanya menarik perhatian dalam waktu singkat. Karena itu, mereka mengembangkan gagasan pendamping digital agar pengguna dapat mengakses informasi dan membangun kebiasaan menjaga kesehatan secara lebih berkelanjutan.

SENYUM Sync memiliki tiga fitur utama.

Pertama, kuesioner skrining dua arah. Fitur ini memungkinkan pengguna mencatat keluhan gusi dan riwayat gula darah sebagai langkah awal mengenali faktor risiko. Kuesioner tersebut bukan alat diagnosis medis.

Kedua, pelacak harian SENYUM. Fitur ini menyediakan pengingat untuk menjaga kebersihan mulut serta mencatat informasi gula darah. Pengguna dapat memanfaatkannya untuk membangun rutinitas perawatan diri.

Ketiga, ringkasan kondisi pengguna. Fitur ini menggabungkan catatan keluhan gusi dan informasi gula darah dalam satu tampilan. Pengguna dapat membawa ringkasan tersebut sebagai informasi pendukung saat berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Tim turut menyediakan kode QR pada poster dan leaflet pendukung agar masyarakat dapat mengenal konsep SENYUM Sync. Melalui cara ini, mereka menghubungkan media edukasi konvensional dengan pemanfaatan teknologi digital.

Gagasan tersebut sejalan dengan tema USCDC 2026, yaitu “Innovate to Integrate: Synchronizing Systemic Vitality and Innovative Oral Flair”. Tema ini menekankan integrasi kesehatan sistemik dengan inovasi di bidang kesehatan gigi dan mulut.

Bagi tim, SENYUM Sync bukan sekadar pelengkap poster. Mereka ingin menghubungkan pengetahuan kesehatan, pemantauan mandiri, dan kesadaran masyarakat untuk mencari pertolongan medis.

Bersaing dengan Peserta dari Berbagai Negara

USCDC 2026 menghadirkan peserta dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan berbagai negara. Dalam kompetisi tersebut, tim FK USK bersaing dengan peserta dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Sumatera Utara (USU), dan kampus lainnya.

Peserta internasional juga datang dari Malaysia, Jepang, Arab Saudi, Kirgizstan, Turki, Mesir, Spanyol, Jerman, Kanada, dan Maroko.

Keikutsertaan peserta dari berbagai negara membuka ruang pertukaran gagasan dan perspektif mengenai perkembangan ilmu pengetahuan serta edukasi kesehatan gigi dan mulut.

Untuk menentukan pemenang, panitia menyelenggarakan beberapa tahapan seleksi. Proses tersebut mencakup pengumpulan karya, penilaian poster, seleksi presentasi, dan penentuan finalis.

Pada tahap akhir, para finalis mempresentasikan karya secara langsung di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala pada 1 November 2026. Dewan juri menilai kreativitas visual, penguasaan materi, kemampuan peserta menjelaskan gagasan, serta ketepatan mereka dalam menjawab pertanyaan.

Salwa dan Emirsyal berhasil melewati tahapan tersebut hingga meraih Juara II Poster Competition. Capaian ini memperlihatkan kontribusi mahasiswa kedokteran dalam mengembangkan media edukasi yang menggabungkan pengetahuan medis dan kreativitas.

Dukungan Fakultas Kedokteran USK Dorong Prestasi Mahasiswa

Pengembangan poster dan konsep SENYUM Sync melibatkan proses pembinaan akademik. Dosen FK USK, dr. Teuku Romi Imansyah Putra, M.K.T., mendampingi Salwa dan Emirsyal selama persiapan kompetisi.

Dukungan juga datang dari Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran USK, Dr. dr. Nur Wahyuniati, M.Imun. Perhatian pimpinan fakultas terhadap kegiatan mahasiswa turut membuka ruang bagi pengembangan kreativitas dan partisipasi dalam kompetisi akademik.

Bagi Salwa dan Emirsyal, penghargaan ini bukan sekadar pencapaian dalam kompetisi. Mereka juga ingin membawa persoalan kesehatan gusi yang kerap dianggap sepele ke ruang perhatian masyarakat.

Melalui poster “Gusi Berdarah, Tubuh Kena Getah!” dan konsep SENYUM Sync, keduanya mengajak masyarakat lebih peduli terhadap tanda gangguan pada gusi. Mereka juga mendorong kebiasaan menjaga kebersihan mulut, memantau faktor risiko, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sesuai kebutuhan.

Prestasi ini menambah catatan pencapaian mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Lebih dari itu, karya mereka memperlihatkan bagaimana kepedulian terhadap persoalan kesehatan sehari-hari dapat menjadi titik awal lahirnya gagasan edukasi yang inovatif dan relevan bagi masyarakat.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article