Bikin Behavix untuk Bantu Remaja Kelola Kebiasaan, Mahasiswa UNAIR Raih Medali Perak

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) meraih medali perak dalam ajang International Science and Invention Fair (ISIF) ke-8. Mereka memperkenalkan Behavix, sebuah platform yang membantu remaja mengenali pola kebiasaan dan mengembangkan regulasi diri.

Kompetisi tersebut berlangsung di Universitas Indonesia (UI). Tim mempresentasikan karyanya pada Kamis (15/10/2026), kemudian menerima pengumuman penghargaan pada Sabtu (17/10/2026).

Behavix dirancang untuk mendukung pencegahan dan pendampingan awal terkait risiko perilaku seksual kompulsif pada remaja. Platform ini juga mendorong pengguna mengevaluasi kebiasaan sehari-hari dan membangun rutinitas yang lebih sehat.

Kolaborasi Mahasiswa dari Empat Fakultas

Tim Behavix beranggotakan enam mahasiswa dari berbagai fakultas di UNAIR. Mereka menggabungkan perspektif psikologi, teknologi, ekonomi, dan hukum dalam mengembangkan solusi tersebut.

Tim terdiri atas Nadya Najwa Farikha dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Cantika Aprilia Jelita dari Fakultas Psikologi (FPsi).

Anggota lainnya adalah Shima Maharani Onessis dan Nabila Risha Juliana dari Fakultas Vokasi (FV). Mega Prihatiningsih dan Nabillah Eka Safitri turut memperkuat tim dari Fakultas Hukum (FH).

Karya mereka mengusung judul “Personalized Behavioral Intervention Platform to Enhance Self-Regulation and Reduce Compulsive Sexual Behavior Risk Among Adolescents”. Melalui karya ini, tim berupaya menghadirkan dukungan awal bagi remaja dalam memahami dan mengelola perilaku.

Behavix Bantu Remaja Mengenali Pola Kebiasaan

Sebelum mengembangkan platform, tim melakukan survei terhadap sekitar 300 responden. Mereka juga mengadakan wawancara di SMA Negeri 2 Lamongan dan SMK Muhammadiyah 5 Babat.

Tim menggunakan hasil pengumpulan data tersebut sebagai salah satu dasar perancangan fitur. Dengan begitu, pengembangan Behavix mempertimbangkan kebutuhan dan pengalaman remaja.

Cantika Aprilia Jelita menjelaskan bahwa Behavix berfokus pada pencegahan dan pengenalan pola perilaku. Platform ini juga mendukung pengguna yang ingin mengelola kebiasaan terkait PMO (Porn, Masturbation, Orgasm).

“Platform ini bukan untuk menggantikan psikolog, tetapi lebih pada pencegahan dan membantu pengguna mengatasi PMO (Porn, Masturbation, Orgasm),” jelasnya.

Karena itu, Behavix tidak dirancang sebagai pengganti konsultasi psikologis. Pengguna tetap perlu mencari bantuan profesional apabila menghadapi kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Fitur Personal Dorong Regulasi Diri

Dalam merancang Behavix, tim mengadaptasi teori regulasi diri Albert Bandura dan model perilaku Fogg. Keduanya menjadi landasan untuk menyusun fitur yang membantu pengguna memahami kebiasaan mereka.

Platform ini menyediakan fitur daily check-in, journaling, dan pelacakan progres. Pengguna dapat mencatat pengalaman, merefleksikan perilaku, serta memantau perubahan dari waktu ke waktu.

Behavix juga menawarkan rekomendasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Pendekatan tersebut bertujuan membuat saran lebih relevan dengan situasi dan rutinitas sehari-hari.

Dengan fitur personal tersebut, pengguna dapat mengenali pola yang berulang. Mereka juga bisa mengevaluasi perkembangan dan menentukan langkah perbaikan sesuai kebutuhan.

Utamakan Privasi dan Akses yang Praktis

Selain mengembangkan fitur intervensi perilaku, tim turut memperhatikan aspek privasi. Behavix menggunakan sistem masuk berbasis nama pengguna serta menyediakan fitur pencadangan dan pemulihan data.

Platform ini juga berbentuk progressive web app (PWA). Format tersebut memungkinkan pengguna mengakses Behavix melalui peramban tanpa harus mengunduh aplikasi khusus terlebih dahulu.

Meski menawarkan dukungan mandiri, Behavix tetap memiliki batasan. Platform ini membantu pengguna melakukan refleksi dan memantau kebiasaan, tetapi tidak ditujukan untuk menangani kondisi yang memerlukan bantuan profesional.

“Platform Behavix ini hanya sebagai dukungan dan tidak dimaksudkan untuk menangani kondisi yang membutuhkan bantuan profesional,” jelas Cantika.

Tim Siapkan Pengembangan Behavix

Tim berencana menyempurnakan Behavix agar semakin sesuai dengan kebutuhan pengguna. Mereka juga mempertimbangkan proses persetujuan etik dan pengembangan aplikasi untuk mendukung penerapan platform.

Salah satu rencana berikutnya ialah menghadirkan Behavix melalui Google Play Store. Dengan langkah tersebut, tim berharap akses terhadap platform menjadi lebih mudah bagi remaja.

“Ke depannya, aplikasi ini akan kami masukkan ke Google Play Store supaya dapat membantu para remaja,” imbuhnya.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Airlangga, pencapaian dalam ISIF 2026 menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa melalui inovasi lintas disiplin. Behavix menggabungkan pemahaman perilaku dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengembangan regulasi diri remaja.

Melalui pengembangan lebih lanjut, tim berharap platform ini dapat menjadi sarana pendampingan awal yang mudah diakses. Namun, dukungan teknologi tetap perlu berjalan berdampingan dengan pendampingan orang tua, lingkungan yang suportif, dan layanan profesional ketika dibutuhkan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article