EDUCARE.CO.ID – Barce Layaba dan Leli Marlina membuktikan bahwa status nonunggulan bukan penghalang untuk meraih prestasi tertinggi. Pasangan para tenis meja Indonesia itu berhasil membawa pulang medali emas nomor ganda campuran kelas TT10 pada Asian Para Games 2026 di Jepang, setelah melewati sejumlah lawan tangguh dengan modal kepercayaan diri dan mental pantang menyerah.
Hasil ini melampaui target awal tim para tenis meja Indonesia yang semula membidik empat medali perunggu. Di luar perkiraan, Barce/Leli justru berhasil berdiri di podium tertinggi sekaligus mengakhiri penantian Indonesia untuk kembali meraih emas Asian Para Games di cabang tersebut sejak edisi 2018.
Bagi keduanya, keberhasilan ini tidak datang begitu saja. Persiapan teknis yang matang menjadi fondasi, sedangkan kemenangan atas Thailand pada babak perempat final menjadi titik balik yang menguatkan mental mereka menghadapi lawan-lawan berikutnya.
Kalahkan Thailand, Kepercayaan Diri Barce/Leli Meningkat
Barce mengakui bahwa pertandingan melawan wakil Thailand menjadi salah satu ujian terberat dalam perjalanan menuju emas. Ia dan Leli masih mengingat kekalahan saat menghadapi lawan dari negara tersebut di ASEAN Para Games 2025. Pengalaman itu sempat menimbulkan tekanan ketika mereka kembali bertemu pasangan Thailand di Asian Para Games 2026.
Pada fase grup, Barce/Leli menghadapi Panwas Sringam/Norakhan Chanpaka dan menang dengan skor 3-0. Mereka kemudian berjumpa pasangan Thailand lainnya, Wassana Sringam/Wanchai Chaiwut, di babak delapan besar dan kembali meraih kemenangan dengan skor 3-1.
“Bertemu wakil Thailand di babak 8 besar itu serasa final bagi kita. Kita kalah saat bertemu di ASEAN Para Games 2025 kemarin. (Kekalahan) itu menjadi beban untuk kita. Makanya pas pertandingan seperti grogi banget. Saat di grup kita juga ketemu yang pasangan nomor satunya. Nomor keduanya ketemu di babak 8 besar,” kata Barce saat ditemui di Sky Hall Toyota, Jumat (23/10/2026).
Dua kemenangan tersebut mengubah cara pandang mereka terhadap peluang meraih medali. Setelah berhasil melewati lawan yang sebelumnya menjadi beban pikiran, Barce/Leli merasa lebih siap menghadapi pertandingan selanjutnya.
“Kita tuh kayak, ‘wah gila ini kita ketemu mereka lagi nih, kita bisa apa enggak’, tapi Puji Tuhan kita bisa melewati mereka dan dari langkah kita bisa melewati Thailand itu yang bikin kita lebih percaya diri menuju fase berikutnya,” tutur Barce.
Hadapi China Tanpa Terbebani Status Unggulan
Modal kepercayaan diri itu mereka bawa saat menghadapi wakil China, Bian Zhang/Zhengyang Peng, di semifinal. Barce mengatakan bahwa ia dan Leli sebenarnya telah mempersiapkan aspek teknis dengan serius. Namun, keberhasilan mengatasi tekanan saat melawan Thailand membuat keduanya bisa bermain lebih lepas.
Alih-alih memikirkan reputasi lawan, mereka memilih fokus pada permainan sendiri. Pendekatan tersebut membantu pasangan Indonesia melewati babak semifinal dan melangkah ke partai puncak.
“Setelah Thailand lewat, kita jadi lebih percaya diri untuk, ‘Oke, Leli, kita sudah melewati mereka nih, ayo. Berikutnya kita lawan China. Mereka ini sudah pasti sudah pikir mereka tuh di atas angin. Oke, kita main lebih lepas lagi, kita main enggak ada beban, kita main lepas aja’. Dan Puji Tuhan kita bisa melewati itu,” ungkap Barce.
Situasi serupa terjadi ketika mereka menghadapi Korea Selatan di final. Leli mengaku tidak terlalu gugup karena ia dan Barce sudah beberapa kali bertemu pasangan Korea Selatan dalam kompetisi sebelumnya. Pengalaman tersebut memberi mereka bekal untuk menghadapi pertandingan penentuan dengan lebih percaya diri.
“Pas ketemu Korea itu kita enggak terlalu grogi sebenarnya. Untuk grogi tidak ada, karena kita sudah beberapa kali ketemu Korea. Kita beberapa kali ketemu Korea itu ada sekitar tiga ya, tiga kali itu dengan pasangan yang berbeda-beda,” ujar Leli.
Barce menambahkan bahwa mereka memiliki catatan kemenangan dalam pertemuan sebelumnya dengan lawan tersebut. Pengalaman itu semakin memperkuat keyakinan mereka bahwa peluang meraih emas terbuka.
“Dan Puji Tuhannya kita menang semua lawan mereka. Jadi sudah ada kepercayaan diri dari kita duluan,” tambah Barce.
“Jadi, itu yang semakin membuat kita lebih semangat, ‘Wah, ini kita bisa nih, kita bisa, ayo’. Itu yang memacu semangat kita dan Puji Tuhan-nya kita melewati itu,” lanjutnya.
Persembahkan Emas untuk Mendiang David Jacobs
Di balik kegembiraan meraih emas, Barce dan Leli membawa pesan emosional. Mereka mempersembahkan medali tersebut untuk mendiang David Jacobs, legenda para tenis meja Indonesia yang meninggal dunia pada 2023.
Emas ini memiliki arti tersendiri bagi tim. Sejak kepergian David, Indonesia baru kembali meraih emas para tenis meja di Asian Para Games 2026. Karena itu, pencapaian Barce/Leli menjadi momen yang penuh makna bagi para atlet dan jajaran pelatih.
“Yang pertama, medali emas ini untuk David Jacobs almarhum, akhirnya kita bisa dapat medali emas setelah ditinggalkan beliau,” kata Leli Marlina.
Barce juga menyampaikan rasa terima kasih kepada orang-orang yang mendukung perjalanan mereka, mulai dari keluarga hingga pelatih yang terus mendampingi selama persiapan.
“Dan tentunya kita persembahkan untuk Indonesia. Persembahkan untuk orang-orang yang selalu support kita, pelatih yang selalu sabar untuk membimbing kita, membawa kita sampai di titik ini. Terima kasih banyak keluarga, semua, tentunya kami tidak menyangka bisa mendapatkan hasil yang luar biasa ini,” imbuh Barce.
Pelatih para tenis meja Indonesia, Bayu Widhie Hapsara Purba, turut menilai emas tersebut sebagai pencapaian penting bagi tim. Menurutnya, keberhasilan ini menghidupkan kembali harapan Indonesia untuk meraih prestasi tertinggi di Asian Para Games setelah sebelumnya lebih banyak mengandalkan medali perunggu.
“Raihan emas ini sangat berarti sekali bagi tim para tenis meja ini. Karena, sepeninggal Kak David Jacobs, legend kita di tenis meja baik difabel maupun non difabel, baru kali ini kita bisa mendapatkan emas di Asian Para Games. Sebelum ini kita hanya mendapatkan 4 perunggu, dan di sini Alhamdulillah kita bisa,” ujar Bayu.
Osrita Muslim Sumbang Dua Perunggu di Usia 59 Tahun
Selain emas dari Barce/Leli, tim para tenis meja Indonesia juga mendapat tambahan medali dari Osrita Muslim. Atlet berusia 59 tahun itu berhasil meraih dua medali perunggu, masing-masing pada nomor ganda putri kelas TT10 bersama Leli Marlina dan ganda campuran kelas TT7 bersama Yayang Gunaya.
Bayu menyebut capaian Osrita sebagai kejutan yang membanggakan. Tim pelatih tidak membebankan target khusus kepadanya karena persaingan di kedua nomor tersebut cukup berat. Namun, Osrita mampu memanfaatkan kesempatan dan menyumbangkan dua medali bagi Indonesia.
“Bu Os ini kejutan, karena juga Bu Os sebenarnya enggak kita target, karena mengingat kompetitornya (ganda TT7 dan TT10) juga berat-berat. Yang penting main nothing to lose saja, enggak usah beban. Alhamdulillah malah hasilnya beliau menyumbangkan dua perunggu untuk tim para tenis meja ini,” ucap Bayu.
Tim Para Tenis Meja Indonesia Bawa Pulang Tujuh Medali
Secara keseluruhan, tim para tenis meja Indonesia mengakhiri perjuangan di Asian Para Games 2026 dengan raihan satu medali emas dan enam perunggu.
Selain emas ganda campuran kelas TT10 dari Barce Layaba/Leli Marlina dan dua perunggu Osrita Muslim, Indonesia memperoleh perunggu dari Barce Layaba pada tunggal putra kelas TT4-5, Komet Akbar pada tunggal putra TT10, Hamida pada tunggal putri TT8, serta Adyos Astan/Yayang Gunaya pada ganda putra TT8.
Hasil tersebut melampaui target awal tim yang hanya membidik empat perunggu. Keberhasilan Barce/Leli meraih emas juga menunjukkan bahwa persiapan teknis, ketahanan mental, dan kemampuan mengelola tekanan dapat menjadi faktor penting ketika menghadapi lawan-lawan yang lebih diunggulkan.
Bagi tim para tenis meja Indonesia, kemenangan ini bukan hanya soal tambahan medali. Emas yang dipersembahkan untuk David Jacobs juga menjadi pengingat atas kontribusi sosok yang pernah menjadi bagian penting perjalanan olahraga ini.
Berdasarkan sumber Kemenpora, Barce Layaba dan Leli Marlina meraih medali emas ganda campuran kelas TT10 setelah melewati persaingan dari Thailand, China, dan Korea Selatan. Tim Indonesia mengakhiri kompetisi dengan satu emas dan enam perunggu. Para atlet mempersembahkan pencapaian tersebut untuk Indonesia, keluarga, pelatih, serta mendiang David Jacobs.

