EDUCARE.CO.ID – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini bergerak jauh melampaui fungsi sebagai teknologi pendukung. Berbagai sektor mulai memanfaatkannya untuk meningkatkan efisiensi, mengolah data, hingga mencari solusi atas persoalan yang semakin kompleks.
Perkembangan tersebut sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap talenta AI. Karena itu, AI Open Innovation Challenge 2026 hadir untuk mempertemukan generasi muda dengan persoalan nyata dari sektor industri dan pemerintahan.
Melalui kompetisi ini, peserta tidak hanya mengajukan gagasan. Mereka juga mengembangkan solusi berbasis AI dan menunjukkan bagaimana teknologi tersebut dapat menjawab kebutuhan di lapangan.
Lima Pihak Bersatu Kembangkan Talenta AI
AI Open Innovation Challenge 2026 lahir dari kolaborasi lima pihak. Mereka terdiri atas Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, PT Jababeka Tbk, President University, dan Fabrication Laboratory President University.
Kolaborasi tersebut mempertemukan unsur pemerintah, industri, dan perguruan tinggi. Dengan demikian, peserta memperoleh ruang untuk melihat persoalan AI dari berbagai perspektif.
Selain itu, keterlibatan berbagai sektor membuat kompetisi tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis. Peserta juga perlu memahami kebutuhan pengguna dan potensi penerapan solusi yang mereka kembangkan.
1.560 Peserta Ikut Berkompetisi
Panitia membuka pendaftaran AI Open Innovation Challenge 2026 sejak 15 April 2026. Antusiasme peserta kemudian terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 1.560 orang.
Setelah melewati proses seleksi, panitia memilih 20 tim untuk melaju ke babak final.
Para finalis terbagi dalam dua kelompok. Sebanyak 11 tim berasal dari kategori SMA/SMK. Sementara itu, sembilan tim lainnya berasal dari kategori mahasiswa dan umum.
Jumlah tersebut menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap pengembangan solusi berbasis AI.
Delapan Tantangan Nyata Jadi Bahan Kompetisi
Peserta menghadapi delapan case yang berasal dari kebutuhan industri dan pemerintahan. Tantangan tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari retail, logistik, manufaktur, hingga e-commerce.
Selain itu, peserta juga mengerjakan persoalan terkait sertifikasi, kepabeanan, waste management, dan traffic management.
Dengan variasi tersebut, peserta perlu menyesuaikan solusi AI dengan karakter setiap persoalan. Mereka tidak cukup hanya menunjukkan teknologi yang canggih. Solusi juga harus menjawab kebutuhan dan memiliki peluang untuk diterapkan.
Finalis Tak Hanya Adu Gagasan
Kompetisi ini membawa peserta melewati proses pengembangan yang cukup panjang. Sebelum menghadapi tahap akhir penjurian, para finalis mengikuti mentoring dan private coaching.
Mereka juga mengikuti company visit untuk mendapatkan gambaran yang lebih dekat mengenai kebutuhan industri.
Selanjutnya, setiap tim mengembangkan prototipe AI berdasarkan case yang mereka pilih. Pada tahap akhir, peserta harus mendemonstrasikan cara kerja prototipe tersebut di hadapan juri.
Dengan pendekatan itu, kompetisi mendorong peserta untuk mengubah gagasan menjadi solusi yang lebih konkret.
Panitia Apresiasi Inovasi Para Finalis
Ketua Panitia AI Open Innovation Challenge 2026, Erwin Parasian Sitompul, mengapresiasi kemampuan para finalis dalam mengembangkan ide.
Menurutnya, peserta mampu menghasilkan gagasan inovatif sekaligus menghubungkannya dengan kebutuhan nyata di bidang industri, pendidikan, dan tata kelola kota.
Apresiasi tersebut menunjukkan bahwa kompetisi tidak hanya mencari kemampuan membuat teknologi. Peserta juga perlu memahami persoalan dan menemukan pendekatan yang relevan.
President University Dorong Inovasi Teknologi
Director of Batavia Campus President University, Cahyo Rahadian Muzhar, mengatakan keterlibatan kampus dalam kompetisi tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk mendorong inovasi, teknologi, dan talenta digital.
Menurutnya, pengembangan talenta memiliki hubungan erat dengan kebutuhan transformasi industri. Karena itu, perguruan tinggi perlu membuka lebih banyak ruang bagi mahasiswa dan generasi muda untuk berinteraksi dengan persoalan nyata.
Melalui kompetisi seperti ini, peserta dapat mengembangkan kemampuan sekaligus mengenal kebutuhan dunia industri secara lebih dekat.
Pemerintah Dorong Indonesia Jadi Pengembang AI
Dari unsur pemerintah, Analis Kebijakan Ahli Madya Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Suparjo, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, pemerintah, industri, dan akademisi perlu bergerak bersama untuk mempercepat pertumbuhan ekosistem AI di Indonesia.
Ia juga melihat kompetisi tersebut sebagai ruang bagi para finalis untuk mengasah kemampuan teknis sekaligus menggunakannya dalam menyelesaikan persoalan nyata.
Lebih jauh, Suparjo mendorong Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI. Indonesia juga perlu mengembangkan inovasi dan memperkuat posisi sebagai pusat pengembangan teknologi tersebut.
DKI Jakarta Ingin Inovasi Berlanjut
Sementara itu, Kepala Bidang Perekonomian Bappeda Provinsi DKI Jakarta, Feirully Irzal, menilai AI Open Innovation Challenge 2026 berhasil mempertemukan talenta, akademisi, pemerintah, dan industri dalam satu ekosistem.
Namun, menurut Feirully, perjalanan inovasi seharusnya tidak berhenti setelah kompetisi berakhir.
Karena itu, ia berharap solusi yang lahir dari kompetisi dapat melanjutkan proses melalui business matching dan piloting bersama dinas terkait.
Selain itu, inovasi tersebut juga dapat membuka peluang pertukaran praktik terbaik dengan kota-kota yang menjadi mitra Jakarta.
Jababeka Dorong Solusi AI Lebih Aplikatif
Pandangan serupa datang dari VP Business Development PT Jababeka Tbk, Ardiyansyah Djafar.
Ia melihat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha sebagai salah satu kunci untuk mempercepat perkembangan ekonomi digital.
Karena itu, ia berharap AI Open Innovation Challenge dapat melahirkan solusi yang semakin matang dan aplikatif. Solusi tersebut juga perlu menjawab kebutuhan industri sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ini Daftar Pemenang AI Open Innovation Challenge 2026
Juri menilai para peserta berdasarkan beberapa aspek. Penilaian mencakup inovasi, kualitas teknis, relevansi solusi, serta potensi implementasi.
Pada kategori Sektor Industri, tim Manusia Tak Pakai AI akan Kalah meraih gelar Juara Umum.
Tim tersebut beranggotakan Raihan Putra Kirana, Hilfani Rayyanne Subagio, Muhammad Abyan Putra Wibowo, Husni Abdillah Ray, dan Steven Lie Wibowo.
Sementara itu, pada kategori SMA Sektor Industri, Tim Pasti Menang meraih juara pertama.
Posisi berikutnya ditempati oleh CargoArch AI dan Quasarian Radr-Lyon Dynasty.
AI Muda Diharapkan Lahirkan Solusi yang Bisa Dipakai
AI Open Innovation Challenge 2026 menunjukkan bahwa pengembangan talenta AI dapat berjalan melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
Lebih dari itu, kompetisi ini memberi kesempatan kepada generasi muda untuk berhadapan langsung dengan persoalan industri dan pemerintahan.
Melalui proses mentoring, kunjungan industri, pengembangan prototipe, hingga presentasi solusi, peserta mendapatkan pengalaman untuk membawa teknologi dari tahap gagasan menuju penerapan.
Ke depan, para penyelenggara berharap inovasi yang lahir dari kompetisi tidak berhenti sebagai prototipe. Sebaliknya, solusi tersebut dapat terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi industri maupun masyarakat.
Penulis: Putri Faathiman Niara

