Mahasiswa UNAIR Raih Juara Nasional Lewat Inovasi Aplikasi Edutainment Berbasis Metaverse dan Blockchain
educare.co.id, Surabaya – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Dua mahasiswa lintas fakultas UNAIR, Mohammad Pradana Setyawan dari Program Studi Teknologi Radiologi Pencitraan (Sekolah Vokasi) dan Rava Adistya Hanum dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (Fakultas Ilmu Budaya), berhasil meraih Juara I dalam ajang National Essay Competition (NEC) 2025. Pengumuman pemenang dilakukan pada Selasa (6/5/2025).
Kemenangan ini diraih melalui esai bertajuk Aplikasi Edutainment Berbasis Metaverse dan Blockchain Sebagai Solusi Pendidikan Kritis dalam Era Demokrasi Digital. Gagasan inovatif tersebut menyoroti rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan demokrasi digital.
Dalam karya mereka, Pradana dan Rava mengusulkan pengembangan aplikasi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang menggabungkan unsur hiburan edukatif (edutainment), teknologi metaverse, serta sistem keamanan berbasis blockchain. Aplikasi ini dirancang untuk mendorong literasi digital dan pembentukan karakter demokratis sejak usia sekolah.
“Kami prihatin melihat maraknya disinformasi dan buzzer politik yang mudah memengaruhi siswa. Demokrasi yang sehat butuh generasi yang kritis dan aktif. Maka dari itu, kami menghadirkan solusi yang aplikatif dan futuristik,” jelas Pradana.
Rava menambahkan bahwa ide yang mereka tuangkan dalam esai lahir dari kajian literatur mendalam, mencakup data PISA, kebijakan pendidikan di Tiongkok, hingga fenomena media sosial politik di Indonesia.
“Kami menyusun fitur-fitur aplikasi berdasarkan analisis SWOT serta relevansinya dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” tambahnya.
Proses kreatif dalam penyusunan esai ini berlangsung selama dua minggu, dimulai dari sesi brainstorming, riset akademik, penyusunan argumen, hingga perancangan teknis aplikasi. Keduanya mengaku menghadapi tantangan besar dalam mengintegrasikan konsep teknologi mutakhir dengan nilai-nilai demokrasi dan pendidikan secara utuh.
“Menulis itu satu hal, tapi memastikan gagasan kami bisa diterima secara ilmiah dan logis oleh dewan juri menjadi tantangan tersendiri,” ungkap Rava.
Tidak berhenti pada perlombaan, Pradana dan Rava juga berencana mengembangkan ide tersebut menjadi sebuah prototipe nyata. Mereka berupaya mengintegrasikan aplikasi ini dalam program Kampus Merdeka atau menjalin kolaborasi dengan mitra pendidikan.
“Menang itu menyenangkan, tapi yang lebih penting adalah bagaimana gagasan kami bisa benar-benar memberi dampak nyata,” kata Pradana.
Atas pencapaian tersebut, keduanya mendapat apresiasi dari dosen, pihak fakultas, dan keluarga. Mereka berharap kemenangan ini dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UNAIR lainnya untuk terus melahirkan ide-ide inovatif demi perubahan sosial yang positif.
