Kolaborasi Mahasiswa ITB dan UI Menangkan Kompetisi Video Kampanye Gizi Nasional
educare.co.id, Bandung – Dilpa Nur Saputra dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Tedi Septiadi dari Universitas Indonesia (UI) sukses meraih posisi kedua dalam ajang Lomba Kreasi Video Kampanye Makan Bergizi Gratis (MBG) Berbasis Kecerdasan Buatan (AI) 2024, yang diumumkan pada Rabu, 15 Januari 2025.
Kompetisi ini diadakan oleh PERGIZI PANGAN Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB, Yayasan Makanan dan Minuman Indonesia (YAMMI), serta linisehat. Mengusung tema “Giziku, Gizimu dalam Makanan Minuman Kita untuk Masa Depan Bangsa,” peserta ditantang untuk membuat video kampanye berbasis AI yang bertujuan menyadarkan masyarakat akan pentingnya makanan bergizi sebagai langkah untuk memperbaiki kesehatan generasi masa depan.
Dengan video berjudul “Menu Sehat, Masa Depan Cerah,” Dilpa dan Tedi mengangkat pesan bahwa setiap anak berhak mendapatkan makanan sehat dan bergizi. “Kami ingin menegaskan bahwa makanan bergizi bukan sekadar hak istimewa, melainkan kebutuhan fundamental yang harus dipenuhi. Video ini juga menekankan pentingnya kontribusi pemerintah, masyarakat, dan teknologi dalam membangun ketahanan pangan,” kata Dilpa dalam siaran tertulis ITB (9/5)
Proses pembuatan video mereka memadukan teknologi AI dengan pengerjaan manual. Pada awalnya, mereka menggunakan ChatGPT untuk menulis naskah, Anthiago untuk mengambil data dari video referensi, Editpad untuk merangkum informasi penting, dan Pictory untuk mengidentifikasi adegan kunci. Selanjutnya, mereka beralih ke proses manual, mulai dari pembuatan storyboard, desain visual di Canva, hingga editing menggunakan CapCut. Dilpa menyebutkan bahwa AI sangat membantu mempercepat riset dan penulisan, meskipun unsur kreatif seperti cerita dan desain tetap membutuhkan peran manusia.
Video tersebut dikerjakan selama sekitar satu minggu dengan pembagian tugas yang jelas: Dilpa menangani skrip, desain grafis, dan editing akhir, sedangkan Tedi bertanggung jawab atas animasi dan visualisasi. Proses produksi terbagi menjadi tiga tahap utama, yakni pra-produksi selama 2–3 hari untuk riset dan penulisan naskah, produksi selama 2 hari untuk membuat ilustrasi menggunakan Canva, dan pascaproduksi selama 2–3 hari untuk proses editing dan penyempurnaan efek melalui CapCut.
Pengalaman ini memberikan banyak pembelajaran. Mereka menyadari bahwa AI bukan pengganti kreativitas manusia, melainkan alat bantu yang dapat mempercepat proses. Mereka juga menekankan pentingnya memberikan perintah (prompt) yang tepat dan spesifik agar hasil yang diberikan AI lebih akurat. Lewat karya ini, mereka berharap dapat mendorong lebih banyak pihak untuk turut serta dalam memperkuat ketahanan pangan dan gizi di Indonesia.
