Air Bersih Masih Terbatas Pascabencana, UMY Siapkan Alat Penjernih Portabel untuk Warga Manggarai Timur

Must read

EDUCARE.CO.ID – Keterbatasan air bersih masih menjadi persoalan bagi masyarakat Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam proses pemulihan pascabencana. Menanggapi kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui Tim Aksara Peduli menyiapkan teknologi penjernihan air portabel untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga.

Inisiatif ini menjadi bagian dari program Aksara Peduli 2026 yang mendapat dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Melalui program tersebut, UMY mendorong pemulihan masyarakat dengan menggabungkan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi tepat guna, dan pemberdayaan warga.

Ketua Tim Aksara Peduli UMY, Dr. Al Afik, Ns, M.Kep., menjelaskan bahwa ketersediaan air bersih menjadi salah satu persoalan utama yang tim temukan di Pota. Karena itu, tim tidak hanya mencari sumber air yang memadai, tetapi juga menyiapkan teknologi pengolahan yang sesuai dengan kondisi setempat.

“Karena ini pascabencana, salah satu problemnya adalah air bersih. Di sini air bersihnya sangat minim, sehingga kita berupaya untuk mencari sumbernya yang bagus. Kemudian dilakukan penjernihan air,” ujar Afik saat diwawancarai pada Kamis (5/11).

UMY Siapkan Teknologi Penjernihan Air Portabel

Untuk membantu mengatasi keterbatasan tersebut, Tim Aksara Peduli UMY menyiapkan alat penjernih air sederhana yang mudah dipindahkan. Teknologi tepat guna (TTG) ini dirancang untuk mengolah air dari sumber yang tersedia agar masyarakat dapat memanfaatkannya sesuai kebutuhan.

Namun, pengembangan alat tidak berhenti pada penyediaan perangkat. Tim juga perlu mengidentifikasi sumber air yang layak, menyesuaikan metode pengolahan, serta mempertimbangkan kondisi lingkungan di wilayah Pota.

Berdasarkan sumber UMY, keterbatasan air bersih menjadi salah satu fokus pendampingan pascabencana. Tim juga melihat peluang untuk mengembangkan fasilitas pengolahan air agar manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mendukung aktivitas masyarakat.

Meski demikian, teknologi penjernihan air tersebut masih berada dalam tahap persiapan dan pengembangan. Tim perlu mengkaji kualitas sumber air, hasil pengolahan, kebutuhan sarana pendukung, serta sistem operasional sebelum masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas tersebut secara lebih luas.

Fasilitas Pengolahan Air Berpeluang Dukung Kegiatan Ekonomi

Selain membantu memenuhi kebutuhan air bersih, UMY menjajaki kemungkinan pengembangan fasilitas pengolahan air di lingkungan SMK Muhammadiyah Manggarai Timur dan pondok pesantren setempat.

Kedua lembaga pendidikan tersebut memiliki potensi untuk menjadi pusat pengelolaan fasilitas yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekolah sekaligus masyarakat sekitar. Dengan dukungan pengelolaan yang tepat, fasilitas tersebut juga berpeluang membuka kegiatan ekonomi sederhana.

Salah satu gagasan yang muncul ialah menyediakan air siap minum melalui sistem pengelolaan yang melibatkan kontribusi pengguna. Dana tersebut nantinya dapat membantu membiayai kebutuhan operasional, termasuk penggunaan listrik dan pemeliharaan peralatan.

Akan tetapi, tim masih perlu mengkaji kelayakan gagasan tersebut. Beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian mencakup ketersediaan sumber air, standar kualitas hasil pengolahan, kebutuhan instalasi, serta kemampuan pengelola dalam menjaga keberlanjutan fasilitas.

Dengan perencanaan yang matang, fasilitas pengolahan air diharapkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga membuka peluang bagi lembaga pendidikan dan masyarakat untuk mengelola sumber daya secara produktif.

UMY Dorong Masyarakat Lebih Mandiri Pascabencana

Bagi Tim Aksara Peduli, pemulihan pascabencana membutuhkan lebih dari sekadar bantuan sementara. Masyarakat juga perlu memperoleh pengetahuan dan keterampilan agar mampu mengelola sumber daya serta memanfaatkan teknologi secara mandiri.

Afik menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu membangun kemampuan masyarakat melalui pendampingan yang berkelanjutan. Dengan begitu, warga tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memiliki bekal untuk mengembangkan solusi sesuai kebutuhan lingkungan mereka.

“Kami berharap mereka tidak hanya menadahkan tangan menerima uluran, tetapi bisa bergerak dengan sendirinya dengan prototipe atau dengan ilmu-ilmu yang sudah kita berikan,” katanya.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan Aksara Peduli 2026. Selain memperkenalkan teknologi tepat guna, tim ingin mendorong masyarakat agar mampu mengelola potensi lokal dan mengembangkan kegiatan produktif.

Di luar persoalan air bersih, tim juga melihat peluang pengembangan sektor pertanian dan kegiatan ekonomi masyarakat. Pota memiliki potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan melalui dukungan teknologi, penelitian, serta pendampingan yang sesuai dengan kondisi setempat.

Pemerintah dan Masyarakat Pota Dukung Program Aksara Peduli

Pelaksanaan program Aksara Peduli UMY turut melibatkan berbagai unsur masyarakat di Pota. Afik menyampaikan bahwa komunikasi dengan pemerintah setempat, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, dan unsur Persyarikatan Muhammadiyah berjalan dengan baik.

Hubungan tersebut juga memiliki landasan dari kegiatan pengabdian UMY sebelumnya. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah Manggarai Timur, mahasiswa UMY telah membangun interaksi dengan masyarakat dan memperkuat hubungan antara kampus dengan lingkungan setempat.

Karena itu, ketika tim memperkenalkan rencana Aksara Peduli 2026, sejumlah pihak menyambut baik inisiatif tersebut. Dukungan masyarakat menjadi modal bagi tim untuk membangun kolaborasi sekaligus memastikan program berjalan sesuai kebutuhan warga.

Selain membantu pelaksanaan kegiatan, keterlibatan pemerintah, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan juga berperan dalam menjaga keberlanjutan program. Mereka dapat mendukung pengelolaan fasilitas, koordinasi kegiatan, serta pendampingan setelah program pengabdian berakhir.

Desa Pota Berpeluang Menjadi Wilayah Binaan UMY

Dukungan masyarakat juga membuka peluang kerja sama jangka panjang antara UMY dan wilayah Pota. Afik mengungkapkan bahwa sejumlah tokoh masyarakat berharap kampus dapat menjadikan desa tersebut sebagai wilayah binaan.

“Desa Pota ini ingin menjadi desa binaan. Nanti akan bersinergi untuk bisa secara berkelanjutan. Desa Pota kemudian SMK Muhammadiyah Manggarai Timur binaan dari kampus UMY,” jelasnya.

Menanggapi harapan tersebut, Afik melihat peluang kolaborasi melalui berbagai kegiatan perguruan tinggi. UMY dapat mengembangkan program pengabdian dosen, penelitian, hingga keterlibatan mahasiswa melalui KKN.

Pendampingan juga dapat menjangkau sejumlah sektor sesuai kebutuhan masyarakat. Bidang pertanian, peternakan, pendidikan, dan pengembangan teknologi tepat guna menjadi beberapa peluang kerja sama yang dapat dikembangkan.

Dengan pola tersebut, hubungan antara kampus dan masyarakat tidak hanya berlangsung selama program pemulihan pascabencana. Sebaliknya, kerja sama dapat berlanjut melalui kegiatan yang mendorong peningkatan kapasitas warga dan pengembangan potensi daerah.

Tantangan Geografis Jadi Perhatian dalam Pendampingan

Meski mendapat dukungan dari berbagai pihak, UMY tetap perlu memperhitungkan kondisi geografis Pota. Jarak dan akses perjalanan yang tidak mudah menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksanaan kegiatan, terutama jika kampus ingin membangun pendampingan dalam jangka panjang.

Afik menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dapat membantu mengatasi tantangan tersebut. Kerja sama antarpihak juga penting untuk mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak bencana.

“Kami menjadi pendamping dari rehabilitasi rekonstruksi di daerah Pota, Sambi Rampas, Manggarai Timur, yang memiliki potensi pertanian yang luar biasa,” ujarnya.

Melalui Aksara Peduli 2026, UMY ingin menghubungkan pemulihan pascabencana dengan penguatan kapasitas masyarakat. Rencana penyediaan teknologi penjernihan air menjadi salah satu langkah untuk menjawab kebutuhan dasar warga, sementara pengembangan sektor pertanian dan ekonomi membuka peluang pemberdayaan yang lebih luas.

Ke depan, keberlanjutan program akan bergantung pada kesiapan teknologi, pengelolaan fasilitas, serta keterlibatan masyarakat. Dengan dukungan berbagai pihak, UMY berharap pendampingan di Pota dapat berkembang menjadi kerja sama jangka panjang yang mendorong kemandirian warga.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article