Mahasiswa UNAIR Ciptakan Smart Glasses AI, Bantu Tunanetra Kenali dan Tangani Luka

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan inovasi teknologi untuk membantu penyandang tunanetra menghadapi situasi darurat. Mereka mengembangkan NyxAId, kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu memberikan panduan awal saat pengguna mengalami cedera atau luka.

Inovasi ini memadukan teknologi wearable dengan Generative AI. Pengembangan NyxAId juga mengantarkan lima mahasiswa UNAIR melaju ke final Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC).

Tim pengembang terdiri atas Gressendy Zahwarani, Hannah Icasia Illine, Shafrie Alvito Wimala Rasendrya, Muhammad Bariq Azka, dan Zalfa Zahira Febriyani. Kelima mahasiswa tersebut berasal dari lintas fakultas di UNAIR.

Berangkat dari Keterbatasan Akses Informasi Medis

Ketua tim, Gressendy Zahwarani, menjelaskan bahwa NyxAId lahir dari persoalan akses informasi medis bagi penyandang tunanetra. Selama ini, banyak panduan pertolongan pertama mengandalkan instruksi visual sehingga tidak selalu mudah diakses oleh pengguna dengan hambatan penglihatan.

“Fokus kami adalah memberikan dukungan informasi awal yang lebih inklusif melalui media suara,” ujar Gressendy, Minggu, 1 November 2026.

Melalui kacamata pintar tersebut, pengguna dapat memperoleh panduan tanpa harus mengoperasikan perangkat menggunakan tangan. Dengan begitu, mereka tetap leluasa menggunakan kedua tangan saat menangani luka.

“Dengan demikian, pengguna tetap dapat bebas memanfaatkan kedua tangannya saat menangani luka,” katanya.

Berdasarkan sumber Universitas Airlangga, tim merancang teknologi ini untuk menghubungkan perangkat kacamata pintar dengan aplikasi berbasis AI. Sistem tersebut mengolah informasi visual tentang kondisi luka, kemudian menyampaikan panduan melalui suara agar pengguna tunanetra dapat mengakses informasi awal secara lebih mudah.

Gabungkan Kamera, Aplikasi Mobile, dan Generative AI

NyxAId menggunakan kamera yang terpasang pada smart glasses untuk mengambil gambar kondisi luka pengguna. Selanjutnya, aplikasi mobile memproses gambar tersebut dengan model AI berbasis Retrieval-Augmented Generation (RAG).

Teknologi RAG membantu sistem mencocokkan informasi dari gambar dengan basis pengetahuan medis mengenai pertolongan pertama. Hasil pemrosesan kemudian menjadi panduan suara yang dapat didengar pengguna.

Pendekatan ini memungkinkan pengguna memperoleh informasi awal tanpa harus membaca instruksi di layar. Selain itu, integrasi kamera dan panduan audio menjadi bagian penting dari upaya tim menghadirkan teknologi yang lebih mudah diakses.

Meski demikian, NyxAId berfungsi sebagai alat bantu informasi awal. Panduannya tidak menggantikan pemeriksaan maupun penanganan langsung oleh tenaga medis, terutama ketika pengguna mengalami luka serius atau kondisi darurat.

Tantangan Akurasi AI dan Integrasi Perangkat

Pengembangan NyxAId tidak lepas dari tantangan teknis. Tim harus memastikan kecerdasan buatan dapat bekerja selaras dengan perangkat keras dan aplikasi pendukungnya.

Di satu sisi, kacamata perlu memiliki desain ergonomis dan ukuran yang ringkas agar nyaman digunakan. Di sisi lain, perangkat juga harus terhubung dengan aplikasi secara lancar supaya proses pengolahan informasi berjalan baik.

Gressendy menyebut akurasi analisis AI sebagai salah satu perhatian utama tim. Sistem perlu mengenali kondisi luka secara tepat sebelum menyampaikan informasi penanganan awal kepada pengguna.

“Tantangan terbesar kami terletak pada akurasi AI dan integrasi hardware,” ucap Gressendy.

Melalui NyxAId, mahasiswa UNAIR menunjukkan pemanfaatan teknologi AI dan perangkat wearable untuk menjawab kebutuhan aksesibilitas. Keikutsertaan tim dalam final PIMNAS ke-39 juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa mengembangkan inovasi yang menghubungkan teknologi dengan persoalan nyata di masyarakat.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article