Kenalkan BON-GIRI, Stik Keju Berbahan Tepung Tulang Ikan Karya Mahasiswa UBB

Must read

EDUCARE.CO.ID – Tulang ikan tenggiri yang kerap tersisa setelah proses pengolahan kini mendapat peluang baru sebagai bahan makanan. Lima mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB) mengembangkan BON-GIRI, produk stik keju yang memanfaatkan tepung tulang ikan tenggiri sebagai salah satu bahan pembuatannya.

Melalui inovasi ini, tim mahasiswa menggabungkan kreativitas kuliner dengan peluang usaha berbasis potensi lokal. Mereka mengolah bahan yang kurang dimanfaatkan menjadi bagian dari produk camilan yang memiliki nilai jual.

Gagasan tersebut relevan dengan aktivitas perikanan di Bangka Belitung. Data sektoral Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat produksi perikanan tangkap mencapai sekitar 228.582 ton pada 2023. Angka itu menunjukkan besarnya aktivitas perikanan di wilayah tersebut, meskipun tidak secara langsung menggambarkan jumlah limbah tulang ikan yang dihasilkan.

Food and Agriculture Organization (FAO) pada 2021 menjelaskan bahwa pengolahan ikan menghasilkan berbagai hasil samping, mulai dari kepala, tulang, kulit, hingga isi perut. Jumlahnya dapat mencapai sekitar 30–70 persen dari berat ikan utuh, bergantung pada jenis ikan dan metode pengolahannya.

Jika pelaku usaha tidak mengelolanya dengan tepat, hasil samping tersebut berpotensi menjadi limbah. Sebaliknya, pengolahan yang sesuai dapat membuka peluang pemanfaatan baru dan meningkatkan nilai ekonomi bahan perikanan.

Berawal dari Usaha Lokal, Mahasiswa UBB Kembangkan BON-GIRI

BON-GIRI merupakan produk stik keju yang menggunakan tepung tulang ikan tenggiri sebagai salah satu bahan bakunya. Nama BON-GIRI memadukan kata bone, yang berarti tulang, dan tenggiri untuk menggambarkan karakter utama produk tersebut.

Usaha stik keju yang menjadi dasar pengembangan BON-GIRI telah berjalan sejak 2015 di Desa Pedindang, Kabupaten Bangka Tengah. Pada 2026, lima mahasiswa UBB mengembangkan kembali usaha tersebut melalui Program Kampus Berdampak Kewirausahaan.

Tim tidak hanya berfokus pada penjualan makanan ringan. Mereka juga mengeksplorasi potensi bahan lokal dan mencari cara untuk memanfaatkan hasil samping pengolahan ikan secara lebih produktif.

Untuk mendukung produksi, tim memperoleh tulang ikan dari mitra pengolahan ikan di Pasar Pagi Pangkalpinang dan Toko Graha Otak-Otak. Kerja sama ini membantu tim mendapatkan bahan baku sekaligus membangun hubungan dengan pelaku usaha di sekitar mereka.

Namun, ketersediaan bahan baku saja belum cukup untuk menjamin kelancaran produksi. Tim tetap perlu mengumpulkan, membersihkan, mengolah, dan menyimpan tulang ikan dengan prosedur yang tepat. Pengelolaan tersebut membantu menjaga mutu bahan sebelum tim menggunakannya dalam pembuatan makanan.

Olah Tulang Ikan Tenggiri Menjadi Stik Keju

Tim memulai proses pembuatan BON-GIRI dengan mengolah tulang ikan tenggiri menjadi tepung. Setelah itu, mereka mencampurkan tepung tersebut dengan bahan lain, seperti tepung ketan, telur, keju cheddar, margarin, santan, dan bumbu sesuai resep.

Selanjutnya, tim mengolah adonan hingga merata, membentuknya menjadi stik, lalu memasaknya sampai siap dikemas. Setiap tahap membutuhkan perhatian terhadap kebersihan, kematangan, tekstur, dan rasa agar produk dapat memenuhi kebutuhan konsumen.

Pemanfaatan tulang ikan menjadi pembeda BON-GIRI dari stik keju pada umumnya. Lebih dari itu, pendekatan ini membuka peluang untuk meningkatkan nilai guna bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

FAO pada 2021 juga menjelaskan bahwa pelaku usaha dapat memanfaatkan hasil samping pengolahan ikan untuk berbagai keperluan, mulai dari bahan pakan hingga produk bernilai tambah lainnya. Meski demikian, setiap pemanfaatan harus menyesuaikan karakter bahan, metode pengolahan, dan persyaratan keamanan yang berlaku.

Tulang ikan mengandung mineral, termasuk kalsium dan fosfor. Akan tetapi, bahan baku tersebut tidak otomatis menjamin kadar mineral tertentu pada BON-GIRI. Tim perlu melakukan pengujian laboratorium terhadap produk akhir sebelum mencantumkan informasi kandungan gizi atau manfaat kesehatan secara spesifik.

Hadirkan Lima Varian Rasa dengan Harga Rp10 Ribu

Untuk memberikan pilihan kepada konsumen, BON-GIRI menawarkan lima varian rasa, yaitu original, pedas daun jeruk, balado, BBQ, dan rumput laut.

Tim mengemas produk dalam standing pouch dengan berat 150 gram per kemasan. Mereka menetapkan harga Rp10.000 agar konsumen dapat mengetahui harga produk dengan mudah sebelum membeli.

Variasi rasa dan kemasan menjadi bagian dari upaya tim untuk memperkenalkan BON-GIRI kepada pasar. Meski begitu, tim tetap perlu mengevaluasi respons konsumen terhadap rasa, tekstur, ukuran kemasan, dan harga agar pengembangan produk sesuai dengan kebutuhan pembeli.

Produksi 100 Kemasan per Bulan, Potensi Omzet Rp1 Juta

Saat ini, tim memproduksi sekitar 100 kemasan BON-GIRI setiap bulan. Jumlah tersebut menjadi tahap awal untuk mengenalkan produk, mengukur respons pasar, dan mempelajari pengelolaan usaha secara langsung.

Dengan harga Rp10.000 per kemasan, penjualan seluruh 100 kemasan berpotensi menghasilkan omzet kotor Rp1 juta per bulan. Namun, tim masih harus mengurangi biaya bahan baku, kemasan, tenaga kerja, distribusi, dan kebutuhan produksi lainnya untuk menghitung keuntungan bersih.

Karena itu, pengelolaan keuangan menjadi bagian penting dalam pengembangan BON-GIRI. Tim perlu menghitung biaya secara cermat, menentukan harga jual, mengatur persediaan, dan menjaga kualitas produk agar kegiatan usaha berjalan secara terukur.

Selain keuangan, tim juga perlu memastikan ketersediaan bahan baku. Mereka harus mengatur proses pengumpulan dan penyimpanan tulang ikan agar pasokan tetap sesuai dengan kebutuhan produksi.

Jika permintaan pasar meningkat, tim dapat mengevaluasi kapasitas produksi dan memperbaiki alur kerja secara bertahap. Dengan pendekatan tersebut, mereka dapat mengembangkan usaha sesuai kemampuan tanpa mengabaikan kualitas produk.

Manfaatkan Media Sosial dan Bazar untuk Memperluas Pasar

Produk yang menarik membutuhkan strategi pemasaran agar konsumen mengenalnya. Oleh karena itu, tim BON-GIRI memanfaatkan saluran digital dan penjualan langsung untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat.

Melalui pemasaran daring, tim menggunakan Instagram, TikTok, Facebook, dan WhatsApp untuk menyampaikan informasi tentang produk, varian rasa, harga, serta cara pemesanan. Mereka juga memanfaatkan Shopee sebagai salah satu pilihan untuk menjangkau calon pembeli melalui platform perdagangan elektronik.

Sementara itu, tim menjalankan pemasaran luring dengan menitipkan produk di toko atau tempat penjualan oleh-oleh. Mereka juga mengikuti bazar UMKM dan kegiatan kewirausahaan untuk memperkenalkan BON-GIRI secara langsung kepada calon konsumen.

Kedua pendekatan tersebut memberikan kesempatan bagi tim untuk menjangkau konsumen melalui cara yang berbeda. Media sosial membantu menyebarkan informasi, sedangkan penjualan langsung memungkinkan calon pembeli melihat produk sebelum memutuskan untuk membeli.

Selanjutnya, tim dapat memanfaatkan tanggapan konsumen untuk mengevaluasi kualitas produk. Masukan mengenai rasa, tekstur, kemasan, dan harga dapat menjadi dasar perbaikan pada tahap pengembangan berikutnya.

Tim juga perlu menjaga konsistensi kualitas dan memberikan informasi produk secara jelas. Selain menjelaskan bahan yang digunakan, mereka perlu mencantumkan petunjuk penyimpanan yang sesuai. Dengan demikian, strategi pemasaran dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga mutu produk.

BON-GIRI Buka Peluang Pemanfaatan Hasil Samping Perikanan

Pengembangan BON-GIRI sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yaitu pendekatan yang mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien dan mengurangi bahan yang terbuang.

Dalam sektor perikanan, pengolahan hasil samping dapat membuka peluang usaha baru ketika pelaku usaha menerapkan metode yang tepat. Bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat menjadi bagian dari produk lain dan memberikan nilai tambah ekonomi.

Namun, inovasi produk tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan limbah perikanan. Pelaku usaha tetap perlu memperhatikan keamanan pangan, kelayakan proses produksi, ketersediaan bahan baku, dan penerimaan konsumen. Selain itu, tim harus memastikan bahwa proses produksi mampu memenuhi kebutuhan pasar secara konsisten.

Lima mahasiswa Universitas Bangka Belitung mengembangkan produk ini melalui kegiatan kewirausahaan dengan memanfaatkan tepung tulang ikan tenggiri. Pengembangan tersebut mencakup pengolahan bahan baku, pemilihan varian rasa, pengemasan, perhitungan usaha, serta pemasaran melalui saluran daring dan luring.

Inisiatif ini menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat menghubungkan potensi lokal dengan pengembangan produk. Meski demikian, keberlanjutan usaha tetap bergantung pada kemampuan tim menjaga kualitas, mengelola biaya, dan menyesuaikan produksi dengan kebutuhan konsumen.

Dari Ide Sederhana Menuju Pengalaman Berwirausaha

Bagi mahasiswa, BON-GIRI menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan perkuliahan ke dalam kegiatan bisnis. Mereka belajar mengenali peluang, mengolah bahan baku, mengembangkan produk, menghitung biaya, menentukan harga, dan memperkenalkan hasil inovasi kepada konsumen.

Produksi sekitar 100 kemasan per bulan memberikan kesempatan bagi tim untuk mengevaluasi proses usaha sebelum meningkatkan kapasitasnya. Mereka dapat memperbaiki kemasan, memperluas pemasaran, mengatur biaya produksi, dan meningkatkan kualitas berdasarkan hasil evaluasi.

Jika ingin memperluas informasi mengenai kandungan gizi, tim juga dapat melakukan pengujian laboratorium terhadap produk jadi. Hasil pengujian tersebut dapat menjadi dasar untuk mencantumkan informasi nutrisi secara akurat dan bertanggung jawab.

BON-GIRI memperlihatkan bahwa peluang usaha dapat muncul dari bahan yang sering luput dari perhatian. Melalui stik keju dengan tambahan tepung tulang ikan tenggiri, mahasiswa UBB mencoba mengembangkan produk yang menghubungkan kreativitas, kewirausahaan, dan pemanfaatan potensi lokal.

Perjalanan BON-GIRI masih berlanjut. Namun, usaha ini telah memberikan pengalaman bagi tim untuk mengubah ide menjadi produk, mengenali kebutuhan pasar, dan mempelajari tantangan dalam menjalankan bisnis.

Lebih dari sekadar camilan, BON-GIRI menjadi contoh upaya mahasiswa dalam mengeksplorasi peluang ekonomi dari hasil samping perikanan. Dengan pengelolaan yang tepat dan pengembangan secara bertahap, inovasi semacam ini berpotensi membuka peluang usaha baru sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih produktif.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article