EDUCARE.CO.ID – Lima mahasiswa Program Studi Intelligent Robotics and Electronic Systems (IRES) mengukir prestasi di ajang RoboRoarZ Indonesia 2025. Melalui Tim Calibots, mereka meraih Juara 2 internasional dalam kategori Smorphi Autonomous Challenge lewat inovasi robot pengantar makanan.
Program Studi Teknik Industri Universitas Pelita Harapan (UPH) menyelenggarakan kompetisi tersebut pada 30–31 Oktober 2025. Ajang ini mempertemukan peserta dari berbagai kota di Indonesia serta delegasi dari Singapura dan Filipina. Secara keseluruhan, kompetisi RoboRoarZ Indonesia 2025 melibatkan 25 tim.
Berdasarkan sumber laman resmi Calvin Institute of Technology, RoboRoarZ sendiri merupakan kompetisi robotika internasional yang digagas oleh Singapore University of Technology and Design (SUTD). Melalui ajang ini, peserta mendapat kesempatan untuk menerapkan teori perkuliahan dalam tantangan teknologi yang nyata.
Tim Calibots Rancang Robot Pengantar Makanan Berbasis Smorphi

Tim Calibots beranggotakan Giuseppe Abel Budyson, Gabriel Marcho Panggey, Jaeden Hope Feivel, Luis Levin Halim, dan Moses Yosafat Immanuel. Kelimanya merupakan mahasiswa IRES angkatan 2024.
Dalam kompetisi tersebut, mereka mengembangkan robot pengantar makanan menggunakan platform Robot Smorphi. Robot ini memiliki dua pilihan pengoperasian, yaitu kendali manual melalui controller PS4 dan mode otomatis dengan dukungan sensor tambahan.
Melalui mode otomatis, robot dapat mengikuti lintasan yang telah ditentukan hingga mencapai titik tujuan sesuai waktu yang ditetapkan. Untuk menjalankan tugas tersebut, tim mengandalkan pemrograman dan pengaturan sensor secara tepat.
Tim Calibots memilih konsep pengantar makanan karena melihat peluang penerapan teknologi robotika dalam aktivitas sehari-hari. Selain itu, mereka menilai Robot Smorphi cocok untuk menjalankan misi secara mandiri melalui integrasi pemrograman dan sensor.
Pengembangan robot ini juga menuntut tim menggabungkan sejumlah kemampuan teknis. Mereka harus menyusun program, mengatur sensor, dan memastikan robot mampu mengikuti lintasan sesuai skenario kompetisi.
Dengan demikian, proyek tersebut tidak hanya menguji kemampuan robot untuk bergerak. Tim juga perlu menyelaraskan sistem kendali dan sensor agar robot dapat menyelesaikan misi sesuai target.
Kompetisi Pertama Menguji Kemampuan Pemecahan Masalah
RoboRoarZ Indonesia 2025 menjadi pengalaman pertama bagi Tim Calibots dalam mengikuti kompetisi robotika. Meski demikian, mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk menguji pengetahuan perkuliahan sekaligus menghadapi tantangan teknis secara langsung.
Selama persiapan dan pelaksanaan lomba, tim menemui sejumlah kendala teknis. Karena waktu yang tersedia terbatas, mereka harus segera menganalisis masalah, mencari solusi, dan menyesuaikan strategi.
Jaeden Hope Feivel menjelaskan bahwa pengalaman tersebut melatih kemampuan tim dalam memecahkan masalah dan berpikir kreatif.
“Kami belajar untuk melakukan problem-solving dan berpikir kreatif dengan cepat dan tepat agar masalah tersebut dapat diselesaikan dan kami tetap bisa memberikan hasil yang baik,” ungkap Jaeden.
Selain mengasah keterampilan teknis, kompetisi ini mendorong anggota tim untuk mengambil keputusan secara cepat. Mereka juga perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan ketika sistem robot mengalami kendala.
Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya pembelajaran berbasis praktik dalam pendidikan robotika. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami konsep di kelas. Mereka juga perlu menguji ide, menganalisis persoalan, dan menemukan solusi ketika menghadapi situasi nyata.
Raih Prestasi Internasional, Mahasiswa Didorong Terus Berinovasi
Keberhasilan Tim Calibots meraih Juara 2 internasional di RoboRoarZ Indonesia 2025 menjadi pengalaman penting bagi kelima anggotanya. Melalui kompetisi ini, mereka mengembangkan keterampilan teknis sekaligus menerapkan pengetahuan robotika dalam sebuah proyek nyata.
Di sisi lain, pencapaian tersebut dapat menjadi dorongan bagi mahasiswa lain untuk mengeksplorasi teknologi dan mengembangkan ide inovatif. Kompetisi robotika memberi ruang bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan sekaligus belajar menghadapi tantangan di luar kegiatan perkuliahan.
Selain pemrograman dan integrasi sensor, mahasiswa juga dapat mengasah kreativitas, kerja sama, serta kemampuan pemecahan masalah melalui proyek semacam ini. Berbagai keterampilan tersebut mendukung proses pembelajaran dan pengembangan teknologi.

