EDUCARE.CO.ID – Kecemasan menjelang operasi jantung menjadi perhatian dua mahasiswa Politeknik Negeri Subang (POLSUB). Sandra Setiawati dan Elza Jihan Rahman Syah merancang teknologi Virtual Reality (VR) untuk membantu pasien mengenal lingkungan operasi tanpa harus menjalani tur rumah sakit secara langsung.
Inovasi tersebut mengantarkan tim Program Studi D3 Keperawatan, Jurusan Kesehatan POLSUB meraih Juara 2 Innovation Project Competition dalam The International Health Science in Technology Seminar and Competition (IHSTSC) 2026 di Universitas Diponegoro.
Tim mengembangkan proyek tersebut bersama dosen pembimbing Indra Gilang Pamungkas, S.Kep., Ners., M.Kep., Sp.Kep.M.B. dan Wardah Fauziah, S.Kep., Ners., M.Kep.
Berdasarkan sumber Politeknik Negeri Subang, tim POLSUB membawa karya berjudul “Designing Virtual Reality as a Transformation of Perioperative Education Technology: A Solution for Health Technology Sovereignty in Cardiac Surgery Patients” dalam kompetisi bertema “Innovating Collaborative Nursing Practice for Safe, Ethical, and Sustainable Patient Care”.

Kecemasan Jadi Masalah Sebelum Operasi
Tim POLSUB mengembangkan inovasi tersebut setelah melihat tantangan psikologis yang sering muncul sebelum operasi jantung.
Jumlah tindakan bedah jantung terus menunjukkan kebutuhan yang besar. Secara global, dokter melakukan sekitar 1 juta hingga 1,5 juta operasi jantung setiap tahun.
Indonesia juga mencatat peningkatan kasus. Data RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita menunjukkan jumlah operasi meningkat dari 1.316 kasus pada 2021, menjadi 1.530 kasus pada 2022, lalu mencapai 2.019 kasus pada 2023.
Di tengah tingginya kebutuhan operasi, pasien juga menghadapi tekanan psikologis. Materi penelitian tim menyebut sekitar 75–80 persen pasien bedah jantung mengalami kecemasan akut menjelang operasi.
Pasien dapat merasa takut terhadap rasa sakit, risiko kecacatan, efek anestesi, hingga kemungkinan kematian.
Kecemasan Bisa Mempengaruhi Kondisi Pasien
Dosen pembimbing Wardah Fauziah menjelaskan bahwa tenaga kesehatan perlu memberi perhatian serius terhadap kecemasan prabedah.
“Kondisi ini sangat krusial. Semakin tinggi tingkat kecemasan, semakin tinggi pula tekanan darah prabedah pasien. Berbagai studi juga membuktikan bahwa kecemasan ini memicu penurunan fungsi kognitif, memperpanjang masa rawat inap, hingga memicu gejala depresi pascaoperasi,” terang Wardah.
Selama ini, tenaga kesehatan dapat membantu pasien melalui edukasi individual dan orientasi lingkungan rumah sakit. Pasien juga dapat mengikuti tur untuk mengenal ruang operasi dan ruang perawatan intensif.
Namun, metode tersebut menghadapi kendala ketika pasien memiliki kondisi fisik yang lemah.
VR Gantikan Tur Fisik ke Ruang Operasi
Tim POLSUB melihat kondisi tersebut sebagai celah yang bisa teknologi jawab.
Dosen pembimbing Indra Gilang Pamungkas menyebut 73,6 persen pasien bedah jantung mengalami kelelahan tingkat tinggi sebelum operasi. Kondisi itu membuat aktivitas tambahan seperti berjalan mengelilingi rumah sakit menjadi kurang ideal bagi sebagian pasien.
“Masalah utamanya adalah 73,6 persen pasien bedah jantung sudah mengalami tingkat kelelahan yang sangat tinggi sebelum operasi. Kondisi fisik ini membuat mereka tidak mungkin diajak berkeliling melakukan tur orientasi ruangan secara langsung. Proyek VR inilah yang kami rancang untuk menutup celah tersebut,” papar Indra Gilang Pamungkas.
Teknologi VR memungkinkan pasien melihat simulasi ruang operasi dan ICU dari tempat tidur.
Pasien dapat mengenali lingkungan yang akan mereka hadapi. Mereka juga dapat memahami gambaran proses perawatan tanpa perlu melakukan aktivitas fisik tambahan.
Teknologi Imersif untuk Edukasi Pasien
Tim merancang VR sebagai media edukasi prabedah. Pasien dapat menggunakan perangkat tersebut untuk memperoleh gambaran lingkungan medis secara lebih imersif.
Pendekatan ini membantu pasien mengenali situasi sebelum menjalani prosedur. Dengan pengetahuan yang lebih baik mengenai lingkungan perawatan, pasien diharapkan dapat menghadapi proses operasi dengan kesiapan psikologis yang lebih baik.
Tim juga mengaitkan inovasi tersebut dengan konsep prehabilitation atau pra-rehabilitasi. Pendekatan ini bertujuan mempersiapkan kondisi pasien sebelum operasi dan mendukung pemulihan setelah tindakan.
Namun, tim tetap menempatkan aspek keamanan dan bukti ilmiah sebagai dasar pengembangan teknologi.
Targetkan TRL 6
Ke depan, tim POLSUB menargetkan teknologi VR tersebut mencapai Technology Readiness Level (TRL) 6.
Target tersebut membutuhkan pengembangan lebih lanjut agar perangkat dapat bekerja secara aman, fungsional, dan mudah digunakan pasien.
Tim juga ingin menyesuaikan materi edukasi dengan kebutuhan pasien. Pengembangan akan mengacu pada pendekatan evidence-based nursing atau praktik keperawatan berbasis bukti.
Wardah mengatakan inovasi tersebut juga membawa misi lebih luas dalam pengembangan teknologi kesehatan nasional.
“Inovasi ini juga menjadi wujud nyata dukungan kami terhadap kedaulatan teknologi kesehatan nasional, selaras dengan enam pilar transformasi kesehatan yang tengah digencarkan oleh pemerintah,” harap Wardah.
Mahasiswa Vokasi Bawa Inovasi ke Dunia Medis
Indra Gilang juga melihat inovasi tersebut memiliki hubungan dengan agenda penguatan sumber daya manusia dan kesehatan nasional.
“Dalam skala yang lebih luas, penyelesaian masalah kecemasan medis ini mendukung program Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, khususnya dalam penguatan pembangunan sumber daya manusia dan kesehatan nasional,” tegasnya.
Prestasi Sandra dan Elza menunjukkan peran mahasiswa vokasi dalam mencari solusi untuk persoalan nyata di bidang kesehatan.
Melalui teknologi VR, tim POLSUB mencoba mempertemukan ilmu keperawatan dengan perkembangan teknologi digital. Mereka tidak hanya mengembangkan gagasan, tetapi juga membawa inovasi tersebut ke ajang kompetisi tingkat internasional.
Berdasarkan sumber Politeknik Negeri Subang, capaian Juara 2 IHSTSC 2026 menjadi bagian dari upaya mahasiswa dan dosen POLSUB mengembangkan inovasi teknologi kesehatan yang aman, etis, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Inovasi tersebut diharapkan terus berkembang hingga tahap penerapan yang lebih matang. Tim juga berharap karya mahasiswa vokasi dapat mendorong lebih banyak kolaborasi antara pendidikan, teknologi, dan layanan kesehatan di Indonesia.

