Mahasiswa UGM Ciptakan Ostosense, Sabuk Pintar untuk Deteksi Kebocoran Kantong Stoma

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan inovasi teknologi kesehatan untuk membantu pasien yang menggunakan stoma. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC), tim mahasiswa UGM menghadirkan Ostosense, sabuk medis pintar yang dapat membaca risiko kebocoran kantong stoma.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), tim menghadirkan Ostosense untuk membantu pasien menghadapi salah satu persoalan yang kerap muncul saat menggunakan kantong stoma, yaitu kebocoran.

Stoma merupakan lubang buatan pada bagian perut yang menjadi jalur keluarnya zat sisa pencernaan, seperti feses. Kebocoran kantong stoma dapat memicu iritasi kulit di sekitar stoma dan menimbulkan bau tidak sedap.

Persoalan tersebut juga dapat membatasi aktivitas pasien. Rasa khawatir bisa muncul ketika pasien harus bergerak atau menjalankan kegiatan di luar rumah.

Ostosense Gabungkan Sensor dan Kecerdasan Buatan

Ketua Tim Ostosense, Putri Eka Desintha dari Program Studi S1 Ilmu Keperawatan UGM, mengatakan tim menggunakan dua sistem untuk mendeteksi risiko kebocoran.

Sistem pertama memanfaatkan sensor kapasitif dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi edge AI memproses data langsung pada perangkat untuk mengenali pola yang mengarah pada risiko kebocoran.

Sistem kedua memanfaatkan sensor resistif berbasis LIG. Tim menempatkan sensor tersebut sebagai sistem fail-safe untuk mendeteksi kebocoran aktual ketika sistem AI mengalami kendala.

“Inovasi ini menggabungkan sistem prediktif berbasis sensor kapasitif dan AI lokal dengan sistem fail-safe berbasis sensor resistif LIG. Dengan pendekatan ini, alat tidak hanya mendeteksi kebocoran yang sudah terjadi, tetapi juga mengenali pola risiko sebelum kebocoran terjadi sehingga pengguna dapat melakukan tindakan pencegahan lebih awal,” jelas Putri, Kamis (1/10).

Dua sistem tersebut membuat Ostosense mampu membaca kondisi kantong stoma dari dua sisi. Sistem AI mencari pola risiko sebelum kebocoran terjadi, sedangkan sensor LIG mendeteksi kebocoran ketika kondisi tersebut benar-benar muncul.

Pendekatan ini memberi pengguna kesempatan untuk mengambil tindakan lebih cepat ketika perangkat membaca adanya peningkatan risiko.

Lima Mahasiswa UGM Kembangkan Ostosense

Putri Eka Desintha memimpin tim yang terdiri atas lima mahasiswa dari berbagai bidang studi.

Tim tersebut beranggotakan Hamzah Abdul Aziz dari S1 Teknik Elektro, Markus Adytama Wisnumaya Nugraha Jati dari D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol, serta Rasyadwa Arsya Irnantyanto dan Marcellinus Dinoglide Yoga Prakoso dari S1 Teknologi Informasi.

Dalam proses pengembangan, Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM. mendampingi tim sebagai dosen pembimbing.

Kolaborasi lintas bidang membantu tim menggabungkan pengetahuan keperawatan, teknik elektro, instrumentasi, dan teknologi informasi. Perpaduan tersebut menjadi dasar tim dalam membangun sistem Ostosense.

Tim UGM Berdiskusi dengan Spesialis Stoma

Tim juga mencari masukan langsung dari tenaga kesehatan untuk memastikan teknologi sesuai dengan kebutuhan pasien.

Salah satu kegiatan berlangsung di Griya Puspa Wound Care, Caturharjo, Sleman, Yogyakarta. Tim berdiskusi dengan Indaryati, S.Kep., Ners., RN, WOC(ET)N, perawat klinis spesialis stoma sekaligus pendiri Jogja Nursing Center.

Indaryati memberikan masukan mengenai kebutuhan pasien dalam menggunakan kantong stoma. Tim kemudian menggunakan masukan tersebut untuk menyempurnakan rancangan Ostosense.

Langkah tersebut membantu tim melihat kebutuhan pasien dari sisi penggunaan sehari-hari. Teknologi tidak hanya mengejar fungsi deteksi, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan dan kemudahan penggunaan.

Ostosense dapat membantu pasien kolostomi mengenali peningkatan risiko kebocoran. Ketika perangkat menemukan tanda risiko, pengguna dapat segera mengambil langkah pencegahan sebelum kebocoran semakin parah dan menembus baseplate.

UGM Dorong Pengembangan Ostosense Lebih Lanjut

Tim PKM-KC UGM ingin terus menyempurnakan Ostosense. Mereka menargetkan perangkat ini agar semakin praktis, terjangkau, dan mudah digunakan oleh pasien yang membutuhkan stoma.

Pengembangan berikutnya juga dapat memperluas fungsi Ostosense dalam mendukung kemandirian pasien. Teknologi tersebut diharapkan membantu pasien menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

“Kami berharap Ostosense bisa terus dikembangkan agar nantinya dapat menjadi alat yang bermanfaat dan mudah digunakan, sekaligus membantu pasien dengan gangguan sistem pencernaan yang memerlukan pembuatan stoma,” pungkas Putri.

 

Penulis: Andini Namira Saskirana

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article