Mahasiswa FST UNAIR Ubah Sisik dan Tulang Ikan Sapu-Sapu Jadi Material Ramah Lingkungan

Must read

EDUCARE.CO.ID – Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) kerap menimbulkan persoalan ekologis di sejumlah perairan Indonesia. Namun, mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) melihat peluang lain dari spesies tersebut.

Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR mengolah sisik dan tulang ikan sapu-sapu menjadi panel akustik ramah lingkungan.

Inovasi ini hadir melalui program Advancing Synergy and Collaboration for Engagement and Network Development (ASCEND) 2026. Tim menggabungkan pengendalian spesies invasif dengan inovasi material.

Selain itu, mereka membawa konsep ekonomi sirkular dalam pengembangan produk.

Berdasarkan sumber laman resmi UNAIR, tim memaparkan program tersebut pada Selasa (22/9/2026) di Ruang Kuliah 321 FST UNAIR.

Program itu mengusung tema Pengembangan Panel Akustik Ramah Lingkungan dari Sisik dan Tulang Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys pardalis) sebagai Strategi Pengendalian Spesies Invasif di Indonesia.

Tim mahasiswa berasal dari Program Studi Teknik Lingkungan UNAIR. Mereka terdiri atas Cahyani Wulandari, Kayla Elisya Azzahra, Azzaenab Maulida Ghina Asria, dan Annisa Faradina.

Mahasiswa Olah Sisik dan Tulang Jadi Panel

Tim memulai proses dengan mengumpulkan sisik dan tulang ikan sapu-sapu. Mereka kemudian membersihkan dan mengeringkan material tersebut.

Setelah kering, tim menghancurkan sisik dan tulang hingga menjadi partikulat. Selanjutnya, mereka mencampurkan partikulat dengan bahan pengikat alami.

Campuran itu kemudian membentuk struktur panel akustik.

Proses tersebut membuat mahasiswa tidak hanya mempelajari teori. Mereka juga memahami tahapan pengolahan material dari bahan awal hingga menjadi produk.

Dosen pembimbing Mhd Zamal Nasution, S.Si., M.Sc., Ph.D. menjelaskan alasan tim memilih bagian tubuh ikan tersebut.

“Pemanfaatan bagian tubuh ikan sapu-sapu sebagai material bukan tanpa alasan. Struktur sisik dan pelat dermalnya memiliki komponen mineral serta matriks organik yang memberikan karakteristik khas pada material. Konsep tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mengeksplorasi kemampuan material dalam meredam energi bunyi,” ujar Zamal.

Menurut Zamal, struktur mineral dan matriks organik pada sisik serta pelat dermal memiliki karakteristik yang menarik untuk penelitian material.

Uji Akustik Tunjukkan Potensi Penyerap Suara

Setelah membuat panel, tim menguji karakteristik material dan kemampuan akustiknya.

Tim sebenarnya merencanakan beberapa pengujian lanjutan. Namun, mereka belum dapat menjalankan karakterisasi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan X-Ray Diffraction (XRD).

Meski begitu, tim tetap memperoleh data dari pengujian akustik.

Data tersebut memberikan gambaran awal mengenai kemampuan panel dalam menyerap energi bunyi.

Hasil awal itu juga memberi arah bagi penelitian berikutnya. Tim dapat mengembangkan komposisi panel dan menguji kemampuan material pada berbagai kondisi.

Panel Tunjukkan Performa pada Frekuensi 250 Hz

Hasil pengujian menunjukkan karakteristik penyerapan suara pada frekuensi tertentu.

Zamal menjelaskan bahwa panel ikan sapu-sapu belum dapat menggantikan panel PET maupun ROCKWOOL secara penuh. Namun, material tersebut menunjukkan performa pada frekuensi 250 Hz.

Pada frekuensi tersebut, panel mencatat nilai absorpsi sebesar 0,30661.

“Meskipun performa panel ikan sapu-sapu belum sepenuhnya dapat menggantikan panel PET atau ROCKWOOL, secara keseluruhan hasil pengujian menunjukkan adanya keunggulan frekuensi 250 Hz dengan nilai absorpsi sebesar 0,30661,” ujar Zamal.

Temuan ini memberi peluang untuk penelitian lanjutan. Tim dapat meningkatkan kemampuan panel dengan mengubah sejumlah parameter material.

Ketebalan hingga Struktur Pori Perlu Dikembangkan

Pengembangan panel akustik dari ikan sapu-sapu masih berada pada tahap awal.

Karena itu, tim dapat mengeksplorasi variasi ketebalan panel. Mereka juga dapat mengubah komposisi material dan bahan pengikat.

Selain itu, struktur pori menjadi salah satu aspek penting untuk dikaji. Variasi struktur tersebut dapat memengaruhi kemampuan material dalam menyerap suara.

Tim juga dapat memperluas pengujian pada berbagai rentang frekuensi. Dengan begitu, mereka dapat melihat karakteristik panel secara lebih menyeluruh.

Karakterisasi material melalui SEM dan XRD juga dapat memberikan data tambahan. Data tersebut dapat membantu tim memahami struktur serta komponen material dengan lebih detail.

Ikan Sapu-Sapu Masuk Konsep Ekonomi Sirkular

Riset ini tidak hanya mengejar pengembangan panel akustik.

Tim juga ingin menunjukkan cara lain dalam menangani persoalan spesies invasif. Mereka memanfaatkan bagian tubuh ikan yang berpotensi menjadi limbah sebagai bahan penelitian.

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular. Konsep ini mendorong masyarakat untuk menggunakan kembali sumber daya dan menciptakan nilai baru dari material yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Dalam konteks penelitian UNAIR, biomassa ikan sapu-sapu menjadi salah satu sumber material alternatif.

Dengan pendekatan tersebut, pengendalian spesies invasif dapat berjalan bersama inovasi lingkungan.

Dari Spesies Invasif Menjadi Material Hijau

Inovasi mahasiswa FST UNAIR menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat melahirkan peluang penelitian baru.

Ikan sapu-sapu tidak hanya menjadi objek pengendalian. Tim juga mengeksplorasi bagian tubuhnya untuk menghasilkan material alternatif.

Pendekatan tersebut membuka peluang pengembangan material hijau berbasis sumber daya lokal.

Zamal menilai pemanfaatan ikan sapu-sapu dapat berkembang lebih jauh melalui penelitian lanjutan.

“Pemanfaatan ikan sapu-sapu tidak hanya menjadi upaya mengatasi spesies invasif, tetapi juga dapat berkembang menjadi inovasi material hijau yang mendukung ekonomi sirkular dan pemanfaatan sumber daya lokal,” tutur Zamal.

Karena itu, tim perlu melanjutkan pengembangan dari sisi karakterisasi material maupun performa akustik.

Penelitian berikutnya dapat menguji komposisi, ketebalan, struktur pori, serta bahan pengikat yang berbeda.

Inovasi Mahasiswa Buka Peluang Riset Berkelanjutan

Program ASCEND 2026 memberi ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan persoalan lingkungan dengan inovasi teknologi.

Dalam riset ini, mahasiswa memanfaatkan biomassa ikan sapu-sapu sebagai bahan panel akustik. Mereka juga menguji kemampuan material tersebut dalam menyerap suara.

Hasil awal menunjukkan potensi pada frekuensi 250 Hz. Namun, tim masih perlu melakukan pengembangan agar material dapat bekerja pada rentang frekuensi yang lebih luas.

Ke depan, penelitian lanjutan dapat memperkuat data mengenai struktur dan performa panel.

Jika pengembangan berjalan konsisten, material dari sisik dan tulang ikan sapu-sapu berpeluang menjadi salah satu alternatif material hijau.

Riset tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengubah persoalan lingkungan menjadi ruang inovasi. Mereka tidak hanya mencari cara untuk mengurangi dampak spesies invasif, tetapi juga mengeksplorasi nilai baru dari sumber daya lokal.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article