Mahasiswa ITPLN Bikin PEATSHIELD, Teknologi AI untuk Deteksi Risiko Kebakaran Gambut

Must read

EDUCARE.CO.ID – Risiko kebakaran lahan gambut meningkat ketika kondisi lahan mengering saat musim kemarau. Persoalan tersebut mendorong mahasiswa Institut Teknologi PLN (ITPLN) mencari pendekatan baru melalui teknologi.

Salah satunya hadir melalui PEATSHIELD, inovasi karya Fahmi Ramadhan. Perangkat ini membaca kondisi lahan gambut secara real time dan membantu mengenali perubahan yang dapat mengarah pada risiko kebakaran.

Berdasarkan keterangan Fahmi Ramadhan, PEATSHIELD memadukan Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Geographic Information System (GIS), serta sensor hidrologi.

Inovasi tersebut juga membawa Fahmi meraih penghargaan Best Disaster Mitigation dalam ajang Semarak Keilmuan Nasional yang digelar Universitas Swadaya Gunung Jati.

PEATSHIELD Baca Kondisi Gambut Secara Real Time

Fahmi merancang PEATSHIELD untuk membaca sejumlah indikator lingkungan pada lahan gambut.

Perangkat tersebut membaca kelembapan tanah, tinggi muka air, suhu lingkungan, dan potensi titik panas. Data dari setiap sensor kemudian masuk ke sistem untuk membantu melihat perubahan kondisi lahan.

Kelembapan tanah menjadi salah satu indikator penting. Ketika tanah kehilangan banyak air, kondisi lahan dapat menjadi lebih kering.

Selain itu, tinggi muka air memberikan gambaran mengenai kondisi hidrologi lahan gambut. Sistem juga memperhatikan suhu dan potensi hotspot sebagai bagian dari pemantauan.

Dengan menggabungkan berbagai parameter tersebut, PEATSHIELD membantu pengguna melihat kondisi lahan secara lebih menyeluruh.

Fahmi menjelaskan bahwa gagasan tersebut muncul dari persoalan kebakaran lahan gambut yang terus berulang.

“Saya ingin menambah pengalaman dan prestasi. Topik yang saya angkat juga sesuai dengan jurusan dan isu yang ramai dibicarakan,” ujar Fahmi.

Gabungkan IoT, AI, dan GIS

PEATSHIELD menggabungkan beberapa teknologi untuk mengolah informasi dari sensor.

Pertama, IoT menghubungkan sensor dengan sistem pemantauan. Melalui koneksi tersebut, perangkat dapat mengirimkan data kondisi lahan secara berkala.

Selanjutnya, AI membantu sistem membaca data yang masuk. Teknologi tersebut dapat membantu mengenali perubahan kondisi lingkungan berdasarkan parameter yang tersedia.

Sementara itu, GIS memberikan informasi mengenai lokasi area yang masuk dalam pemantauan.

Dengan demikian, pengguna tidak hanya memperoleh data kondisi lahan. Mereka juga dapat melihat lokasi area yang mengalami perubahan.

Fahmi menilai kombinasi teknologi tersebut dapat mempercepat proses pemantauan.

“Pengembangannya berbasis AI dan GIS, sehingga memungkinkan pemantauan lahan gambut secara real time. Perangkat yang digunakan juga relatif mudah didapat dan murah,” katanya.

Sensor Pantau Kelembapan hingga Hotspot

Fahmi menempatkan sensor sebagai salah satu komponen utama PEATSHIELD.

Sensor kelembapan membaca kondisi tanah. Sementara itu, sensor lain membantu sistem memperoleh informasi mengenai tinggi muka air dan suhu.

Sistem kemudian menggabungkan data tersebut untuk melihat perubahan kondisi lingkungan.

Selain parameter tersebut, PEATSHIELD juga memperhatikan potensi hotspot. Informasi ini dapat membantu pengguna mengenali area yang membutuhkan perhatian lebih.

Dengan pendekatan tersebut, sistem tidak hanya mengandalkan pengamatan langsung di lapangan.

Petugas dapat memanfaatkan data sensor sebagai informasi tambahan. Data tersebut juga dapat membantu mereka mengambil langkah mitigasi lebih cepat.

Fahmi Pilih Komponen yang Mudah Diperoleh

Dalam proses perancangan, Fahmi mempertimbangkan ketersediaan perangkat di pasaran.

Ia memilih komponen yang relatif mudah diperoleh. Selain itu, Fahmi berusaha menjaga biaya pembuatan agar tetap terjangkau.

Pertimbangan tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan PEATSHIELD. Sistem pemantauan membutuhkan perangkat yang praktis agar pengguna dapat menerapkannya di lapangan.

Komponen yang mudah dicari juga memudahkan proses perawatan. Jika salah satu bagian mengalami kendala, pengguna dapat mencari penggantinya dengan lebih mudah.

Karena itu, Fahmi tidak hanya mengejar kemampuan teknologi. Ia juga memperhatikan aspek biaya dan kemudahan penggunaan.

Riset PEATSHIELD Berlangsung Sekitar Satu Bulan

Fahmi menyelesaikan proses pengembangan PEATSHIELD dalam waktu sekitar satu bulan.

Ia memulai proses dari tahap pendaftaran kompetisi. Setelah itu, Fahmi menyusun esai dan mengembangkan konsep teknologi.

Selanjutnya, ia menyelesaikan karya dan menyiapkan prototipe untuk kompetisi.

Waktu yang singkat membuat Fahmi harus membagi pekerjaan secara efektif. Ia juga perlu memastikan konsep dalam esai sesuai dengan prototipe yang ia bawa.

“Kurang lebih satu bulan prosesnya, dari pendaftaran, pengerjaan esai, sampai pengumpulan karya,” ucap Fahmi.

Pada awalnya, Fahmi sempat meragukan peluangnya untuk masuk 10 besar. Namun, proses tersebut akhirnya membawa PEATSHIELD meraih penghargaan khusus dalam bidang mitigasi bencana.

PEATSHIELD Raih Best Disaster Mitigation

Semarak Keilmuan Nasional mempertemukan peserta dengan berbagai gagasan ilmiah.

Dalam kompetisi tersebut, Fahmi membawa PEATSHIELD sebagai solusi teknologi untuk membantu mitigasi kebakaran hutan dan lahan.

Dewan penilai kemudian memberikan penghargaan Best Disaster Mitigation kepada inovasi tersebut.

Penghargaan itu menjadi salah satu capaian penting bagi Fahmi. Selain itu, kompetisi memberi kesempatan baginya untuk menguji gagasan dan prototipe di hadapan peserta serta penilai.

Fahmi juga memperoleh pengalaman baru dalam menyusun konsep, membangun prototipe, dan menjelaskan manfaat teknologi.

Fahmi Ingin Tingkatkan Akurasi PEATSHIELD

Meski sudah meraih penghargaan, Fahmi melihat PEATSHIELD masih memiliki ruang pengembangan.

Tahap berikutnya akan berfokus pada akurasi sensor. Fahmi juga ingin meningkatkan kemampuan sistem dalam mengolah data.

Selain itu, ia ingin membawa PEATSHIELD lebih dekat dengan kondisi lapangan. Pengujian pada lingkungan nyata dapat membantu melihat kemampuan sistem dalam menghadapi berbagai kondisi.

Fahmi juga membuka peluang untuk mempercepat proses pengembangan dan penerapan perangkat.

“Penerapan inovasi ini masih bisa dikembangkan lebih mudah dan cepat,” katanya.

Pengembangan lebih lanjut dapat membantu PEATSHIELD menghasilkan data yang semakin akurat. Pada saat yang sama, sistem dapat memberikan informasi yang lebih berguna bagi proses mitigasi.

Teknologi Jadi Bekal Mitigasi Kebakaran Gambut

PEATSHIELD menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi untuk menjawab persoalan lingkungan.

Fahmi menggabungkan sensor, IoT, AI, dan GIS dalam satu sistem pemantauan. Setiap teknologi memiliki peran dalam membaca kondisi dan lokasi lahan gambut.

Di sisi lain, sistem tersebut tetap membutuhkan pengujian dan pengembangan lebih lanjut sebelum penerapan secara luas.

Namun, gagasan PEATSHIELD sudah menunjukkan satu hal penting. Data lingkungan dapat membantu masyarakat mengenali perubahan kondisi lahan sebelum risiko berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Melalui inovasi tersebut, Fahmi juga membuktikan bahwa mahasiswa dapat mengambil peran dalam isu mitigasi bencana.

Ke depan, pengembangan teknologi seperti PEATSHIELD dapat membuka peluang baru untuk memperkuat pemantauan lahan gambut. Dengan data yang lebih cepat dan akurat, proses mitigasi juga memiliki dasar informasi yang lebih kuat.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article