EDUCARE.CO.ID – Guru SMK tidak cukup hanya menguasai teori dan keterampilan teknis. Mereka juga perlu mampu melihat peluang dan mengubah kompetensi menjadi sesuatu yang bernilai bagi dunia nyata.
Pesan tersebut muncul dalam Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Kejuruan Berbasis Dunia Kerja Moda Luring Angkatan 4 di BBPPMPV Pertanian Cianjur.
Sebanyak 147 guru SMK mengikuti pelatihan yang mencakup tujuh kompetensi keahlian. Materinya meliputi Bakery & Pastry, Hidroponik Melon, Pengolahan Buah, Anggrek, Penetasan Telur, Hijauan Pakan Ternak, dan Rekayasa Pakan Buatan.
Berdasarkan Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 803/sipers/A6/IX/2026, pelatihan berlangsung selama 120 jam pelajaran (JP).
Rangkaian tersebut terdiri atas 40 JP pembekalan, 70 JP pengalaman langsung di dunia kerja, serta 10 JP untuk uji kompetensi dan sertifikasi.
Guru SMK Perlu Belajar Melihat Peluang
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menilai penguasaan keterampilan perlu berjalan bersama business mindset.
Menurutnya, guru perlu memiliki pola pikir yang mendorong mereka melihat peluang dari kompetensi yang sudah dikuasai.
“Kalau kita punya kompetensi produksi tapi tidak bisa dikomersialisasi itu yang bikin frustasi. Akhirnya kompetensi hanya menutup basa-basi saja,” ujar Atip.
Namun, Atip menegaskan bahwa business mindset tidak sebatas mengejar keuntungan.
Pola pikir tersebut membantu seseorang mencari cara agar kemampuan dan sumber daya yang tersedia dapat menghasilkan manfaat lebih besar.
Kompetensi Pertanian Bisa Berkembang Jadi Bisnis
Dalam bidang pertanian, Atip melihat peluang pengembangan kompetensi sangat luas.
Keterampilan tidak harus berhenti pada aktivitas produksi. Kompetensi tersebut juga dapat berkembang menjadi agribisnis hingga agrowisata.
Karena itu, guru perlu memahami proses secara menyeluruh. Pengetahuan dari tahap produksi hingga pemanfaatan hasil dapat membuka lebih banyak peluang.
Pendekatan tersebut juga relevan untuk pembelajaran di SMK. Guru dapat menunjukkan kepada siswa bahwa keterampilan kejuruan memiliki banyak kemungkinan pengembangan.
Guru Diminta Praktikkan Ilmu di Sekolah
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin menekankan pentingnya praktik setelah mengikuti pelatihan.
Menurut Tatang, upskilling akan lebih bermakna ketika guru membawa pengalaman tersebut ke dalam proses pembelajaran.
“Yang paling penting di samping ngajar coba dipraktikkan. Karena kalau upskilling di sini, lalu pulang dan tidak pernah dipraktikkan di kelas, hanya lihat siswa, itu enggak akan banyak berkembang,” ujar Tatang.
Karena itu, ia mendorong guru segera mengimplementasikan kompetensi yang mereka peroleh.
“Jadi, Bapak Ibu klik dengan ilmu dan kalau bisa diimplementasikan,” katanya.
Guru juga dapat mengembangkan keterampilan tersebut menjadi praktik nyata yang melibatkan peserta didik. Dengan demikian, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga melihat penerapan kompetensi secara langsung.
70 JP Pengalaman Langsung di Dunia Kerja
Pelatihan tidak berhenti pada pembekalan di ruang belajar.
Setelah mengikuti 40 JP pembekalan, peserta akan menjalani 70 JP pengalaman di dunia kerja.
Tahap tersebut memberi kesempatan kepada guru untuk mengenal praktik kerja, proses produksi, serta budaya industri secara langsung.
Selanjutnya, peserta mengikuti 10 JP uji kompetensi dan sertifikasi.
Rangkaian ini membuat guru memperoleh pengalaman yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Mereka kemudian dapat membawa pengalaman tersebut kembali ke sekolah.
Pengalaman Industri Bisa Mengubah Cara Siswa Melihat Pertanian
Kepala BBPPMPV Pertanian Cianjur Joko Ahmada Julifan mengatakan pelatihan berbasis dunia kerja menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi guru kejuruan.
Menurutnya, pengalaman peserta dapat mereka bawa kembali ke satuan pendidikan untuk memperkuat proses pembelajaran.
Bagi Tatang, pengalaman tersebut juga dapat membantu mengubah pandangan siswa terhadap sektor pertanian.
Selama ini, sebagian anak masih melihat pertanian sebagai bidang yang konvensional. Padahal, teknologi dan inovasi membuka banyak peluang baru.
“Kalau kita tunjukkan saya bisa berbuat seperti ini, maka anak-anak itu (berpikir), kok ternyata pertanian itu asik,” kata Tatang.
Karena itu, pengalaman guru di dunia kerja dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan sisi lain dari bidang pertanian kepada siswa.
Dari Keterampilan Menjadi Produk dan Peluang
Pelatihan guru kejuruan berbasis dunia kerja tidak hanya bertujuan menambah keterampilan teknis.
Program ini juga mendorong guru memahami bagaimana kompetensi dapat mereka terapkan dalam kehidupan nyata.
Pengalaman industri dapat masuk ke ruang kelas. Sementara itu, business mindset membantu guru mengajak siswa melihat potensi di balik sebuah keterampilan.
Siswa pun dapat belajar bahwa kompetensi tidak berhenti pada kemampuan membuat atau mengerjakan sesuatu.
Keterampilan dapat berkembang menjadi produk, inovasi, usaha, bahkan peluang baru.
Pada akhirnya, guru SMK memiliki peran penting dalam membentuk lulusan yang siap menghadapi dunia kerja sekaligus mampu membaca peluang.
Dengan kompetensi yang kuat dan pola pikir yang tepat, pembelajaran kejuruan dapat semakin dekat dengan kebutuhan industri dan perkembangan ekonomi masyarakat.


