EDUCARE.CO.ID – Universitas Gadjah Mada (UGM) ikut membantu penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kampus tersebut menyiapkan sejumlah langkah untuk mendukung masyarakat terdampak. Upaya itu mencakup koordinasi, pendampingan mahasiswa, penggalangan bantuan, serta persiapan pemulihan.
Berdasarkan laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM sudah mengirim tim tanggap bencana ke Manggarai.
Tim tersebut membantu menangani korban luka. Mereka juga memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat terdampak.
UGM Siapkan Tim Asesmen Kedua
UGM berencana mengirim tim asesmen kedua untuk melihat kebutuhan penanganan pascadarurat. Sekretaris Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Dr. Djarot Heru Santoso, menyampaikan rencana tersebut.
Tim asesmen akan mengumpulkan informasi dari lokasi bencana. Hasilnya akan membantu UGM menentukan lokasi penempatan relawan.
Data tersebut juga menjadi dasar persiapan KKN Peduli Bencana. UGM memperkirakan program itu berangkat pada September 2026.
Djarot mengatakan UGM sudah menyiapkan 15 kandidat mahasiswa. Mereka siap secara fisik dan mental untuk membantu masyarakat terdampak.
Selain itu, UGM terus berkoordinasi dengan Pengurus Daerah Kagama NTT. Koordinasi tersebut mencakup sejumlah wilayah terdampak.
Wilayah itu meliputi Kabupaten Sikka, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Flores.
“Koordinasi ini sudah dilakukan untuk penyaluran bencana darurat,” ucap Djarot dalam keterangan kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).
UGM Dampingi 47 Mahasiswa Terdampak
UGM tidak hanya membantu masyarakat di NTT. Kampus juga memberikan perhatian kepada mahasiswa yang ikut terdampak bencana.
Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si., menyebut ada 47 mahasiswa UGM yang terdampak gempa di NTT.
UGM membantu kebutuhan dasar mereka selama masa darurat. Salah satunya melalui voucher makan gratis.
Mahasiswa bisa menggunakan voucher tersebut untuk mengambil makanan dua kali sehari di UC Hotel.
Program bantuan makan itu sudah berjalan sejak 21 Agustus 2026. UGM masih melanjutkannya hingga saat ini.
Sementara itu, Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) UGM terus melakukan asesmen. Tim ingin mengetahui kebutuhan setiap mahasiswa secara lebih rinci.
Mahasiswa Siapkan Layanan Pendidikan
Mahasiswa UGM juga mengambil bagian dalam upaya pemulihan masyarakat NTT.
Koordinator Bidang Kemasyarakatan Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, Tegar Zulal Barru, mengatakan pihaknya akan ikut dalam program Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa).
Tegar bersama tim Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Airlangga (Unair) sudah melakukan konsolidasi.
Mereka membahas kebutuhan masyarakat setelah bencana. Pembahasan itu juga mencakup dukungan untuk pemulihan warga.
Salah satu fokus mereka ialah layanan pendidikan bagi anak-anak. Tim ingin menyesuaikan program dengan kondisi sekolah dan lingkungan setempat.
Anak-Anak Hadapi Hambatan Belajar
Kondisi pascabencana turut memengaruhi aktivitas belajar anak-anak di NTT.
Tegar menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih mengalami trauma. Mereka juga masih merasa takut memasuki gedung.
Situasi tersebut membuat aktivitas belajar anak ikut terganggu. Anak-anak membutuhkan ruang belajar yang aman selama masa pemulihan.
Para orang tua pun berharap pemerintah dan berbagai pihak bisa menghadirkan sekolah darurat. Fasilitas tersebut dapat membantu anak tetap belajar dalam kondisi darurat.
Karena itu, tim mahasiswa UGM, ITB, dan Unair tengah menyiapkan bentuk layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan warga.
UGM Dorong Pemulihan Jangka Panjang
Djarot menilai penanganan bencana membutuhkan kerja sama banyak pihak. Satu lembaga tidak akan mampu menghadapi bencana berskala besar sendirian.
UGM pun ingin melanjutkan kontribusinya setelah masa tanggap darurat berakhir. Kampus melihat sektor pendidikan sebagai salah satu bidang yang membutuhkan perhatian.
Selain pendidikan, UGM juga ingin membantu masyarakat menghadapi trauma pascabencana. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian khusus.
Melalui tim tanggap bencana, pendampingan mahasiswa, serta program pengabdian, UGM berupaya menjaga dukungan bagi masyarakat NTT.
Langkah tersebut tidak berhenti pada masa darurat. UGM juga menyiapkan dukungan untuk tahap pemulihan berikutnya.
Kolaborasi antara kampus, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Kerja sama yang berkelanjutan dapat membantu warga kembali menjalankan aktivitas, termasuk pendidikan anak.
Penulis: Putri Faathiman Niara


