EDUCARE.CO.ID – Transisi menuju ekonomi hijau mulai membuka peluang kerja baru di berbagai sektor. Perubahan tersebut juga menghadirkan kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memiliki keterampilan relevan untuk memasuki dunia green jobs atau pekerjaan ramah lingkungan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mengajak mahasiswa Indonesia untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi perkembangan tersebut.
Ajakan itu disampaikan Stella dalam Special Session Green Jobs Ecosystem Forum pada rangkaian Indonesia Sustainability 360 Forum 2026, Kamis (27/8/2026).
Berdasarkan sumber rilis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), kesiapan talenta menjadi salah satu faktor penting agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang yang muncul dari peralihan menuju ekonomi hijau.
Green Jobs Butuh Kemampuan Berpikir dan Adaptasi
Stella Christie menilai pekerjaan di sektor hijau membutuhkan kemampuan kognitif yang kuat. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan baru.
Menurutnya, kemampuan learning to learn akan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.
Mahasiswa juga perlu menguasai keterampilan teknis yang sesuai dengan perkembangan industri. Namun, kemampuan tersebut harus berjalan bersama dengan pendidikan formal dan kemampuan berpikir yang baik.
Stella menekankan bahwa perubahan teknologi dan industri akan terus menciptakan tantangan baru. Oleh sebab itu, generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah.
Kemampuan untuk mempelajari hal baru menjadi salah satu kunci agar seseorang tetap relevan di dunia kerja.
Kampus Perlu Bangun Research Mindset Mahasiswa
Untuk menghadapi perubahan tersebut, Stella mendorong perguruan tinggi memperkuat pola pikir riset atau research mindset di kalangan mahasiswa.
Menurutnya, pola pikir riset tidak berarti setiap mahasiswa harus menjadi peneliti profesional.
Mahasiswa perlu belajar merumuskan pertanyaan yang tepat. Setelah itu, mereka harus mampu mencari jawaban secara sistematis dengan menggunakan data dan logika.
“Berpikiran riset bukan berarti akan menjadi peneliti. Berpikiran riset artinya mampu untuk menanyakan pertanyaan secara tepat dan menjawab pertanyaannya secara sistematis menggunakan data dan logika,” tegas Stella.
Kemampuan tersebut, menurutnya, dapat menjadi fondasi bagi mahasiswa untuk terus belajar sepanjang hidup.
Selain itu, pola pikir berbasis data juga dapat membantu generasi muda mengambil keputusan secara lebih kritis dan terukur.
Mahasiswa Perlu Mengenal Peluang Green Jobs Sejak Kuliah
Stella juga menyoroti pentingnya memberikan exposure kepada mahasiswa mengenai berbagai jenis pekerjaan ramah lingkungan.
Ia menilai mahasiswa perlu mengenal sektor-sektor baru yang memiliki potensi besar dalam perkembangan ekonomi hijau.
Beberapa bidang yang disebut Stella antara lain energi panas bumi atau geothermal dan natural hydrogen.
Menurutnya, sektor-sektor tersebut perlu semakin diperkenalkan kepada generasi muda Indonesia.
Mahasiswa tidak seharusnya baru mengenal peluang kerja setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Sebaliknya, perguruan tinggi dapat memperkenalkan perkembangan industri sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah.
Kolaborasi antara kampus dan industri dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan.
Perguruan tinggi dapat membuka kursus, mengembangkan metode pembelajaran, hingga mengadakan workshop yang berkaitan dengan kebutuhan industri hijau.
“Pintu kita di Kemdiktisaintek sangat terbuka untuk kita membuat kursus-kursus, metode-metode, workshop-workshop di universitas. Jadi jangan nunggu setelah lulus, tapi waktu mahasiswa kita masih belajar,” ujarnya.
Green Jobs Tidak Selalu Berarti Pekerjaan Baru
Sementara itu, Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, menjelaskan bahwa perkembangan green jobs tidak hanya menciptakan jenis pekerjaan baru.
Transisi menuju ekonomi hijau juga dapat mengubah cara kerja pada profesi yang sudah ada.
Sejumlah pekerjaan dapat menjadi bagian dari ekosistem green jobs ketika aktivitasnya mendukung praktik industri yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Profesi seperti teknisi listrik, operator produksi, tenaga pengadaan, hingga petugas keselamatan dan kesehatan kerja memiliki peluang untuk berkembang ke arah tersebut.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa konsep pekerjaan hijau tidak terbatas pada profesi tertentu.
Berbagai sektor dapat ikut beradaptasi dengan kebutuhan ekonomi yang semakin memperhatikan aspek lingkungan.
Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan Talenta Hijau
Pengembangan ekosistem green jobs membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak.
Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan industri, serta lembaga pendidikan dan pelatihan memiliki peran dalam menyiapkan tenaga kerja masa depan.
Selain itu, akademisi, serikat pekerja, dan masyarakat juga dapat ikut mendukung proses transisi menuju ekonomi hijau.
Kolaborasi tersebut penting untuk memastikan tenaga kerja Indonesia memiliki kompetensi yang sesuai dengan perubahan kebutuhan industri.
Perguruan tinggi dapat menyiapkan mahasiswa melalui pendidikan dan pengembangan keterampilan.
Sementara itu, industri dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan nyata di dunia kerja.
Melalui kerja sama yang kuat, peluang ekonomi hijau dapat berkembang sekaligus membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat Indonesia.
Mahasiswa Perlu Mulai Menyiapkan Kompetensi Masa Depan
Perkembangan ekonomi hijau membawa perubahan besar terhadap kebutuhan tenaga kerja.
Generasi muda perlu mempersiapkan diri dengan kemampuan yang tidak hanya relevan untuk kondisi saat ini, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan masa depan.
Kemampuan berpikir kritis, mengolah data, mempelajari hal baru, serta beradaptasi menjadi beberapa bekal yang semakin penting.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu mengenal perkembangan sektor industri yang berpotensi menciptakan lapangan kerja baru.
Melalui penguatan research mindset, keterampilan teknis, dan kolaborasi dengan industri, perguruan tinggi dapat membantu mahasiswa menghadapi perubahan tersebut.
Era green jobs bukan hanya tentang munculnya pekerjaan baru. Transisi ini juga membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Bagi mahasiswa, persiapan tidak perlu menunggu hingga lulus kuliah. Mengenal industri, mengembangkan keterampilan, dan membangun kemampuan belajar dapat dimulai sejak berada di kampus.


