SLOPEX Karya Mahasiswa Unpad Bisa Pantau Risiko Longsor hingga Aktifkan Drainase Otomatis

Must read

EDUCARE.CO.ID – Ancaman tanah longsor mendorong mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) menghadirkan inovasi berbasis teknologi. Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unpad mengembangkan SLOPEX, sistem yang mampu memantau risiko longsor sekaligus menjalankan mitigasi secara otomatis.

Berdasarkan sumber Universitas Padjadjaran, SLOPEX memadukan ilmu geofisika dengan Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta sistem drainase otomatis.

Inovasi tersebut juga berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Karsa Cipta (PKM-KC) Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Tim SLOPEX beranggotakan Jihan Fauziah, Vina Selvia, Josephine Sophie Mathilda Sagala, dan Dhafa Rizi dari Program Studi Geofisika. Muhamad Irsyad Azharul Haq dari Program Studi Teknik Informatika turut memperkuat tim.

Prof. Dr. rer. nat. Yudi Rosandi, S.Si., M.Si. mendampingi pengembangan inovasi tersebut sebagai dosen pembimbing.

SLOPEX Pantau Lereng Secara Real-Time

SLOPEX mengandalkan sejumlah sensor untuk membaca kondisi lereng secara langsung. Sistem ini menggunakan sensor kelembapan tanah dan sensor kemiringan ADXL345.

Sensor mengirimkan data melalui jaringan IoT menuju server. Selanjutnya, AI membaca data tersebut untuk menentukan tingkat risiko pada lereng.

Sistem membagi kondisi lereng ke dalam tiga kategori, yakni aman, waspada, dan bahaya. Perubahan status tersebut menjadi dasar bagi sistem untuk memberikan peringatan kepada pengguna.

Tak berhenti pada pemantauan, SLOPEX juga memiliki mekanisme mitigasi otomatis.

Ketika sensor mendeteksi kelembapan tanah melewati batas tertentu, sistem akan mengaktifkan drainase pintar. Cara ini bertujuan mengurangi kandungan air dalam tanah sehingga risiko terjadinya longsor dapat ditekan.

Pengguna juga dapat melihat kondisi lereng melalui dashboard berbasis website. Sistem akan mengirimkan notifikasi melalui WhatsApp ketika status lereng berubah.

Gabungkan Geofisika, IoT, dan AI

Ketua tim SLOPEX, Jihan Fauziah, menjelaskan bahwa inovasi tersebut lahir dari upaya menggabungkan keilmuan geofisika dengan perkembangan teknologi digital.

“Kekuatan utama SLOPEX terletak pada kolaborasi berbagai bidang ilmu. Menariknya, kami bisa menggabungkan geofisika dengan teknologi digital dalam satu sistem yang saling terhubung,” ujarnya.

Menurut Jihan, tim ingin membangun sistem yang tidak sekadar memberi peringatan. SLOPEX juga dapat mengambil tindakan ketika kondisi lereng mulai menunjukkan risiko.

Karena itu, teknologi IoT menjadi bagian penting dalam rancangan SLOPEX. Sensor mengirimkan data secara real-time sehingga pengguna dapat memantau kondisi lereng dari lokasi berbeda.

AI kemudian mengolah data tersebut untuk menentukan tingkat risiko. Proses ini membantu sistem membaca perubahan kondisi lereng dengan lebih cepat.

Drainase Otomatis Jadi Fitur Mitigasi

Salah satu keunggulan SLOPEX terletak pada kemampuan sistem melakukan mitigasi secara otomatis. Ketika kelembapan tanah meningkat melewati ambang yang telah ditentukan, drainase pintar akan bekerja.

Mekanisme tersebut membantu mengurangi air yang tersimpan di dalam tanah. Dengan begitu, sistem tidak hanya memberi informasi mengenai potensi bahaya, tetapi juga mengambil langkah awal untuk mengurangi risikonya.

Pendekatan ini membuat SLOPEX menggabungkan tiga fungsi utama dalam satu sistem: pemantauan, analisis risiko, dan mitigasi.

Pengguna pun tetap dapat memantau kondisi secara berkala melalui dashboard. Notifikasi WhatsApp memberikan informasi tambahan ketika sistem mendeteksi perubahan status lereng.

Raih Pendanaan PKM-KC 2026

Pendanaan PKM-KC 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menjadi kesempatan bagi tim untuk mengembangkan SLOPEX lebih lanjut.

Dukungan tersebut memungkinkan mahasiswa menguji dan menyempurnakan sistem yang mereka rancang. Tim juga dapat mengeksplorasi pengembangan teknologi agar sistem semakin adaptif terhadap kondisi lapangan.

Ke depan, SLOPEX diharapkan tidak berhenti sebagai proyek kreativitas mahasiswa. Tim ingin mengembangkan inovasi tersebut menjadi alternatif teknologi mitigasi longsor yang lebih terintegrasi.

Jika pengembangan berjalan optimal, SLOPEX berpotensi mendukung upaya masyarakat dalam mengenali perubahan kondisi lereng sejak dini. Teknologi ini sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi geofisika dan teknologi digital dapat menghasilkan solusi untuk persoalan kebencanaan.

Bagi tim SLOPEX, inovasi tersebut menjadi langkah awal untuk menghadirkan teknologi yang dapat memberi manfaat lebih luas dalam upaya mitigasi tanah longsor di Indonesia.

Penulis: Andini Namira Saskirana

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article

spot_img