EDUCARE.CO.ID – Prestasi membanggakan datang dari dunia pendidikan Indonesia. Ibrahim Al Abrar atau Ibra, siswa kelas 6 SD Negeri 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menerima surat apresiasi dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) setelah melaporkan temuan celah keamanan (bug) pada salah satu sistem publik milik lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut.
Pencapaian ini menarik perhatian karena Ibra baru berusia 11 tahun. Ia juga tumbuh di sebuah desa di kawasan pinggiran Waduk Kedungombo, sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Boyolali. Meski demikian, keterbatasan fasilitas tidak menghalanginya untuk mempelajari teknologi secara mandiri.
Belajar Koding Berawal dari Hobi Bermain Gim
Ayah Ibra, Aminudin Salas, mengatakan ketertarikan putranya terhadap dunia teknologi bermula dari kebiasaannya bermain gim di telepon genggam.
Alih-alih melarang, Aminudin justru mengajak anaknya mempelajari cara membuat gim sendiri. Sejak saat itu, Ibra mulai mengenal dunia pemrograman dan mengembangkan kemampuannya secara bertahap.
“Daripada cuma main game, saya tanya apa tidak tertarik belajar bikin game. Dari situ dia mulai belajar koding,” ujar Aminudin, Sabtu (18/7/2026).
Belajar Otodidak dari Internet hingga AI
Sejak duduk di kelas 4 SD, Ibra memanfaatkan berbagai sumber belajar untuk memperdalam kemampuan pemrograman. Ia belajar melalui YouTube, berbagai situs di internet, hingga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dalam enam bulan terakhir, fokus belajarnya beralih ke bidang keamanan siber (cybersecurity). Menurut Aminudin, putranya mempelajari bidang tersebut secara mandiri karena dirinya tidak memiliki keahlian khusus di dunia keamanan siber.
“Kalau saya memang ada basic IT tapi nggak ke cybersecurity. Jadi dia benar-benar belajar secara autodidak, ditambah bantuan tutorial dari teman-teman yang mengenalkan materi kepadanya,” kata Aminudin.
Melihat kesungguhan anaknya, keluarga kemudian memberikan dukungan secara bertahap. Awalnya Ibra belajar menggunakan telepon genggam. Setelah itu, orang tuanya membelikan komputer bekas dan kemudian sebuah laptop agar proses belajarnya semakin maksimal.
Empat Kali Laporkan Bug ke NASA
Keberhasilan memperoleh surat apresiasi dari NASA tidak datang dalam satu percobaan. Ibra tercatat telah empat kali mengirim laporan kerentanan keamanan melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP) milik NASA.
Menurut Aminudin, satu laporan dinyatakan sebagai duplikat, satu laporan ditolak, satu laporan berhasil memperoleh surat apresiasi, sedangkan satu laporan lainnya telah mendapatkan status approve dan masih menunggu tindak lanjut.
Program VDP merupakan mekanisme resmi yang membuka kesempatan bagi peneliti keamanan siber dari berbagai negara untuk melaporkan celah keamanan pada sistem publik NASA. Selanjutnya, tim NASA akan meninjau laporan tersebut agar dapat segera melakukan perbaikan jika temuan terbukti valid.
Prestasi Ibra menunjukkan bahwa semangat belajar, rasa ingin tahu, dan ketekunan dapat membuka peluang besar bagi siapa pun, termasuk anak-anak dari daerah. Kisahnya juga menjadi inspirasi bahwa talenta di bidang teknologi dapat berkembang melalui pembelajaran mandiri dengan dukungan keluarga.



