EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak seluruh sekolah menjadikan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) sebagai awal membangun budaya belajar yang ramah, aman, dan menghargai setiap murid.
Berdasarkan sumber rilis Kemendikdasmen, pesan itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, saat menghadiri kegiatan MPLS di Sekolah Santo Fransiskus, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Menurut Abdul Mu’ti, hari pertama sekolah bukan sekadar agenda perkenalan. Momentum itu menjadi titik awal pembentukan karakter peserta didik.

Sekolah Harus Menjadi Tempat yang Aman
Abdul Mu’ti menilai setiap anak membawa harapan besar bagi masa depan bangsa.
Karena itu, sekolah perlu menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian.
Ia mengajak guru dan tenaga kependidikan menerima setiap murid tanpa membedakan latar belakang, kemampuan, maupun kondisi keluarga.
“Saya merasa sangat berbahagia melihat keceriaan anak-anak. Saya melihat harapan bangsa ada pada mereka,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki potensi yang layak mendapat kesempatan untuk berkembang.
MPLS RAMAH Bangun Pengalaman Belajar Positif
Kemendikdasmen terus mengembangkan konsep MPLS RAMAH di berbagai sekolah.
Program tersebut membantu peserta didik mengenal lingkungan belajar dengan suasana yang nyaman.
Murid juga mendapat kesempatan membangun pertemanan sejak hari pertama sekolah.
Kemendikdasmen berharap setiap sekolah mampu menjadi rumah kedua bagi peserta didik.
Abdul Mu’ti menilai budaya sekolah yang baik lahir dari sikap saling menghormati.
Guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik perlu membangun hubungan yang saling mendukung.
Deep Learning Perkuat Karakter Murid
Kemendikdasmen juga mengembangkan pendekatan Deep Learning.
Pendekatan ini tidak hanya mengajarkan pengetahuan.
Guru juga membimbing peserta didik agar memiliki karakter, empati, dan kepedulian terhadap sesama.
Abdul Mu’ti menilai proses belajar harus melahirkan manusia yang berilmu sekaligus mampu membawa manfaat bagi masyarakat.
Sekolah Santo Fransiskus Terapkan Pendidikan Inklusif
Ketua Yayasan Santo Fransiskus, Romo Vinsensius Darmnin Mbula, mengatakan sekolah menerima seluruh peserta didik tanpa membedakan latar belakang.
Sekolah juga membuka akses pendidikan bagi semua anak.
Menurutnya, setiap murid memiliki hak yang sama untuk berkembang.
Tema MPLS tahun ini mengusung “RAMAH dan Bukalah Pintu Gerbang Kemenangan.”
Tema tersebut sejalan dengan program MPLS RAMAH yang dikembangkan Kemendikdasmen.
Pada tahun ajaran 2026/2027, Yayasan Santo Fransiskus menerima 88 peserta didik baru.
Mereka berasal dari jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan SMK.
Pendidikan Membutuhkan Kolaborasi
Abdul Mu’ti mengajak sekolah, keluarga, dan masyarakat memperkuat kerja sama.
Menurutnya, pendidikan membutuhkan komitmen jangka panjang.
Ia mengibaratkan proses mendidik seperti menanam pohon.
Hasilnya memang tidak langsung terlihat.
Namun, proses yang konsisten akan melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan siap membangun Indonesia.
“Mendidik itu seperti menanam pohon. Menumbuhkannya membutuhkan waktu, tetapi hasilnya akan menentukan masa depan,” kata Abdul Mu’ti.



