EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus meningkatkan kualitas guru vokasi seni dan budaya. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menyiapkan generasi kreatif yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, membuka program Upskilling dan Reskilling Guru Vokasi Bidang Seni dan Budaya Pola Blended–Magang Gelombang 2 di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi agenda pembinaan bagi pegawai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen se-DI Yogyakarta.
Berdasarkan sumber rilis Kemendikdasmen, program ini bertujuan memperkuat kompetensi guru agar pembelajaran vokasi semakin relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Guru Vokasi Perlu Memahami Dunia Industri
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menjelaskan bahwa guru vokasi perlu memahami budaya kerja industri secara langsung. Karena itu, Kemendikdasmen menggabungkan pelatihan dengan program magang.
Menurut Tatang, pengalaman tersebut akan membantu guru menerapkan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Selain itu, guru juga dapat memperkuat pengembangan teaching factory di sekolah masing-masing.
Sebanyak 177 guru dari berbagai daerah mengikuti program gelombang kedua. Kegiatan berlangsung pada 1–29 Juli 2026.
Peserta mengikuti pembelajaran daring, praktik kejuruan, pendalaman materi, serta magang industri. Mereka juga mempelajari pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dalam pembelajaran. Program tersebut mencakup 17 konsentrasi keahlian di bidang seni dan budaya.
Di akhir pelatihan, peserta mengikuti gelar karya dan uji kompetensi.
Pendidikan Harus Membentuk Karakter Bangsa
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya menyiapkan lulusan untuk dunia kerja. Pendidikan juga harus membentuk karakter sekaligus memperkuat peradaban bangsa.
Menurutnya, seni dan budaya memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Seni bukan hanya menjadi ruang berekspresi, tetapi juga membangun identitas, kepekaan, dan karakter peserta didik.
Karena itu, pengembangan pendidikan seni budaya harus berjalan secara seimbang. Pendidikan harus memiliki fungsi edukatif, kreatif, konservatif, dan progresif agar mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya Indonesia.
Teknologi Mendukung, Kreativitas Tetap Milik Manusia
Abdul Mu’ti menilai perkembangan teknologi membuka banyak peluang baru bagi dunia pendidikan. Meski demikian, teknologi tidak dapat menggantikan kreativitas manusia.
Menurutnya, kecerdasan artifisial hanya berfungsi sebagai alat bantu. Sebaliknya, proses berpikir kreatif, olah rasa, dan penciptaan karya tetap menjadi keunggulan manusia.
Karena itu, guru vokasi perlu menguasai teknologi sekaligus mengembangkan kreativitas. Kombinasi tersebut akan menghasilkan pembelajaran yang lebih inovatif dan relevan.
SMK Seni Budaya Harus Percaya Diri
Mendikdasmen juga mengajak seluruh pemangku kepentingan meningkatkan kepercayaan diri peserta didik SMK.
Ia menegaskan bahwa sekolah vokasi seni dan budaya mampu melahirkan karya berkualitas. Bahkan, karya tersebut dapat bersaing di tingkat internasional apabila sekolah terus memperkuat kualitas pembelajaran.
Kemendikdasmen pun berkomitmen mendukung pengembangan sekolah vokasi agar semakin kompetitif.
Guru Rasakan Manfaat Pelatihan
Perwakilan peserta, Zirwen dari SMK Negeri 4 Padang, Sumatera Barat, mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti pelatihan.
Menurutnya, kegiatan tersebut meningkatkan kompetensi mengajar sekaligus mendorong kreativitas dalam menghasilkan karya. Ia juga berencana membagikan pengalaman tersebut kepada peserta didik setelah kembali ke sekolah.
Dengan demikian, murid tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual.
Komitmen Perkuat Pendidikan Vokasi

Seluruh peserta menutup kegiatan dengan menyanyikan lagu Hari Baru, karya Abdul Mu’ti. Momen tersebut menjadi simbol semangat baru dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi seni dan budaya di Indonesia.
Melalui program ini, Kemendikdasmen ingin melahirkan guru yang lebih adaptif, kreatif, dan siap menghadapi perubahan. Guru yang kompeten diharapkan mampu mencetak lulusan SMK yang inovatif, produktif, dan memiliki daya saing global.




