EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) kembali membuka Beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia (BPDDI) Tahun 2026. Program ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan kualifikasi akademik dosen sekaligus memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa dosen memegang peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi, pengembangan ilmu pengetahuan, serta lahirnya berbagai inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Dosen merupakan aset terbesar pendidikan tinggi. Karena itu, kami berharap para dosen dapat segera melanjutkan studi doktor dan meningkatkan kapasitas akademiknya,” ujar Brian Yuliarto saat membuka Webinar Sosialisasi BPDDI 2026 pada 19 Juni 2026.
Perguruan Tinggi Dalam Negeri Semakin Siap
Menurut Menteri Brian, banyak perguruan tinggi di Indonesia kini telah memiliki program doktor dengan fasilitas dan kualitas yang terus berkembang. Kondisi tersebut membuka peluang lebih besar bagi dosen untuk melanjutkan pendidikan jenjang doktor tanpa harus selalu memilih studi di luar negeri.
Karena itu, pemerintah mendorong para dosen memanfaatkan beasiswa yang tersedia untuk memperkuat kompetensi akademik sekaligus meningkatkan produktivitas penelitian.
Ribuan Dosen Sudah Menjadi Penerima BPDDI
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAPT) Kemdiktisaintek, Sandro Mihradi, menjelaskan bahwa program BPDDI yang mulai berjalan pada 2025 telah memberikan manfaat kepada 1.269 dosen dari berbagai daerah di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 848 dosen menempuh studi doktor di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), sedangkan 421 dosen mengambil bidang non-STEM.
Penerima BPDDI juga berasal dari berbagai jenis perguruan tinggi. Sebanyak 672 penerima merupakan dosen perguruan tinggi negeri (PTN), sementara 597 lainnya berasal dari perguruan tinggi swasta (PTS). Selain itu, program ini turut mendukung 150 dosen dari politeknik.
Sandro menilai program tersebut mampu memperkuat kapasitas sumber daya manusia pendidikan tinggi sekaligus mendukung pengembangan sains, teknologi, inovasi, dan hilirisasi riset di Indonesia.
Dua Skema Beasiswa BPDDI 2026
Pada tahun 2026, BPDDI kembali terbuka bagi dosen tetap yang berada di bawah koordinasi Kemdiktisaintek dan ingin melanjutkan pendidikan doktor.
Program ini menawarkan dua skema utama:
1. Skema Reguler
Skema ini ditujukan bagi dosen yang menempuh studi doktor di perguruan tinggi dalam negeri. Program dapat diikuti oleh mahasiswa baru maupun mahasiswa yang sedang menjalani studi hingga semester tiga.
2. Skema Joint Degree atau Dual Degree
Melalui skema ini, dosen dapat menjalani pendidikan doktor melalui kerja sama perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri. Pendanaan diberikan dengan durasi maksimal empat tahun.
Seleksi Menggunakan Tes Bakat Skolastik
Kemdiktisaintek juga melakukan penyempurnaan proses seleksi pada BPDDI 2026. Salah satu perubahan penting ialah penerapan Tes Bakat Skolastik (TBS).
Tes tersebut bertujuan mengukur kemampuan akademik, daya nalar, dan kemampuan berpikir analitis calon penerima beasiswa. Selain TBS, peserta juga harus mengikuti seleksi administrasi dan wawancara substansi.
Biaya Pendidikan hingga Hidup Ditanggung
BPDDI tidak hanya menanggung biaya kuliah. Program ini juga menyediakan dukungan pendanaan yang cukup lengkap untuk mendukung kelancaran studi penerima beasiswa.
Fasilitas yang diberikan meliputi biaya pendaftaran, bantuan penelitian atau disertasi, insentif publikasi jurnal internasional, biaya hidup bulanan, transportasi, asuransi kesehatan, hingga bantuan untuk kondisi darurat.
Kemdiktisaintek juga menyediakan dukungan khusus bagi dosen penyandang disabilitas, termasuk pembiayaan pendamping selama masa studi.
Perkuat Ekosistem Riset Nasional
Melalui BPDDI 2026, pemerintah berharap semakin banyak dosen Indonesia mampu meraih gelar doktor dan berkontribusi lebih besar dalam pengembangan pendidikan tinggi.
Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, program ini juga diharapkan memperkuat kapasitas riset, mempercepat lahirnya inovasi, dan meningkatkan daya saing perguruan tinggi Indonesia di tingkat global.



